Class Review 4: Perjuangan itu Belum Berakhir



PERJUANGAN INI BELUM BERAKHIR
By: Daroni

Sudah satu minggu yang lalu saya tidak meluapkan isi hati melaui secarik kertas putih, menuangkan segala resah yang ku rasakan.  Saya sadar bahwa tulisan terkadang lebih jujur dari perkataan dan jika itu bisa lebih mewakilkan, izinkan lewat tulisan ini saya berkata jujur.  Berbicara namun tak bersuara, hanya menggambarkan lewat kata.  Mencoba masuk dalam dunia imajinasi setiap pembaca.  Aku berbicara lewat tulisan, dunia yang hening namun hidup.
Sepi, ya. . . aku membutuhkan tempat yang sepi untuk bercengkrama dengan inspirasi-isnpirasi yang akan ku temui.  Seperti kata Budi Herrmawan “Berkariblah dengan sepi, sebab dalam sepi ada (momen) penemuan dari apa yang dalam riuh gelisah dicari. Dalam sepi ada berhenti dari menerima ramainya stimulus yang memborbardir indera kita. Stimulus yang harus dipilah dan dipilih satu satu untuk ditafakuri, lalu dimaknai, dan dijadikan berguna bagi kita. Bila tidak mereka hanya dengungan yang bising di kepala saja tak mengendap menjadi sesuatu yang mengizinkan kita memahami dunia di sekitar kita (sedikit) lebih baik.  Berkariblah dengan sepi, sejak dalam sepi kita menemukan diri yang luput dari penglihatan dan kesadaran ketika beredar dalam ramai; dalam sepi kita dapat melihat pendaran diri yang diserakkan gaduh, mendekat, lalu merapat, membentuk bayang jelas untuk dilihat tanpa harus memuaskan keinginan yang lain.  Berkariblah dengan sepi karena dalam sepi berlalu lalang inspirasi yang tak kita mengerti, atau tak dapat kita tangkapi ketika kita sibuk berjalan dalam hingar yang pekak.  Berkariblah dalam sepi sebab dalam sepi suara hati lebih nyaring terdengar jernih.”
0 comments

Critical Review 2: Terkuaknya Sejarah



TERKUAKNYA SEJARAH
By: Daroni

Bumi serta segala isinya merupakan bidang kajian yang menarik perhatian para ilmuwan Islam di era keemasan.  Peradaban Islam terbukti lebih awal menguasai ilmu bumi dibandingkan masyarakat Barat.  Ketika Eropa terkungkung dalam kegelapan dan masih meyakini bahwa bumi itu datar, para sarjana Muslim pada abad ke-9 M telah menyatakan bahwa bumi bundar seperti bola.  Para ilmuan mulai dari India kuno, Yunani kuno, dan Eropa dan Arab di zaman pertengahan menjelang Renaissanse.  Menariknya justru China tidak menemukan bahwa bumi itu bulat, namun menurut China, bumi berbentuk persegi dan langit berbentuk bulat.
0 comments

Class Review 3




JUNJUNG TINGGI PERADABAN LITERASI !!
 ( By: Ade Puadah)

Menulis, satu memo yang akan mengenangkan keabadian yang akan datang. Menutup pagar longgar yang berduri, saat semua hanya tinggal kenangan, maka tulisan menjadi sebuah keabadian untuk dikenang.
0 comments

Class Review 3: Dunia Literasi


Class Review 3
                                                                                                            Rabu 19 Febuari 2014
Dunia Literasi

            Rabu 19 Febuari 2014 adalah hari dimana aku beserta prajurit-prajurit yang lain kembali mengikuti pelatihan dunia Writing 4, yang di pimpin oleh Mr. Lala Bumela. Hmmmm sepertinya ada yang beda? Kenapa hari rabu? Lalu hari senin kemana? Pertanyaan satu persatu akan terkupas dalam tulisan ini dengan tuntas.
0 comments

Class Review 3: Mengarungi Budaya Literasi

Mengarungi Budaya Literasi
Apif Rahman Hakim
Kendala! Ya, itulah yang terjadi pada pertemuan yang ketiga ini.  Seharusnya pada pertemuan yang ketiga ini Mr. Lala Bumela dijadualkan mengisi kuliah pada mata kuliah writing and composition 4, pada hari senin tanggal 17 februari 20014.  Tetapi dikarenakan pada hari dan tanggal itu ada kendala pada roda perkuliahan tepatnya di kelas PBI A, oleh karenanya ada pergantian hari yaitu hari rabu 19 februari 20014.
0 comments

Class Review: Rekayasa Sebuah Keharusan



3rd Class Review
Rekayasa Sebuah Keharusan
(Oleh Fatimah)
            Masih berputar pada lingkaran litersai, kususnya rekayasa literasi. Perteuan kali ini membahas tentang buah pemeikiran dari pak A. Chaedar yang berjudul Rekayasa Literasi. Ketika membaca judul tersebut saya bertanya-tanya apa sebenarnya rekayasa literasi dan untuk apa literasi di rekayasa.
0 comments

Class Review 3: Semua Dapat Dikabulkan, Tanpa Kantong Ajaib



Semua Dapat Dikabulkan, Tanpa Kantong Ajaib
Oleh Hadi Wibowo

Langkah yang jauh telah tertempuh untuk mengarungi lebatnya rimba hutan pengetahuan. Meski lelah, letih, lesu, lunglai, lamban, dan lapar tapi harus dilalui dengan segenap hati. Perjuangan yang kita ambil untuk menggapai ilmu tidaklah sia-sia karena memang fitrah kita sebagai manusia adalah untuk mencari ilmu sehingga seberapa pun jauhnya harus kita tempuh.
0 comments

Class Review 3: Writing Marak diperbincangkan



3rd Class Review
Writing Marak diperbincangkan
(by Dewi Patah Andi Putri)
Seperti pepatah mengatakan “dimana ada gula disitu ada semut”, begitupun sama halnya dengan writing 4 “dimana ada gerombolan mahasiswa semester 4 disitu terselip kata writing”.  Writing 4 kini menjadi trending topic dikalangan mahasiswa PBI semester 4.   Hampir setiap hari kata writing tak henti diperbincangkan.
0 comments

Class Review 3




“Garam Bahasa”
{DIANA}
            Garam merupakan salah satu bahan pokok sebagai bumbu dalam memasak. Beuntuknya Kristal, kecil, berwarna putih dan rasanya asin mampu menggugah rasa masakan menjadi istimewa dan nendang di lidah. Tanpa garam masakan tidak tercipta karena semua masakan membutuhkan garam. Seistimewa appun masakan yang kita buat tidak mampu tanpa garam tidak mampu menggoyahkan lidah.
0 comments

Class Review 3: Menuju Kualitas Literasi yang Tinggi

Menuju Kualitas Literasi yang Tinggi
(By: Iiz Lailatus Saidah)

Teamwork harus dibangun atas dasar kekompakan yang utuh. Kekompakan ditandai dengan kuatnya hubungan antara anggota tim. Kekompakan itu dilandasi dengan komunikasi, meliputi kelancaran komunikasi tepat dan akurat, menyampaikan informasi informasi dan saling terbuka itu salah satu cara untuk membangun kekompakan. Selain komunikasi, respect satu sama lain pun penting yaitu ketika seseorang berbicara didepan kita harus respect dengan cara mendengarkan dan memperhatikannya. Kesiapan menerima tantangan juga kegigihan dan ketekunan bekerja dalam meningkatkan kekompakan. Kerja sama meliputi kemampuan memahami komitmen, kepercayaan, penyelesaian masalah bersama, kejelasan tujuan, memberi dukungan dan motivasi serta mengakui kesalahan.
0 comments

