Showing posts with label Enok Siti Jaenah. Show all posts
Showing posts with label Enok Siti Jaenah. Show all posts

Lagi, Sejarah dan yang Lainnya (Class Review-7)



Lagi, Sejarah dan yang Lainnya
Since history is endless process of human creation. Saya akan memulai dari titik ini. Masyarakat dan sejarahnya merupakan proses yang komlpleks dan multi-dimensi. Dan apabila bagian sejarah ingin masuk akal dan nyata, maka kita kan membutuhkan berbagai konsep. Akal manusia yang selama berabad-abad telah dipupuk oleh berbagai kenyataan, telah berkembang berbagai konsep untuk menjelaskan proses sejarah dunia.
Seperti kata Fowler (1996: 10) “Like the historian critical linguist aims to understand the values which underpin social, economic, and political formations, and diachronically, changes in values and changes in formations.”
0 comments

Enlightenment: Meaning Behind All The Signs (Class Review-6)



Enlightenment: Meaning Behind All The Signs
Inilah kali ke-enam pertemuan kita di kelas writing. Bukan tanpa kesengajaan kita masih diberi kesempatan untuk mengikuti alur perjalanan kita di semester ini. Senin, 10 Maret 2014 telah tercantum di sekenarion Tuhan tentang agend kita hingga mencapai pertemuan ke-enam ini. Sudah cukup banyak saya membaca tentang Howard Zinn dan Columbus, berbagai teks sudah say abaca dari mulai yang berbahasa Indonesia sampai yang berbahasa Inggris. Merasa tercerahkan kah? “Of course” serempak otak saya dan kerabat-kerabatnya teriak demikian. Tak hanya itu, otak saya pun terasa lebih berisi dari sebelumnya, karenanya saya mengetahui hal-hal yang jarang dibicarakan oleh khalayak dari jenis umuran kita. Dan inilah yang perlu di-highlight, bahwa obrolan sehari-hari sesame teman pun terasa lebih berbau akademik. Obrolan-obrolan ghibah sedikit demi sedikit terkikis oleh hikmah dari akademik writing ini.
0 comments

Howard Zinn: His Words Changed The World (Critical Review-3)



Howard Zinn: His Words Changed The World
INTRODUCTION
This paper will present a critical perception on Howard Zinn’s article entitled “Speaking Truth to Power with Books”. Zinn conveyed one catchy point about the truth through the book is something could change the consciousness of people, I stated that is an interesting but problematic. The argument will be developed by emphasizing on ‘the responsibility of historian’, that collapse undertaken by Howard Zinn, one of the respected radical historian in the world.
0 comments

Everything about What We Do: INTERTEXTUALITY AND KEY ISSUES IN WRITING (Class Review-5)



Everything about What We Do:
INTERTEXTUALITY AND KEY ISSUES IN WRITING
(By: Enok Siti Jaenah)
Berlatar belakang buku yang ditulis oleh Ken Hyland dan Mikko Lehtonen, class review kali ini bukan hanya jejak-jejak previous meeting yang saya guratkan kembali di sini, namun juga menyajikan lingkup-lingkup writing yang tentunya kawasan yang dijangkau pun lebih luas dan lebih dalam. Mereka adalah intertextuality, Key Issues in Writing, History-Literacy, dan sedikit bumbu tentang previous meeting.
0 comments

Ada yang Hilang (Class Review-4)



Ada yang Hilang
(By: Enok Siti Jaenah)
Ada yang hilang. Itulah kiranya kata yang tepat untuk menggambarkan dua kasus yang terbeber di pertemuan ke-4 kemarin, tepatnya pada tanggal 24 Februari 2014. Kasus pertama yaitu perihal kehilangan waktu santai saya yang dicuri oleh ‘critical review’. 2500 kata yang harus kita tulis di critical review seperti 2500 pil pahit . Hampir setiap pagi sepanjang seminggu menjelang mata kuliah writing, yang saya temukan pertama kali saat membuka mata adalah buku-buku dan helaian kertas yang berserakan di sekitarku, ditambah dengan laptop yang masih setia turn on. Situasi ini memang merenggut waktu saya untuk hidup tak normal.
0 comments

