Appetizer



Menulis Bukanlah Tuntutan
By: Daroni

Kembali kita pada filosofi lama “Tak Kenal Maka Tak Sayang”.  Dari ungkapan tersebut, terlebih dahulu saya akan membahas tentang pengertian menulis.  Menurut wikipedia menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.  Sedangkan akademik menurut wikipedia adalah suatu institusi pendidikan tinggi, penilaian, atau keanggotaan.


Definisi sederhana dari academic writing sulit didapat karena mengacu pada tulisan yang dilakukan karena beberapa alasan.  Penulisan akademik juga digunakan dalam berbagai bentuk.  Definisi luas dari penulisan akademik adalah setiap tulisan dilakukan untuk memenuhi persyaratan dari perguruan tinggi atau universitas.  Penulisan akademik juga digunakan untuk publikasi yang dibaca oleh guru dan peneliti atau dipresentasikan di konferensi.  Sebuah definisi yang sangat luas penulisan akademik dapat mencakup tugas menulis yang diberikan dalam suasana akademis.

Dalam artikel yang berjudul “(Bukan) Bangsa Penulis (A. Chaedar Alwasilah, Pikiran Rakyat, 28 Februari 2012), pak Chaedar mengemukakan bahwa seorang mahasiswa dan dosen dituntut untuk bisa menulis tulisan akademik yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.  Di artikel ini tulisan pak Chaedar lebih menitik beratkan kepada dosen.  Pak Chaedar juga menghimbau supaya dosen mampu menulis jurnal, dan yang tidak bisa menulis sebaiknya jangan bermimpi menjadi dosen! Sungguh menyayat hati memang ungkapan dalam tulisan itu, tapi itulah kenyataanya.  Seorang dosen harus mampu mengubah skripsi, tesis, dan disertasi menjadi artikel jurnal.

Sedangkan untuk mahasiswa Indonesia, pak Chaedar menghimbau agar mahasiswa itu bisa menulis tulisan academic writing yang berupa skripsi, tesis, atau disertasi sesuai dengan tingkatan akademiknya (S-1, S-2, atau S-3).  Berbeda dengan perguruan-perguruan tinggi di AS yang memaksa mahasiswa banyak menulis esai seperti laporan observasi, ringkasan bab, reviu buku, dan sebagainya. Dalam pembuatan skripsi ilmu sosial bisa mencapai 100 halaman, tesis 200 halaman, dan disertasi 400 halaman.  Tapi di sini juga mahasiswa dituntut untuk tidak melakukan tindakan pelecehan intelektual, karena paksaan membuat tulisan akademik.  Misalnya dalam penulisan skripsi, tesis, maupun disetasi yang enggan menuliskan sumber-sumber tulisan yang diperoleh.

Sedangkan dalam artikel yang berjudul “Powelful Writers Versus the Helpless Readers” (A. Chaedar Alwasilah, Jakarta Pos, 14 Januari 2012), pak Chaedar mengemukakan bahwa “Jika mahasiswa tidak memahami teks yang mereka baca, apa alasannya?” sebagian besar mereka mengatakan bahwa mereka tidak memiliki latar belakang membaca yang tepat, keahlian penulis sangat tinggi, angka tersebut masih di luar kapasitas mereka sebagai pelajar atau mahasiswa baru, retorika itu terlalu rumit, atau mereka tidak bisa berkonsentrasi ketika membaca.

Di artikel kedua ini, pak Chaedar lebih menitik beratkan untuk menjadi seorang yang kritis dalam bacaan yang mereka baca selama inni.  Sebagian besar para pembaca merespon bacaan, retorika itu terlalu rumit.  Padahal yang membuat rumit itu si pembaca sendiri yang tidak mau membaca, sehingga ia dangkal akan pengetahuan retorika tersebut.  Ada juga yang merespon tidak memiliki latar belakang membaca yang tepat.  Sebenarnya membaca itu tidak harus memiliki latar belakang membaca yang tepat, karena semua yang belum dipahami atau diketahui bisa kita pelajari.  Seperti ungkapan “Ada kemauan, pasti ada jalan”.

Berbeda dengan artikel ketiga yang berjudul “Learning and Teaching Process: More about Readers and Writers” (C W Watson, Jakarta Pos, 11 februari 2012).  Di artikel ini lebih menitik beratkan pada mengkritik kedua artikel pak Chaedar di atas.  Watson mengekpresikan opini atau kritikal dari kedua artikel pak (Chaedar yang berisiko memprovokasi kemarahan pembaca Indonesia.  Pendapat Watson dalam mengkritisi kedua artikel pak Chaedar di atas adalah bahwa kurikulum di Indonesia gagal mencetak pengajar-pengajar dan peserta didik untuk mencintai dunia sastra.  Di mana dunia satra erat  kaitannya dengan retorika bahsa yang mampu mempengaruhi para pembaca, pendengar, maupun penulis untuk berkarya.  Setidaknya berkarya untuk diri sendiri dengan mengembangkan pengetahuan retorika bahasa, atau bahkan memperbaiki kurikulum yang ada di indonesia sekarang.

Di sini Watson mengajak bekerjasama untuk memperbaiki kurikulum yang ada di Indonesia secara berssama-sama.  Dengan tujuan untuk mencerdaskan manusia, agar tidak tertindas zaman.  Dalam artikel ini Watson memperkenalkan untuk menterjemahkan Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, begitupun sebaliknya dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.  Selain memperkenalkan itu, beliau juga memperkenalkan drama dari keindahan sastra.  Dia memperkenalkan itu semua dengan tujuan tidak lebih dan tidak kurang hanyalah untuk mengajak pengajar dan pelajar mencintai budaya membaca dan menulis, tapi tidak hanya itu saja.  Dia juga mengajarkan untuk menjadi seorang pembaca yang kritis, bukan hanya sekedar membaca terus dilupakan.

Dari ketiga artikel itu dapat ditarik kesimpulan bahwa baik pengajar maupun pelajar harus mampu menulis dan menjadi pembaca yang kritis.  Dengan menjadi seorang pengajar maupun, diharapkan mampu juga memperbaiki kurikulum yang ada saat ini di negara tercinta kita, yaitu Indonesia.  Mendidik untuk berkarya, mengapresiasi karya orang lain dengan tidak melakukan tindakan pelecehan intelektual.

Ketika artikel tersebut memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri.  Perbedaan artikel pertama lebih memusatkan pembahasan tentang menulis tulisan akademik.  Sedangkan pada artikel kedua, penulis lebih memfokuskan pembaca untuk menjadi seorang pembaca yang kritis.  Artikel ketiga juga memiliki perbedaan sendiri dari artikel pertama dan artikel kedua.  Artikel ketiga ini lebih termasuk ke dalam jenis artikel kritikal.  Dlam artikel ini, penulis mengkritisi atau artikel pertama dan artikel kedua.

Menulis dan membaca erat kaitannya, mereka saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama lainnya.  Membaca adalah wahyu pertama kali yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan menulis adalah ilmu yang tidak ada matinya, seperti kata Pramoedya “Aku menulis, maka aku ada”.


Comments
0 Comments

0 comments :

Post a Comment