Class Review 3: Dunia Rekayasa Literasi



3rd Class Review
Dunia Rekayasa Literasi
(by: Fitria Dewi)
Masih dalam dunia rekayasa literasi, rekayasa literasi di dunia ini sebenarnya msih banyak yang harus diperbaiki, terutama literasi di negara kita ini karena kita tidak bisa menutup mata dengan keadaan literasi yang ada di negara kta sendiri.  Negara Indonesia ini masih sangat rendah sekali sistem dan kualitas pendidikannya, terutama dengan pendidikan literasinya.
0 comments

Transisi Kehidupan yang Berliterasi (Class Review 3)



Transisi Kehidupan yang Berliterasi
Author : Dwi Arianti

Rabu siang, 19 Februari 2014 merupakan pertemuan ketiga dengan mata kuliah Writing 4. Pertemuan ini adalah awal menuju pertarungan yang sebenarnya. Pertarungan diri dengan 2500 kata yang masih menjadi rahasia. Dengan berbekal ribuan kata bahasa Inggris yang tersuguhkan pada artikel yang berjumlah tiga halaman, saya dituntut untuk mampu menemukan 2500 kata rahasia yang tak tahu kapan datangnya. Semua itu, harus direkayasa menjadi 2500 kata yang indah yang penuh makna.
0 comments

Class Review 3: Saatnya Melek Literasi



3rd  Class Review
Saatnya Melek Literasi
By Hanifatus Sholihah

Pada pertemuan ketiga ini, kita tidak belajar dihari yang seperti biasanya. Kita berjumpa dengan Mr.Lala pada hari rabu, tanggal 19 Februari 2014. Ini semua dapatterjadi diakibatkan oleh ulah kita sendiri dan kekurangaktifan kita saat di kelas.
0 comments

Class Review 3: Malas Itu; Ya Bodoh, Ya Miskin



3rd  Class Review
Malas Itu;
Ya Bodoh, Ya Miskin
(by. Endah Jubaedah)
Diduga malas membaca, pengumpulan informasi terasa “cekak” dan pengembangan daya berpikir tersendat.  Terduga telah malas menulis, kemampuan nalar yang logis perlahan menurun.  Sang penduga yang malas membaca dan menulis, menenggelamkan kesempatan lalu tenggelam dalam  ilmu pengetahuan yang minim dan terhempas dengan ketidaktahuan.  Malas oh malas, mematikan! Tak dapat dihitung jari berapa jumlah korban yang “mati” karena kemalasan; bukan ia yang kehabisan tarikan nafas di paru-paru, namun ia yang hidup tapi hanya diam menggendong rasa malas tinggi-tinggi (madesu: masa depan suram).
0 comments

class review 3: Academic Writing: Satu Aksi Banyak Arti



Academic Writing: Satu Aksi Banyak Arti
(By: Alifah Rohmatilah)
“Tentang hari yang tak pernah meninggalkan bulan, tentang kita yang tidak pernah terlepas dari genggaman. Aku dan kamu bagaikan bumi dan langit yang saling menyatu dan berguna satu sama lain. Aku ibarat penggerak bumi dan langit, kamu (pena dan kertas) seperti kilauan cahaya penghias jagat raya ini. Kita adalah satu, bekerja sama dalam satu bentuk aksi untuk tetap menjaga kilauanmu wahai lembar-lembar yang berarti.” 
Menghitung waktu (hari dan minggu) tentang academic writing, ternyata sudah memasuki pertemuan yang ketiga di bulan februari ini. Waktu yang mulai melaju, suasana yang mulai memanas, serta tantangan demi tantangan terus berdatangan. Satu langkah terlewati, ternyata harus segera melewati tiga langkah selanjutnya. Rabu adalah hari yang telah mempertemukan kembali saya dan kawan-kawan dengan Mr. Lala dalam mata kuliah writing 4.
0 comments

class review 3



Citarasa Baru Dalam Menulis
(By: Fitriatuddiniyah)

            Ibaratkan sebuah kapal laut yang sedang berlayar mengarungi dunianya, namun seketika dia hampir tidak bisa berlayar lagi untuk mengarungi perjalanannya dalam menggapai pulau impiannya.  Banyak hal yang membuatnya terpaku.  Mungkin karena mesinnya yang tak lagi gesit, atau mungkin karena awak kapal yang belum pandai berpegangan erat satu sama lain dan kurang bekerja keras.  Namun, dengan harapan yang teguh, usaha yang membuat  jantung dan hati ini berdetak lebih cepat, dan fikiran yang berputar lebih jernih.  Akhirnya, kapal laut itu kembali berlayar pasti.
            Rabu siang tepatnya, kita kembali mengarungi luasnya ilmu, khususnya writing.   “Coming with a torch, not a bucket”, harmoni kata yang Mr. Lala lantunkan untuk kami.  Artinya, beliau memberikan apinya, sedangkan kami harus mampu menjaga torch itu untuk tetap menyala dan berkobar, begitu pun dengan kualitas akademik kami.
0 comments

3rd Class Review



Berliterasi Ria dengan Academic Writing
Kembali ke jornada ketiga Academic Writing League membuat persaingan semakin ketat dan memanas. Api persaingan begitu mengobar besar di jagat pertandingan ini. Adu tulis dan baca begitu membara di kalangan pemain-pemainnya. Setiap tim memacu kecepatannya lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka  bersaing merebut posisi teratas liga ini sebagai the best team. Setiap pemain pun bersaing ketat dalam individunya agar menjadi man of the match atau top player di liga ini. Begitu pula dengan PBI A Writing Club, kami tak ingin tertinggal jauh apalagi terdegradasi dari klasemen Academic Writing League. Oleh karena itu, kami memutar volume semangat kami menjadi full 100% on fire! Fresh mind pun siap disuguhkan untuk menangkap bola-bola writing yang hangat.
Seakan terkena kartu merah saat pertandingan di mulai, kami merasakan kelalalian amat besar yang telah kami lakukan. Keseriusan dalam bertanding pun dipertanyakan sang pelatih. Namun, kami berusaha sekeras mungkin untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kami. Setelah semuanya dapat terselesaikan, kami pun bangkit dan tiba-tiba muncullah kembali momen yang memikat para pemain di  Academic Writing  Leage. Di pertandingan kali ini, kami tak ingin tertinggal peringkat dari tim-tim lainnya. Kami berambisi mendapatkan poin penuh dan mampu menggusur jauh tim-tim lain di jagat persaingan ini. Dengan latihan maksimal dan persiapan yang matang, kami siap bertanding whereever we are!
0 comments

3rd Class Review : I am Proud To Be Here


I am Proud To Be Here
(Author : Asy Syifa Rahmah Ihsani)