Paket Kebenaran dari Sang Historian (Critical Review-2)



Paket Kebenaran dari Sang Historian
(By: Enok Siti Jaenah)

“I think of an intellectual as just being bookish,  
being interested in history books, utopian ideas, that kind of thing.”
-Richard Rorty
“A book is the only place in which you can examine a fragile thought without breaking it, or explore an explosive idea without fear it will go off in your face.  It is one of the few havens remaining where a man's mind can get both provocation and privacy.”
-Edward P. Morgan

Buku merupakan pendar peradaban umat manusia. Dalam setiap buku, seringkali terdapat sejumlah pikiran cerdas yang kemudian bisa mempengaruhi cara berpikir dalam masyarakat tertentu. Dalam buku pula tertoreh bagaimana rupa sejarah bisa beragam, bagaimana filsafat bisa menjadi racun yang membebaskan, bagaimana sastra bisa bercerita tentang kebenaran melalui dusta, atau bagaimana sains bisa membunuh Tuhan. Namun siapa sangka, di balik sebuah buku tersimpan suatu kekuatan hebat. Sebegitu hebatnya kekuatan dari buku, sehingga ia merupakan instrumen yang berdaya kuat, mencengkeram erat, menggetarkan, dan berkuasa mengubah arah peristiwa-peristiwa yang sedang atau akan terjadi. Saya semakin memantapkan hati untuk percaya hal tersebut setelah membaca napak tilas tinta sejarawan terkemuka di dunia. Howard Zinn, sejarawan yang mengungkap perihal urgensi sebuah buku dalam kehidupan kita lewat artikelnya yang bertajuk Speaking Truth to Power with Books.
0 comments

Class Review-3

Jaga Nyalanya!
(By: Enok Siti Jaenah)
“Literacy is a bridge from misery to hope. It is a tool for daily life in modern society. It is a bulwark against poverty, and a building block of development, an essential complement to investments in roads, dams, clinics and factories. Literacy is a platform for democratization, and a vehicle for the promotion of cultural and national identity. Especially for girls and women, it is an agent of family health and nutrition. For everyone, everywhere, literacy is, along with education in general, a basic human right.... Literacy is, finally, the road to human progress and the means through which every man, woman and child can realize his or her full potential.”
― Kofi Annan
0 comments

Critical Review-1



RELIGIOUS HARMONY: Berseia dan Bersekata Lewat Dialog
(Author: Enok Siti Jaenah)

"Unless we teach our children peace, somebody else will teach them violence."
- Coleman McCarthy
“We must begin to inoculate our children against militarism by educating them...I would rather teach peace than war, love rather than hate. “
-Albert Einstein
"Children are the seed for peace."
- Zelda Arms Neuman
Saat ini kebhinekaan Indonesia sudah tergerus akibat aksi massa intoleran para pelaku yang ‘katanya’ orang beragama. Konflik antar agama yang terjadi dimana-mana seolah menjadi tumbal bagi pluralisme dan kekayaan khazanah agama di Nusantara. Pemicunya tentu tak lain adalah perbedaan yang selama ini selalu dijadikan tersangka untuk kasus ini. Sebenarnya perbedaan tak mesti kita satukan dan kita seragamkan. Perbedaan menciptakan harmoni kehidupan yang indah. Bukankah Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam raya yang luas ini dengan penuh keberagaman?
1 comments

Rekayasa Literasi: Implementasi Bagi Para Literate Sejati (Chapter Review-2)

Rekayasa Literasi: Implementasi Bagi Para Literate Sejati
(By: Enok Siti Jaenah)
Tema melek huruf selalu pekat dalam setiap jejak tinta A. Chaedar Al Wasilah. Ambisi beliau untuk mengangkat bangsa Indonesia sebagai bangsa berliterasi tampaknya masih terus berpacu. Dalam buku ter-anyarnya kata Literasi masih terpampang nyata, dan “Rekayasa Literasi” adalah salah satu sub bab inti di dalam buku ini. Tak bisa dipungkiri mantra sakti “Rekayasa Literasi” ini adalah bentuk implementasi bagi para literate sejati yang sedang memacu kuda untuk bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang empunya melek aksara.
0 comments