Rabu, 19 Februari 2014
Saya masih bertahan di Writing 4 ini.  jari – jari yang lelah, mata menghitam dan isi kepala yang terus – terusan diperas.  Do you give up?  jelas saya akan menjawab pertanyaan itu dengan lantang No I don’t!  justru di writing 4 inilah saya merasa dimanusiakan, saya merasa benar –benar menjadi mAHAsiswa dan yang lebih hebat writing 4 ini membuat saya bangga mengenyam pendidikan Bahasa inggris di sini (baca The State institute For islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon).
0 comments

class review 3



Yuk, Lirik Fenomena Literasi!!!
(Author: Endang Siti Nurkholidah)
            Masih berkutat dalam dunia yang memiliki elegansi tinggi dan sangat fenomenal sekali. Dunia literasi katanya! Memang ketika berbicara tentang literasi tidak akan pernah habis. Kata literasi selalu booming di telinga kita ini. Mengapa demikian? Karena sampai kepanpun literasi tidak akan pernah hilang tertelan peradaban yang semakin canggih.
Budaya literasi bisa diawali dengan minat membaca yang tinggi, karena minat baca sangat berpengaruh bagi minat menulis seseorang. Orang yang senang membaca presentase menulisnya pun lebih besar dari pada yang minat bacanya rendah. Seorang penulis bersumber dari apa yang dialami langsung dan apa yang dia baca. Jika salah satunya tidak ada maka untuk menuju kearah menyukai menulis itu menjadi kecil kemungkinan, apalagi menjadi penulis yang berkualitas.
0 comments

3rd Class Review : Be Good Education with Literacy Engineering



Be Good Education with Literacy Engineering
(By. Aneu Fuji Lestarie)
Senin, 17 Februari 2014 bukanlah hari keberuntungan warga PBI-A.  Kala itu hujan dan gemuruh petir yang menghiasai hati kita.  Harapan itu seakan hilang dan mungkin tak akan kembali.
Kejadian itu terulang kembali, kejadian yang mengingatkanku pada mata kuliah writing 2.  Permasalahan yang berbeda dengan kesalahan yang sama yaitu ‘ketidak kompakan’ kita dalam mencapai satu tujuan yang sama.  Seharusnya hal ini tak terulang kembali, namun rasa keegoisan dari masing-masing inividulah yang mengakibatkan hal ini terjadi lagi.
0 comments

Class Review 3


Berliterasi Untuk Kemajuan Bangsa
Author: Ida Fauziyah

Matahari siang itu tidak terlalu panas. Namun, hari itu kami begitu lelah karena begitu sibuk dengan jadwal pagi sampai sore. Pertemuan pagi itu tidak seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, karena kami bertemu di lain hari dngan Mr. Lala.
0 comments

Class Review 3



Susahnya Menjadi Orang Yang Berliterat
By: Atin Hartini

Pagi yang cerah, suara burung pun berkicau riang, aku hirup udara segar terlihat embun yang menyapa dibalik jendela, sepertinya hari ini akan cerah.Kembali saya memulai aktifitas saya untuk menuliskan sebuah kata-kata atau ilmu di atas kertas putih ini. Pada tanggal 17 Februari 201, tepatnya pukul 09.10 adalah pertemuan ketiga dengan Mr.Lala dalam mata kuliah writing. Setelah beliau masuk ke kelas PBI-A, tiba-tiba terjadi hal yang tidak di inginkan. Kami menyadari bahwa masalah itu terjadi karena kesalahan kami sendiri. Hari itu hari yang yidak menyenangkan bagi kami. Sesuatu yang tidak kami harapkan tiba-tiba terjadi. Itulah sedikit curhatan yang dapat saya ukir diatas kertas putih ini.
Daripada galau, langsung saja kita membahas materi yang dijelaskan oleh Mr.Lala. Minggu kemarin masih terkait dengan literasi. Tentunya pasti kita masih ingat apa itu literasi. Literasi itu terkait dengan praktek yang meliputi empat bidang, yaitu bidang sosial, bidang politik, bidang ekonomi dan bidang psikologi. Keempat bidang itu mencakup culture dan peradaban kemajuan zaman di era globalisasi. Untuk menjadi orang yang berliterat itu sangat susah, apalagi menjadi multilingual writer. Pengertian multilingual writer ialah penulis multi bahasa yang juga berfungsi sebagai pembaca kritis dikedua bahasa. Multilingual ini juga menunjukkan tingginya literasi seseorang dalam baca-tulis. Seorang multilingual writer tentunya sudah bisa menghasilkan karya sastra yang berkaitan dengan vitality. Vitality merupakan daya hidup seseorang. Seorang yang multilingual writer tentunya sudah bisa berliterasi. Dalam rekayasa literasi, literasi ini berhubungan dengan readers dan writers atau bacaan dan tulisan.
0 comments

Class Review 3



LEBIH DALAM MEMAHAMI LITERASI
By: Dian Eka Indriyani

Ini menjadi awal dimester 4 untuk tidak mengikuti mata kuliah writing, bukan gimana dan bagaimana keterpaksaan yang membuat saya harus merelakannya bukan karena saya acuh atau apa pun, setiap manusia memiliki rencana namun Allah yang berkehendak menurut saya hanya itu yang dapat saya katakan hendak dipahami oleh mereka-mereka atau tidak rasanya sudah tak bisa saya hiraukan lagi. Sejauh ini mungkin masih di ambang kewajaran bagi saya, selama tidak ada yang membuatnya fatal maka saya membiakan itu terjadi.
            Suatu ketika pasti ada jalan bagi saya untuk memahami apa tang menjadi ketertinggalan saya maka itu yang terpenting adalah usaha untuk mendapatkannya, berusaha untuk mengejar ketertinggalan saya agar tidak semakin jauh dibelakang. Kemudian saya juga masih merasakan canggung entah kenapa perasaan itu masih sedikit terselip, apa mungkin juga karena baru sebatas 3 pertemuan dengan sekarang dan ditambah pada yang ke 3 ini saya tidak masuk, dan sedikit insident.
            Insedent? Kenapa harus ada kata insident? Sebenarnya di senin minggu ke 3 mata kuliah writing 4 saya masuk dikelas, namun sebab karena kesalah dari kelas membuat bapa enggan untuk menajar hari itu, tidak dipungkiri memang saat itu suasana yang dirasa sedang kurang enak dan itu juga mungkin yang menjadikan bapa kurang nyaman dengan kelas, padahal jika kita menelaah sudah lama ketidak nyamanan itu hadir dalam kelas kami tapi apa yang membuatnya demikian belum bisa kita pecahkan bersama-sama, bila semangat yang menjadi penyebabnya setiap anak memiliki caranya sendiri untuk bagaimana dia membangun semangat itu.
Dalam hal ini saya juga masih merasakan kurang gereget menghadapinya, entah karena terlalu lelah atau apa yang pasti setiap apa yang menjadi pilihan bagi kita, semua harus bisa dipertanggung jawabkan atas apa yang menjadi pilihan kita, siapa orangnya yng menghendaki suatu yang merugikan kita, sudah tentu tidak ada, orang gia saja mungkin berfikir yang demikian, tapi sekali lagi setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk menghadapinya.
0 comments

Class Review 3 : “ Baling-baling Literasi”

“ Baling-baling Literasi”

Kebersamaan dan kekompakann memnag menjadi modal utama mecapai kesuksesann di suatu lembaga atau organisasi. Sekecil apapun oriap anggotganisasinya pastinya membutuhkan kerjasama dan kekompakan dari setiap anggotanya. Sama juga dengan tim sepak bola, tidak munkin akan memenangkan suatu pertandingan jika setiap anggota timnya tidak saling kerja sama dengan baik. Ada yang ingin membawa sendiri atau juga bermain egois atau yang lainnya lah. Pastinya tersebut tidak akan menang dari tim lawan. Seperti halnya yang terjadi di kelas Pbi A.
0 comments

Class Review 3


We Never Meant to Cause You in Trouble
Author: Aulia Priangan

            Pagi kembali menghampiri, mengakhiri semua rajutan mimpi-mimpi yang sedang dinikmati pemimpinya. Sejak subuh tadi, langit di ufuk timur tak menampakkan tanda-tanda mentari akan muncul. Hanya sekumpulan awan yang setia menempati ruang di cakrawala.
            Senin pagi, 17 Februari 2014 menjadi moment yang tak pernah terbayangkan. Hari itu merupakan jadwal rutin diadakannya perkuliahan Writing and Compositin 4. Tak terbersit sedikit pun tentang sesuatu yang akan menimpa kami semua. Kami pikir semua akan berjalan normal seperti pertemuan pertama dan kedua. Namun, kenyataan berkata lain. Kenyataan memang selalu menyuguhkan hal-hal tidak menyenangkan dan mengenakkan di luar ekspektasi kita. Peristiwa di semester dua pun kembali terulang.
0 comments

Class Review 3



Class Riview 3

Solusi Dari Negeri Tetangga
(by Alfiniya Fitrotur Rakhmah)

            Literasi atau baca-tulis masih menjadi topik bahasan minggu lalu. Setelah literasi dijadikan tugas akhir-akhir ini, maka literasi sudah sangat exis di kalangan mahasiswa dan umum karena tugas literasi yang sudah dibuat di post juga di blog. Terakhir viewernya mencapi kurang lebih 3.000 an. Tema literasi di kelas sudah menjadi konsumsi minggu-minggu ini. Seharusnya literasi tidak hanya dijadikan konsumsi tugas tetapi juga konsumsi atau kebutuhan yang dapat dijadikan rutinitas.
0 comments

Class Review-3

Jaga Nyalanya!
(By: Enok Siti Jaenah)
“Literacy is a bridge from misery to hope. It is a tool for daily life in modern society. It is a bulwark against poverty, and a building block of development, an essential complement to investments in roads, dams, clinics and factories. Literacy is a platform for democratization, and a vehicle for the promotion of cultural and national identity. Especially for girls and women, it is an agent of family health and nutrition. For everyone, everywhere, literacy is, along with education in general, a basic human right.... Literacy is, finally, the road to human progress and the means through which every man, woman and child can realize his or her full potential.”
Kofi Annan
0 comments

Class Review 3: Menumbuh-kembangkan Literasi



Class Review 3

Menumbuh-kembangkan Literasi
(By : Evi Alfiah)
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa yang diajarkan di semua jenjang pendidikan.  Namun ironisnya, kemampuan menulis justru menempati keberhasilan paling bawah dari keterampilan berbahasa yang lainnya.  Hal ini bisa dilihat lewat pernyataan Dirjen Pendidikan Tinggi.  Menurut dirjen pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah sangat rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, yakni hanya sekitar sepertujuh. (Pokoknya Rekayasa Literasi, 186 : 2012).  Pasti ada factor yang mengakibatkan hal ini bisa terjadi.
0 comments

Class Review 3 : Literasi Mengajakku Bermaraton Dengan Tugas

Literasi Mengajakku Bermaraton Dengan Tugas
(by: Friska Maulani Dewi)

Apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar istilah “Maraton”?  Rata-rata banyak orang pasti akan mengacu pada lari maraton yang biasa dilombakan baik ditingkat RT/RW (pada 17 Agustusan) ataupun yang sampai pada tingkat olimpiade nasional.  Kata-kata maraton inilah yang akhir-akhir ini sangatlah tepat untuk kelangsungan hidupku.  Lari marathon?  Bukan! Aku tidak melakukan lari maraton.  Aku bermaraton dengan tugas-tugas kuliahku.
0 comments

Class Review 3: Succes so Near (High Literacy)


Success so Near (High Literacy)
(by Desi Diana)

Firasatku benar kawan.  Hari seninku sangatlah begitu singkat.  Mata kuliah writing pada hari itu hanya berlangsung selama 50 menit saja.  Shcok, itu yang saya rasakan.  Kami hanya bisa berdoa dan berdoa, semoga semuanya akan baik-baik saja.  Alhamdulillah, saya sangat bersyukur ada makeup class dan itu pada hari rabu jam 13.00 WIB.
Tepat pukul 13.00 Mr.Lala memasuki kelas kami.  Kemudian Mr.Lala membahas tentang tugas blogger kami yang sudah dibenahi.  Semuanya sudah aman dan kami semua akan bergerak cepat untuk memajukan dan memantapkan tujuan kami untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh.  Tinggalkan kelemahan kita, cepatkanlah langkah kita wahai warga PBI-A.  “Welcome get in my class”. Said Mr.Lala.  tugas blogger kami lebih baik dari sebelumnya.  Kita harus bangga dengan kita sebagai pembeda dari universitas atau perguruan tinggi sewilayah 3 cirebon.  Buat mereka terpacu untuk maju!
Kita sebagai bangsa Indonesia harus melihat Negara-negara yang berliterasi sangat tinggi.  Contohnya saja India, mereka kaya akan literature dengan banyak memproduksi film Bollywood.   Said Micahel Barber “Kalau kita mau sukses harus berliterasi tinggi”.  Kita harus berkualitas dengan kita memiliki rasa literasi yang tinggi.  Maka membaca dan menulislah.  Seperti yang dikatakan oleh Pak Chaedar dan Lehtonen, agar kita menjadi orang yang berkualitas harus pintar linguistic.  Reading dan Writing adalah basic.  Seperti yang dikatakan oleh Pak Chaedar,  yaitu dengan 4 dimensi, yaitu dimensi pengetahuan kebahasaan (focus pada teks), dimensi pengetahuan kognitif (focus pada mida), dimensi pengetahuan perkembangan (focus pada pertumbuhan), dan dimensi sosiokultural (focus pada kelompok).  Ada cara untuk membaca yang baik, membaca itu harus seperti dibawah ini, yaitu:

0 comments

Class Review 3



Lagi-lagi Literasi
By : Anisa

            Tak terasa waktu berjalan sangat begitu cepat. Mataku mengarah keseluruh penjuru kampus. Terlihat orang berlalu lalang dengan keperluannya masing-masing, begitu pula dengan diriku. Entah mengapa aku merasa hari ini begitu berbeda dengan hari-hari rabu yang lain. Sepertinya jawabannya adalah writing seharusnya berada pada hari senin di jam pertama.
            Senin lalu ada kejadian diluar dugaan kami. Sehinnga pengajaran tak berjalan secara efektif. Dan sebagai pengantinya,  kita membutuhkan hari lain untuk memperbaiki kekurangan kemaren. Dihari inilah kami berjumpa lagi dengan pak Lala dalam kurun dua pertemuan dalam satu minggu. Mata kuliah hari ini begitu penuh sekali, sampai aku tak bisa membayangan bagaimana aku menjalani hari ini. Diluar dengan aku tidak masuk kuliah writing pada hari ini. 
0 comments

3rd Class Review Berliterasi yang Benar itu seperti Apa?