Multilingual Writer is Me (Class Review-2)



Multilingual Writer is Me
(By: Enok Siti Jaenah)
Kegiatan menulis telah menempati kedudukan yang fenomenal di semester 4 ini. Semua warga semester 4 dibuat sibuk olehnya. Peluh kita memang sepertinya tidak membanjiri tubuh, tapi sungguh isi kepala terasa dikoyak-koyak, benda lunak di sudut dada kiri seringkali berkata “menyerah”, dan sepuluh jarikita pun hampir keriting akibat ulahnya. Fortunately, fenomena ini lantas tidak membuat kita menyesal berada di sini, bahkan seringkali tangan kita mengangkat kerah baju sebagai simbol rasa bangga atas hasil karya amatir kita.
0 comments

If You Don’t Like Writing, Get Out! (Class Review-1)



If You Don’t Like Writing, Get Out!
(By: Enok Siti Jaenah)
Judul diatas memang sangat profokatif. Sengaja saya sematkan judul tersebut di awal untuk menjawab aral melintang yang akan kita hadapi di challenging rides, exactly in Writing 4. No-one can enter this class without love writing truly. Seperti yang dikatakan oleh Mr. Lala Bumela pada pertemuan pertama tepatnya hari Senin, 03 Februari 2014, bahwa “ Writing 4 means sleepless night, sore eyes, back pain, strained fingers, book scattered all over the room, a lengthly talk with collegues, and of course, a handful of chocolate and cups of coffee. But above all, writing makes you a better student, a better individual, and of course a better citizen. Enjoy!” That is really full of challenging, right? So, write or get out!
Ada banyak hal baru yang akan bergerilya di tangan dan otak kita. Lahan kita kali bukan lagi writing-writing seperti di semester yang lalu, melainkan Writing for Academic Purposes. Pada dasarnya, academic writing adalah writing yang harus dipelajari di tingkat mahasiswa, seperti essay, paper, research paper, term paper, argumentative essay, informative essay, atau position paper. Tapi kesemuanya memiliki prinsip dan tujuan yang sama.
Academic writing tentu berbeda dengan sastra. Sastra seperti cerpen, novel, puisi dan lain sebagainya bersifat personal. Mereka selalu melibatkan pribadi penulisnya, baik perasaannya, penglihatannya, ataupun pengalamannya. Sedangkan academic writing, penulis dan tulisannya terbentang jarak yang jauh. Sepeti yang kita ketahui misalnya tentang opinion essay. Opini-opini yang kita sajikan di sana tentu harus ditunjang dengan bukti-bukti yang menguatkan. Jangan sekali-kali melibatkan subjektifitas si penulis di sini.
Kita kan memulai dengan sebuah pertanyaan, kemudian temukan dan analisis jawabannya, dan selanjutnya pilihlah jawaban yang terbaik untuk di diskusikan di dalam paper yang akan kita buat. Perlu digaris bawahi, academic writing bukan ajang untuk memamerkan sesuatu yang kita ketahui tentang sebuah topic, melainkan unuk menampilkan bahwa kita mengerti dan bisa berfikir kritis tentang suatu permasalahan.
Dengan itu kita bisa membangun kemampuan kita dalam meneliti, mengevaluasi informasi, berargumen, merespon, menganalisis, dan mengekspresikan diri secara jelas dalam sebuah tulisan. Dan kemampuan itulah yang akan dihargai oleh para employers.
Itulah sentuhan-sentuhan pertama kita di academic writing. Selain itu juga Mr. Lala memberikan tiga simple reminder untuk kita. Pertama, writing involves composing skills and knowledge about text, context, and readers. Ketiganya memiliki hubungan triandik, artinya keberadaannya tidak bisa digantikan ataupun dihilangkan salah satunya. Tidak aka nada pembaca jika tidak ada text, dan tidak aka nada text tanpa adanya contex, dan seterusnya.
Kedua, like any craft, writing improves with practice. Writing selalu menuntut siapa saja yang mempelajarinya untuk senantiasa mempraktekkannya. Writing akan melekat dengan kita jika terjadi praktek yang sering.
Ketiga, your first language is the foundation for your second language. Mr. Lala mengatakan bahasa Indonesia itu layaknya posisi kuda-kuda. Jika kemampuan kuda-kudanya sudah mantap, maka pukulan dalam bentuk bahsa keduanya lebih mantap lagi. Ii berlaku dalam perihal writing.
Kita beralih ke silabus. Silabus kali ini nyaris sama dengan semester lalu, hanya ada beberapa yang ditambahkan misalnya, setiap kelas diwajibkan untuk membuat blog, dan setiap essay yang kita produksi selama pembelajran writing harus di posting di blog tersebut. Ini berlaku untuk semua mahasiswa di jkelas writing 4 tanpa kecuali.
Dilihat weekly schedule-nya, kita akan banyak menggunakan tangan kita untuk terus bermain ballpoint, dan toots keyboard. Akan ada belasan atau mungkin puluhan text yang kita produksi di semester ini. It’s amazing! Dengan itu, sedikit demi sedikit budaya literasi sudah mulai melekat pada mahasiswa bahasa inggris IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Rasa tidak suka terhadap writing untuk kalangan mahasiswa rasanya sungguh tidak tepat, sebab akan menyebabkan penyesalan di akhir. Sudah saatnya kita bersiap siaga mengaktifkan sinyal-sinyal menuju segunung ide brilian. Setting waktu sedini mungkin untuk mulai mencintai writing, karena mahasiswa adalah para ilmuan muda yang harus siap menggerakkan penanya untuk menyuara lantangkan keberadaan mereka yang kiprahnya selalu dinanti-natikan bangsa. So, write or get out!
0 comments