Berliterasi yang Benar itu Seperti Apa?
Author: Daroni

Kamis, 19 Februari 2014 pukul 1 siang, mata kuliah “writing” dimulai.  Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa mata kuliah “writing” masuk hari rabu.  Yeups . . . karena Senin, 17 februari 2014, Mr. Elbi hanya masuk sebentar lalu keluar kembali.  Beliau merasa kelas kita telah terjadi konflik.  Dan memang benar adanya seperti itu.  Entah mengapa beliau bisa mengetahui apa yang tengah terjadi.
Kala itu, dari pagi kondisi tubuhku sudah tidak fit, tapi aku paksa pergi kuliah.  Pada akhirnya aku hanya bisa mengikuti perkuliahan di pagi hari saja, tepatnya pukul 7.30-9.10 dalam mata kuliah “Listening & Speaking”.  Kondisi ku yang memaksa aku untuk tidak mengikuti perkuliahan di hari rabu kemarin.  Di saat ku memaksakan tuk mengikuti perkuliahan “Writing”, kepala sudah tidak sanggup lagi menanggung beban pusing dan tubuhku pun begitu lemas.  Akhirnya aku pun menyerah dengan keadaan ku kala itu.
0 comments

Class Review 3: GAPTEK Vs BODOH



GAPTEK Vs BODOH
EDISI CLASS REVIEW-3 PEKAN KE-3 WRITING 4

Mungkin seluruh mahasiswa di muka bumi ini akan menertawakan kita sebagai mahasiswa semester 4 Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Syekh Nurjati Cirebon karena gagap teknologi alias gaptek. Hal ini tanpa kita sadari memang benar adanya, contoh kecilnya ialah ketika seorang dosen menginginkan mahasiswanya untuk membuat blog di komputer sebagai wadah untuk tugas-tugas kuliah maupun yang lainnya, ternyata keinginan dari seorang dosen itu tidak melulu mulus seperti apa yang diharapkannya. Pasalnya, mayoritas mahasiswa tidak mengerti akan tata cara pembuatan dan penggunaan sebuah blog di komputer. Ini menjadi hal yang sangat ironis mengingat seorang (maha)siswa harusnya mampu menguasai seluruh pengetahuan yang ada baik itu tentang ilmu IT maupun yang lainnya. Tidak peduli basic dari kampus tersebut entah berbasis islam atau umum, mereka semua hukumnya wajib untuk menguasai teknologi khususnya IT.
0 comments

critical review:AGAMA ITU KRUSIAL LOH!


AGAMA ITU KRUSIAL LOH!
(by. Endah Jubaedah)
Radikalisme mulai membungkus rapi kerangka manusia, menjangkau tulang rusuk yang menjadi inti kehidupan; mudah saja membuat makhluk hidup berakal ini berpikir radikal.  Bukan hal yang sulit untuk menjeratnya; tak perlu waktu lama menunggu kail berpenghuni, bahkan tanpa umpan pun tak mustahil pancingan mendapatkan hasil.  Fenomena ini menggambarkan betapa mudahnya sifat ke-radikalan membelenggu orang-orang, bagaimana kebebasan yang tidak terkontrol begitu diinginkan tak terkecuali oleh generasi penerus bangsa.  Lalu mau jadi apa bangsa kita ini? Jadi bangsa yang membebaskan kebebasan sebebas-bebasnya? Arogan! Bebas bukan berarti se-radikal itu, bebas pun harus teratur dan mempunyai aturan.
0 comments

Class Review 3: DESTINASI LITERASI DI KANCAH INTERNASIONAL



DESTINASI LITERASI DI KANCAH INTERNASIONAL
By: Astri Rahayu


Apakah kalian pernah  menonton “KUBHI KUSHI KUBHI GHAM” atau “KUCH KUCH HOTA HAI?” dengan tariannya yang begitu heboh karena mereka menggunakan penari hampir satu RT. Suatu dukungan koreografi yang spectacular. Lagu dan tarian di film Bollywood juga hampir menjadi sesuatu yang harus ada. Cerita yang membuat kita sampai menangis tersedu-sedu, menyita air mata. Benar-benar film yang mayoritas selalu happy ending walau kadang berawal dari alur cerita yang sangat mengharukan. Itulah kesan ketika saya menonton kedua film yang saya sebutkan di atas.  Apakah kalian familiar dengan artis ganteng seperti Shahruk Khan, Salman Khan dan Hrithik Roshan?  Pasti kita semua sudah tidak awam lagi. Kemajuan dunia Industri perfilman BOLLYWOOD  menjadi salah satu bukti bahwa India menjadi tempat destinasi literasi yang maju saat ini.
1 comments

Critical Review 1: Kerukunan dalam umat beragama



Name : Dhika Irhamullah Yusuf Class : PBI-A/The 4th Semester Number Student : 14121310280 Subject : Writing 04 (Jumlah 2546 kata) The 1st Critical Review, Wednesday on 19th February 2014

INTRODUCTION "Kerukunan dalam umat beragama"

Pada tanggal 19 February 2014, adalah critical review yang pertama dari Mr.Lala Bumela dalam mata kuliah writing 04 disemester 04 ini. Saya merasa senang dalam pertemuan critical review yang pertama ini dan juga writing tentunya. Baiklah, disini akan dijelaskan secara singkat saja tentang kerukunan dalam umat beragama, dan kita juga mengetahui dengan sendirinya bahwa negara kita ini yaitu indonesia adalah negara hukum dan negara yang memiliki agama yang berbeda-beda, yaitu ada yang beragama islam, ada yang beragama kristen katholik, kristen protestan, ada yang beragama hindu, dan ada juga yang beragama budha dan konghucu. Dinegara kita ini yaitu indonesia, sangat penting yang namanya kerukunan dalam umat beragama. Memang negara kita ini (indonesia) negara berbeda-beda, akan tetapi tidak boleh yang namanya bermusuhan atau yang biasa kita sebut konflik atau pertikaian dalam umat beragama. Kita harus menjunjung tinggi yang namanya kerukunan dalam umat beragama, menghargai dan menghormati agama-agama yang lain selain agama islam tentunya. Dengan kerukunan yang namanya umat beragama negara kita akan hidup dengan harmonis, tentram, dan damai dalam hal apapun. Seperti semboyan negara indonesia yaitu "Bhinneka tunggal iak" yang artinya adalah walaupun berbeda akan tetapi tidak masalah. seperti itulah bunyi semboyan negara indonesia yang harus bisa menghormati dan menghargai umat-umat yang lain, walaupun berbeda tentunya.
0 comments

Progress Test




MENCIPTAKAN KERUKUNAN DENGAN TOLERANSI

(By: Ade Puadah)
Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Banyaknya ragam budaya, ras, suku, agama dan letak geografis yang luas menunjukkan bahwa  negara Indonesia adalah negara multikultural. Namun diakui atau tidak, masyarakat multikultural adalah salah satu pemicu adanya pertengkaran dan perilaku kekerasan antar bangsa, karena banyaknya perbedaan pendapat antar satu sama lainnya.
0 comments

Sudahkan Menjadi Negara yang Berpendidikan dan Bermoralitas? (Critical Review 1)



Sudahkan Menjadi Negara yang Berpendidikan dan Bermoralitas?
Author : Dwi Arianti

Pendidikan adalah kunci menuju perbaikan peradaban suatu bangsa. Peradaban yang maju ternyata memiliki kualitas pendidikan yang bermutu. Kemajuan suatu negara bisa dilihat dari kualitas sumber daya manusia (SDM) dan praktek sistem pendidikannya. Apabila sistem pendidikan yang baik atau maju maka negaranya pun akan maju pula.
0 comments

Critical Review 1




Name: DIANA
Class: PBI A/4th semester
Subject: Writing 4
Lecture: Mr. LaLa Bumela, M.Pd.
Jumlah kata: 2.788
“ Pelangi  Kehidupan”
             Pelangi merupakan sebuah anugerah terindah dari tuhan sebagai suatu simbol keindahan karena terdiri dari berbagai macam warna yang satu sama lainnya membentuk kesatuan warna yang nampak elok di pandang oleh mata.Seperti halnya  Indonesia sebagai negara dan bangsa kempat terbesar di muka bumi, dengan tujuh belas ribu pulau, besar dan kecil, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke  memiliki berbagai macam suku bangsa, etnis, agama, dan berbagai macam perbedaan lainnya yang tersebar diberbagai pulau, kota, daerah ,bahkan pelosok desa.
0 comments

CRITICAL REVIEW





Pentingnya Pendidikan Demi Mewujudkan Kerukunan
 BY : ATIN HARTINI

Kerukunan beragama ditengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupa berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah bangsa, pancasila telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dibawah suatu tatanan yang inklusif dan demokratis. Sayangnya wacana mengenal pancasila seolah lenyap seiring dengan berlangsungnya reformasi. Berbagai macam kendala yang sering kita hadapi dalam mensukseskan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, dari luar maupun dalam negeri kita sendiri. Namun dengan kendala tersebut warga Indonesia selalu  optimis, bahwa dengan banyaknya agama yang ada di Indonesia, maka banyak pula solusi untuk mengahadapi kendala-kendala tersebut. Keharmonisan dalam komunikasi antar sesama penganut agama adalah tujuan dari kerukunan beragama, agar terciptanya masyarakat yang bebas dari ancaman, kekerasan hingga konflik agama.
0 comments

Critical Review 1: Pendidikan Sejak Dini, Keharmonisan Dikemudian Hari




Pendidikan Sejak Dini,
Keharmonisan Dikemudian Hari
(By: Fitriatuddiniyah)

Dalam khazanah kehidupan, kita tidak bisa terlepas dari istilah perbedaan.  Berbeda dalam berfikir, berpendapat, bertindak, pekerjaan, status, juga keyakinan atau kepercayaan (beragama).  Perbedaan merupakan keberagaman yang timbul karena banyaknya pemikiran yang tercipta dari jutaan kepala yang menjadikannya suatu perbedaan.  Namun, perbedaan tersebut menjadi sebuah warna dalam kehidupan yang justru menjadikan sebuah kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain.       
Untuk menjadikan sebuah perbedaan tersebut menjadi sebuah keharmonisan, perlu adanya usaha yang sangat keras.  Oleh karena itu, kita memulainya dengan memberikan pendidikan dasar pada generasi muda yang merupakan generasi yang diharapkan membawa perubahan yang harmonis. Pendidikan dasar ini juga merupakan langkah awal untuk mewujudkannya, yang kemudian menjadi dasar untuk pendidikan selanjutnya. 
0 comments

critical review 1 Toleransi Beragama Bertumpu Pada Pendidikan Anak Negeri

Toleransi Beragama Bertumpu Pada Pendidikan Anak Negeri
(By: Alifah Rohmatilah)
Kasus yang merebak dimana-dimana telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia.Sudah tentu masalah ekonomi yang tak pernah menemukan titik temu, ditambah lagi masalah social dengan mencerminkaan manusia-manusia tidak bermoral. Perbedaan agama, ras, dan budaya menjadi pemicu masalah social yang ada. Perbedaan menjadi ciri-ciri pemegang kekuasaan yang menang dan yang kalah. Mereka tidak mau tahu dampak dari perbuatannya akan sperti apa. Rasa kesatuan dan persatuan sepertinya sudah tidak ada dalam jati diri mereka Semua telah hilang kendali, tidak bisa mengontrol pribadi mereka sebagai orang-orang yang waras.
0 comments