From Writing to Promoting (Appetizer Essay-1)



From Writing to Promoting
(By: Enok Siti Jaenah)
Dunia telah lama mengakui tentang fakta terkenal bahwa kemampuan menulis para intelektual Indonesia sangat kurang. Coba kita ingat-ingat, mungkin cukup dengan hitungan jari untuk mengetahui jumlah dosen yang mengajar menggunakan literatur yang ditulis mereka sendiri. Padahal di dalam Amerika academic culture mereka punya mantra sakti yaitu  “All professors are the same until one of them writes a textbook.”
Hampir semua program sarjana dan pascasarjana di setiap  Negara mengharuskan mahasiswanya untuk menulis skripsi, tesis, atau disertasi untuk bias wisuda. Namun, persyaratan seperti itu tidak lantas bias menyulap para wisudawan menjadi penulis yang handal. Mayoritas dari mereka justru menganggap kegiatan itu sebagai korban tabrak lari, setelah menulis skripsi tesis ataupun disertasi kemudian meninggalkannya begitu saja, dan lebih celakanya hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup.
Lemahnya keterampilan menulis di Indonesia harus saya katakana karena masih berlakunya pepatah “berlayar di atas angin.” Kaum intelektual Intelektual Indonesia telah dicuci otaknya bahwa bahasa nasional kita tidak cukup canggih untuk menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka lebih memilih meloncati bahasa ibu untuk bias berlayar di atas angin.
Label “useless” untuk bahasa Indonesia sepertinya sudah melekat rapat dibenak mereka. Karena mereka berpikir bahasa Indonesia sudah dipelajarinya sejak mereka pertama kali bias berbicara. Itu salah besar, bagaimana tidak? Buktinya mereka sedikit sekali terampil menulis dalam bahasa inggris karena menganggap sudah sangat mahir berbahasa Indonesia.
Alangkah lebih baik jika kita lebih peka kepada sejarah bahasa Indonesia yang diperjuangkan hidupnya lewat para pemudanya. Tapi justru sekarang pemudanya sendiri yang membiarkan bahasa Indonesia tercecer dan terinjak-injak oleh yang punyanya sendiri. A. Chaedar al wasilah (2006:111) sering kali kita lupa bahwa keterampilan menulis sangat bergantung pada keterampilan menulis dalam bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin sesorang dapat berekspresi tulis dalam bahasa asing sementara ia masih sulit berekspresi dalam bahasa ibunya.
Sungguh tragis bahwa sebagian besar anggota fakultas di jurusan bahasa inggris memiliki toleransi nol dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai dasar untuk kemahiran bahasa Inggris. Mereka menganggap bahwa lulusan SMA sudah meiliki podasi yang kuat untuk mengembangkan keterampilan menulis. Tetapi nyatanya sungguh tidak sesuai, seperti yang saya kutip berikut. (A. Chaedar Al Wasilah, 2006:109) Jamu mujarab tapi mungkin pahit untuk mengobati penyakit ini adalah reposisi dan redefinisi MKU BI di semua PT. MKU ini harus diberi darah baru agar mampu melejitkan literasi epistemic para mahasiswa.