critical review 1

Kenaifan Pendidikan
By: Daroni 

Paham liberalisme, suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta proses perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.  Sehingga pendididkan liberal menghasilkan kesadaran naïf.  Kesadaran akan makna pentingnya nilai-nilai keagamaan bagi kehidupan mendorong mereka untuk melestarikan nilai-nilai keagamaan itu bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk keturunannya, keluarganya dan generasi berikutnya secara umum.  Proses untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan tersebut ditempuh melalui jalur pendidikan dan pengajaran di dalam keluarga (informal), di masyarakat (non formal) dan atau di sekolah (formal).  Dalam dunia pendidikan yang makin kompleks, pembedaan terhadap ketiga wilayah pendidikan itu semakin tidak bisa ditarik garis merahnya secara tegas karena pada kenyataannya ketiga wilayah ini saling mendukung dan saling mengisi dan bahkan pendidikan nonformal menjadi tempat atau cara pelaksanaan pendidikan formal.
Seiring waktu berjalan, pendidikan pun ikut terus berkembang dengan hiruk pikuk kehidupan manusia.  Masalah demi masalah silih berganti.  Manakala masalah pendidikan memasuki ruang lingup filosofis, sudinya pendidikan menyandarkan itu pada filsafat pendidikan.  Filsafat pendidikan akan menjawab secara filosofis atas masalah-masalah yang muncul dari belahan dunia pendidikan.  Filsafat pendidikan akan menjadi peneropong belantara yang penuh pohon masalah pendidikan, yang terus tumbuh dari masa ke masa, dan tak kunjung habis.  Lebih dari itu Filsafat pendidikan juga menjadi arah perjalanan kemajuan pendidikan sekaligus mengoreksi kekurangannya guna mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, dan tetap eksisnya dunia pendidikan.
Menurut A. Chaedar Alwasilah: Filsafat Pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat, dan isi yang ideal dari pendidikan (Chaedar, 2008:101).  Pendidikan yang menjadi sarana mencerdaskan dan mencerahkan manusia sangatlah luas lingkup bahasannya.  Obyek filsafat pendidikan sangat luas, seluas aspek pendidikan dan aspek yang terkait.  Semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan atau memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik, dan bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai sesuai yang dicita-citakan (Jalaluddin, 2007:25).  Jelas sudah bahwa lingkup bahasan filsafat pendidikan itu aspek-aspek yang berhubungan dengan pendidikan, seperti: hakekat dasar, tujuan, isi dan kebijakan serta penyelanggaraan pendidikan.
Umumnya orang memahami pendidikan sebagai suatu kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan senantiasa bersifat netral.  Pendidikan formal mengalami kegoncangan karena dampak dari pertikaian ideologi dan perspektif pendidikan tersebut.  Sesungguhnya berbagai kritik mendasar tersebut justru semakin mendewasakan pendidikan, yakni memperkaya model pendidikan.  Tanpa disadari, pendidikan formal tengah mengalami transisi dari model pendidikan yang sama sekali tidak menghiraukan perubahan masyarakat sekelilingnya, menuju model pendidikan pembangunan, dimana pendidikan harus diabdikan untuk memperkuat pembangunan, tanpa dipersoalkan apa hakekat ideologi yang menjadi dasar bagi pembangunan itu sendiri.  Dewasa ini arus ini semakin berkembang, dengan fenomena munculnya gagasan ‘sekolah unggulan’ dan sering terdengar gagasan ‘link and match’ dalam aspek pendidikan.  Yang dimaksud sesungguhnya adalah bagaimana pendidikan harus memiliki kaitan dan relevansi dengan dunia Industri.  Konon gagasan ini juga tengah bergejolak dalam sistim pendidikan pesantren (Oepen, M. & Karcher, WThe Impact of Pesantren and Educational and Community Development in Indonesia. Jakarta: P3M, 1986). 
Latar belakang perkembangan pesantren tradisional kepada modern karena semangat baru dalam kehidupan keagamaan (religious revivalsm).  Hal ini akibat dari bertambahnya jumlah haji, guru-guru ngaji, murid-murid pesantren, tumbuhnya proto-nasionalisme, dan pada pertengahan abad ke-19, banyak anak-anak muda dari Jawa tinggal di Mekkah dan Madinah untuk memperdalam pengetahuan agama, dan pada akhir abad ke-19, banyak ulama kelahiran Jawa yang diakui kebesarannya ilmunya dengan menjadi pengajar tetap masjid Al-Haram seperti Syekh Nawawi banten, Syekh Mahfudz Termas.  Mengikuti hipotesa Karel A. Steenbrin Karel A. Steenbrink, (Pesantren Madrasah Sekolah pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1986, xiv) yang mrngatakan bahwa sejak permulaan abad ke-20 telah terjadi perubahan besar dalam pendidikan Islam Indonesia atau pesantren.  Pergeseran ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu:
  1. Kolonialisme dan sistem pendidikan liberal.  Propaganda pendidikan liberal Belanda ini berdampak pada sistem pesantren.
  2. Orientasi keilmuan pesantren.  Tidak seperi abad ke-16 sampai abad ke-18, orientasi keilmuan pesantren abad ke-20 tidak hanya ke Hijaz melainkan ke Timur Tengah, seperti Mesir, Baghdad, atau bahkan ke Eropa.
  3. Gerakan pembaharuan Islam.  Pergesekan ini melahirkan sasaran krikik terhadap pesantren.  Akibatnya pesantren merespon secara beragam, mulai dari penolakan, konfrontasi hingga kekaguman dan peniruan naïf terhadap pola pendidikan Barat (Edit. Mastuki dan M. Ishom El-Saha, Intelektualisme Pesantren Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Keemasan Pesantren, Jakarta: Diva Pustaka, 2006, 3-4).
Untuk kesekian kalinya, pendidikan tengah diuji untuk mampu memberikan jawaban yang menyulitkan, yakni antara melegitimasi ataupun melanggengkan sistim dan struktur sosial yang ada, ataupun pendidikan harus berperan kritis dalam melakukan perubahan sosial dan transformasi sosial menuju dunia yang lebih adil.  Kedua peran pendidikan dilematis tersebut hanya bisa dijawab melalui pemilihan paradigma dan ideologi pendidikan yang mendasarinya.  pendidikan tidak hanya berkutat pada pertanyaan seputar sekolah, kurikulum, dan kebijakan pendidikan, tapi juga tentang keadilan social dan kesetaraan (Joe Kincheole, 2005).  Visi sosial dan pendidikan yang berbasis pada keadilan dan kesetaraan ini tidak hanya tertuang dalam tulisan dan kata, tapi juga termanifestasikan dalam praktek pendidikan sehari-hari.
Pertama, pandangan paradigma konservatif.  Bagi mereka ketidak kesederajatan masyarakat merupakan suatu hukum keharusan alami, suatu hal yang mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir tuhan.  Dalam bentuknya yang klasik atau awal peradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengarhui perubahan sosial, hanya tuhan lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua.  Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif lama tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka.  Namun dalam perjalanan selanjutnya, paradigma koservatif cenderung lebih menyalahkan subyeknya.
Teruntuk kaum konservatif, mereka yang menderita, yakni orang orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri.  Banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang kesekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara.  Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang, karena pada akhirnya kelak semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan. Kaum konservatif sangat melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat dan menghindarkan konflik dan kontradiksi.
Paradigma pendidikan konservatif misalnya merupakan anak cabang dari filsafat skolastik di barat yang perenialis sekalgus esensialis.  Ketika peradaaban barat didomiasi oleh otoritas gereja pada saat itu manusia tidak memiliki kuasa untuk merubah segala macam  tatann sosial yang ada.  Bahkan otritas menentukan nasib dirinya  sediri tak dimilikinya. Otoritas sepenuhnya menjadi  milik gereja, sehingga bapak-bapak pendeta seolah mewakili kehendak dan perwujudan tuhan di bumi.  Bahkan bisa dikatakan terlalu sehingga sangat fatalistik.
Dengan membaca karakter paradigma pendidikan  konservatif, amat kentara di dalamnya yang bernuansa perenialistis dan esensialis. Akibatnya pendidikan konsevatif hanya sebatas perwujudan manusia dalam menjalani hidupnya. Menusia cenderung bepikiran naif atau bahka magis karena keyakinan untuk mempertahankan norma-norma yang telah mapan sangat kuat. Bahkan pendidikan kondervatf yang berorientasi keakhiratan itu telah menenggelamkan  eksistensi manusia sebagai pelakuaktif kehidupannya. Jelaslah jika paradigma pendidikan konservatif sangt naïf, bahkan telah terperosok ke dalam magis.
Kedua pandangan Paradigma Liberal.  Golongan ini berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat, tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat.  Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan juga tidak ada sangkut pautya dengan persoalan politik dan ekonomi.  Sebenarnya kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi.  Umumnya yang dilakukan adalah seperti: perlunya membangun kelas dan fasilitas baru, memoderenkan peralatan sekolah dengan pengadaan komputer yang lebih canggih dan laboratorium.  Seharusnya manusia berfungsi sebagai subjek aktif yang menjalankan modernitas tadi tetapi realitasnya justru mengatakan lain. Justru manusia harus menadi objek dari kemajuan teknologi  karya akal mereka sendiri.  Modernitas kemudian menjadi sebuah pardoks bagi kebebasan manusia.
Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics) ‘learning by doing’, ‘experimental learning’, ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan sebagainya.  Usaha peninkatan tersebut terisolasi dengan system dan struktur ketidak adilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat.  Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan baik pendidikan formal seperti sekolah, maupun pendidikan non-formal seperti berbagai macam pelatihan.  Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita cita Barat tentang individualisme.  Ide politik liberalisme sejarahnya berkaitan erat dengan bangkitnya kelas menengah yang diuntungkan oleh kapitalisme.  Pengaruh liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat komponen komponennya.
Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui proses persaingan antar peserta didik.  Penilaian untuk menentukan murid terbaik, adalah implikasi dari paham pendidikan ini.  Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat dalam berbagai pendekatan “andragogy” seperti dalam training management, kewiraswastaan, menejemen lainnya.  Achievement Motivation Training (AMT) yang diciptakan oleh David McClelland adalah contoh terbaik pendekatan liberal.   McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidak memiliki apa yang dinamakannya N Ach (Max Weber: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. New York: 1930).
Pardigma pendidikan liberal yang bermuara pada  semangat modernisasi di barat lebih mengutamakan kebebasan indivdu.  Jika kita membaca secara cerdas fenomena modernisasi  sebenarnya merupakan suatu gerakan protes, atau bisa dikatakan sebagai counter atas hegemoni otoritas gereja.  paradigma ini termasuk beraliran progresif  dan eksistensialis. Modernisasi merupakan jawaban atas skolastik yang boleh dikatan telah meniadakan potensi-potensi  kemnusiaan. Dengan memahami karakter pendidikan liberal itu, kita bisa memilah-milahnya dalam perspektif aliran-aliran filsafatnya. Paradigma pendidikan liberal yang rasional jelas bernuansa progregsif eksistenislistik dan esensialistik. Meskipun dalam berbagai aspek sedikit ke arah perenialistik, namun tidak seberapa, disinilah kemudian melahirkan problem kemanusian baru.
Positivisme juga berpengaruh dalam pendidikan liberal. Positivisme sebagai suatu paradigma ilmu sosial yang dominan dewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alam memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi, melalui metode determinasi, 'fixed law' atau kumpulan hukum teori (Schoyer, 1973).  Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tungal dianggap 'appropriate' untuk semua fenomena.  Oleh karena itu mereka percaya bahwa riset sosial ataupun pendidikan dan pelatihan harus didekati dengan metode ilmiah yakni obyektif dan bebas nilai.  Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus dikuantifisir dan diverifikasi dengan metode “scientific”.   Dengan kata lain, positivisme mensaratkan pemisahan fakta dan values dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif atas realitas sosial.  
Habermas, seorang penganut teori Kritik melakukan kritik terjadap positivisme dengan menjelaskan berbagai katagori pengetahuan sebagai berikut (Critical theory adalah aliran yang diassosiasikan dengan Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) yang mulai di Jerman tahun 1923, Bottomore, 1984; Held, 1980, Fay,1975).  Pertama, adalah apa yang disebutnya sebagai ‘instrumental knowledge’ atau positivisme dimana tujuan pengetahuan adalah untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi dan eksploitasi terhadap obyeknya.  Kedua, ‘hermeneutic knowledge’ atau interpretative knowledge, dimana tugas ilmu pengetahuan hanyalah untuk memahami.  Ketiga adalah ‘critical knowledge’ atau ‘emancipatory knowledge’ yakni suatu pendekatan yang dengan kedua pendekatan sebelumnya.  Pendekatan ini menempatkan ilmu pengetahuan sebagai katalys untuk membebaskan potensi manusia.  Paradigma pendidikan liberal pada dasarnya sangatlah positivistik.  Kuatnya pengaruh filasafat positivisme dalam pendidikan dalam kenyataannya mempengaruhi pandangan pendidikan terhadap masyarakat. Metode yang dikembangkan pendidikan mewarisi positivisme seperti obyetivitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasional dan bebas nilai juga mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan dan pelatihan (Schroyer, T. The Critique of Domination: The Origins and Development of Critical Theory. Boston: Beacon Press, 1973).
Meskipun Freire lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan, namun kerangka analisisnya banyak dipergunakan justru untuk melihat kaitan ideologi dalam perubahan sosial. Tema pokok gagasan Freire pada dasarnya mengacu pada pada suatu landasan bahwa pendidikan adalah 'proses memanusiakan manusia kembali". Gagasan ini berangkat dari suatu analisis bahwa sistim kehidupan sosial, politik, ekonom, dan budaya, membuat masyarakat mengalami proses 'demumanisasi'. Pendidikan, sebagai bagian dari sistim masyarakat justru menjadi pelanggeng proses dehumanisasi tersebut. Secara lebih rinci Freire menjelaskan proses dehumanisasi tersebut dengan menganalisis entang kesadaran atau pandangan hidup masyarakat terhadap diri mereka sendiri.
Freire menggolongan kesadaran manusia menjadi kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness) (Smith, W.A The meaning of Conscientacao: The Goal of Paulo Freire’s Pedagogy Amherst: Center for International Education, UMASS, 1976).  Yang dimaksud kesadaran magis yakni tingkat kesadaran yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan.  Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan.  Proses pendidikan yang menggunakan logika ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu permalahan masyarakat. Peserta secara dogmatik menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.
Yang kedua adalah kesadaran naif.  Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar penyebab masalah masarakat.  Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, ‘need for achevement’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial.  Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena ‘salah’ masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya ‘membangunan’ dan seterusnya (Pemikiran yang bisa dikatagorikan dalam analisis ini adalah para penganut modernisasi yang menjadi aliran yang dominan dalam ilmu ilmu sosial juga mempengaruhi pendidikan dan training).
Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis.  Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.  Pendekatan struktural menghindari ‘blaming the victims” dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat.  Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidak adilan’ dalam sistim dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistim dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya.  Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan kesematan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik.