Kampanya gencar yang dilakukan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi dalam publikasi Internasional yang ditunjang oleh kemampuan yang memadai dalam bahasa Indonesia. Sebaiknya kita mendorong penulis pemula untuk mempublikasikan dalam bahasa Indonesia dan kemudian dalam bahasa inggris secara bertahap.
Sejalan dengan penulis pemula tadi, menulis amatiran jangan dianggap spele atau dianggap hanya buang-buang waktu. Mengawali menulis dengan cara amatir merupakan sarana lanjutan dari hasil pelatihan menulis untuk coba menerapkan menerapkan berbagai teori dan teknik penulisan. Dari prosesmenulis matiran tersebut, sesorang akan mendapat berbagai pengalaman dan masukan selama proses penulisan berlangsung.
            (A.Rahmat Rosyadi, 2008:3) salah satu cara untuk menerapkan hasil pelatihan menulis adalah memulai menulis sekarang juga dengan cara menulis amatiran. Menulis amatiran juga berarti menulis tanpa memperhatikanberapa honorium atau royalty yang akan diterima dari pihak lain.
            Selain itu, untuk mempromosikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pada saat itu pula untuk mengembangkan kompetisi maksimum dari kepercayaan diri sebelum menulis dalam bahasa inggris. Jangan terlalu bermimpi tinggi untuk menduniakan bahasa Indonesia, langkah sederhana untuk menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kepemilikan bahasa nasional cukup dengan memulai dari diri sendiri, mencintai bahasa Indonesia, memperbaiki segala keterbatasandalam menguasai bahasa Indonesia, serta tetap menjunjung tinggi keberadaannya.
            Di zaman yang dikatakan modern ini, justru kita bangsa besar bertanah air satu tanah air Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia malah lebih enjoy menggunakan bahasa gaul yang justru merusak bahasa sendiri. Sungguh ironi, di Negara sendiri dilupakan tapi di negeri lain justru digali dan diminati. Seperti di Jepang, mereka mengakui bahwa bahasa jepang asli adalah turunan dari tiga bahasa yaitu melayu, sunda,dan papua. (Kompasiana, 04 september 2013)
            Di sisi lain, bangsa kita masih bertindak sebagai konsumen dan produsen ilmu pengetahuan modern. Hamper sebagian besar buku-buku yang beredar di berbagai took buku adalah hasil dari terjemahan bahasa asing. Bangsa ini minim inovasi penemuan da penciptaan karya. Akibatnya tidak ada waktu yang intensif bagi pengguna bahasa Indonesia untuk secara konsisten menggunakan bahasa Indonesia sebagai bagian dari proses pengembangan budaya.
            Inilah saatnya kita melanjutkan usaha mengisi bahasa Indonesia agar penuh dengan muatan inovasi local nusantara, dengan cara lebih banyak menulis karya sastra dan mempublikasikan hasil penelitian ilmiah. Dengan demikian, cara tersebut memiliki fingsi ganda: untuk mempromosikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pada saat yang sama pula ditumbuh embangkanlah kompetisi dan kepercayaan diri sebelum menulis dalam bahasa kedua (bahasa Inggris).








0 comments