Kesimpulan
Setiap Paradigma pendidikan tidak bisa terlepas dari akar filosofisnya.  Paradigma pendidikan manapun tetap tidak bisa lepas dari aliran filsafat yang menjadi induknya sebab pendidkan sebagai ilmu merupakan cabang dari filsafat dalam aplikasinya.  Dengan membaca karakter paradigma pendidikan  konservatif, amat kentara di dalamnya yang bernuansa perenialistis dan esensialis.  Akibatnya pendidikan konsevatif hanya sebatas perwujudan manusia dalam menjalani hidupnya.  Manusia cenderung bepikiran naif atau bahkan magis karena keyakinan untuk mempertahankan norma-norma yang telah mapan sangat kuat. Bahkan pendidikan kondervatf yang berorientasi keakhiratan itu telah menenggelamkan  eksistensi manusia sebagai pelakuaktif kehidupannya.  Jelaslah jika paradigma pendidikan konservatif sangt naïf, bahkan telah terperosok ke dalam magis.
Paradigma pendidikan liberal ternyata belum mampu  mejawab problem kemanusiaan  abad mutakhir.  Meskipun berasaskan rasionalitas sebagai bagian dari potensi-potensi keanusiaan paradigma yang satu ini  telah terhambat oleh modernitas yang cenderung mengeksploitasi dan mempersempit kebebasan manusia kondisi seperti itulah yang kemudian mewajibkan lahirnya paradigma baru dalam pendidikan.  yang membuat mereka cerdas dan mampu menulis adalah dibebaskannya mereka untuk menentukan pilihannya sendiri. Untuk menjadi penulis yang baik diperlukan keberanian untuk tampil tidak sempurna (Chaedar).
Tidak dapat dipungkiri setiap ilmu yang telah lahir di muka bumi tentulah memiliki arti dan fungsi bagi kehidupan manusia.  Begitu pula filsafat pendidikan suatu ilmu yang memiliki peranan dan fungsi dalam kehidupan khususnya kehidupan dunia pendidikan. Untuk mengembangkan ilmu pendidikan yang bercorak Indonesia secara valid, terlebih dahulu dibutuhkan pemikiran dan perenungan yang mendalam tentang ilmu itu sendiri dan budaya serta geografis Indonesia yang akan mewarnainya.  Sejalan pula dikatakan Kilpatrick: Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat berarti memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik. Sedangkan pendidikan atau mendidik adalah suatu usaha merealisasikan nilai2 dan cita-cita dalam kehidupan dan kepribadian manusia (Djumransyah, 2006:42).
0 comments