Critical Review 1 : Wacana Kelas, Mampukah?


Wacana Kelas,
Mampukah? 
Author : Asy Syifa Rahmah Ihsani

Tidak bosan saya nyatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk memajukan suatu negara.  Namun, pendidikan suatu negara akan maju jika masyarakatnya mempunyai moral ataupun karakter yang baik.  Percuma saja jika negara dipimpin oleh orang yang berpendidikan tinggi tapi tak bermoral.  Sayangnya di negeri  kita tercinta ini Indonesia mengalami hal itu.  Jika ditanya tentang pendidikan, tentu saja anggota pemerintah kita berpendidikan tinggi, tapi bagaiman dengan moralnya?  Sangatlah rendah.  Terbukti dengan banyaknya korupsi, skandal sex, dan sering terjadinya percek-cokan antar anggota DPR atau anggota pemerintahan lainnya.  Begitu juga dengan masyarakatnya yang sering terlibat konflik.  Untuk menciptakan moral dan karakter bangsa Indonesia peran pendidikan sangatlah penting.  Baik itu pendidikan formal (sekolah) ataupun pendidikan di rumah.
0 comments

chapter review 1



Revolusi Makna Literasi
dan Wajah Literasi Sang Merah Putih
(By: Fitriatuddiniyah)

            Pokoknya Rekayasa Literasi, tulisan karya A. Chaedar Alwasilah tahun 2012 yang mengungkap wajah bangsa kita yang kritis literasi.  Pada bab 6 yang berjudul “Rekayasa Literasi” inilah yang lebih jelas dan mantap dalam menerangkan kemampuan dan prestasi literasi sang “merah putih” seperti apa dan bagaimana keadaan sebenarnya.
0 comments

chapter review



GURIH BUMBU LITERASI
 (by. Endah Jubaedah)
Literasi memang tengah gencar diperbincangkan dan menjadi wacana yang menawan, mendengar kata-katanya saja para pembaca mulai tergiur menikmati sensasi berliterasi.  Literasi menawarkan darah segar untuk kehidupan baru, menopang para tokoh tertutup untuk membuka dunia dengan cara yang lebih baik yakni dengan menjadi pelaku literate.  Untuk mengenal lebih lengkap apa itu literasi, berikut beberapa hal yang berkenaan.
0 comments

class review II (Katanya) Menulis Akademik



(Katanya) Menulis Akademik
(by. Endah Jubaedah)

          Rangkaian kata dalam tulisan memang tidak akan pernah usai atau hilang dari pandangan menulis; bagaimana tidak?  Menulis adalah salah satu kegiatan berliterasi dan pentransferan ilmu dalam permainan kata-kata, yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah kalimat dan pembentukan kalimat yang lebih luas dalam paragraf atau teks.  Semakin berkembangnya zaman, pertumbuhan menulis banyak mengalami perubahan berkenaan dengan pengetahuan menulis.  Salah satu contoh konkret, yakni dengan munculnya menulis secara scientific atau yang biasa dikenal dengan menulis akademik.
0 comments

class review 2



HIJRAH TULISAN
(By: Fitriatuddiniyah)

Class review kali ini berjudul “Hijrah Tulisan” yang memiliki cerita tersendiri.  Hijrah berarti pindah dari suatu tempat ketempat lainnya.  Hubungannya dengan tulisan adalah perpindahan tulisan kita yang dulu di dunia sastra, kini di dunia akademik yang akan kita cintai.
What is academic writing?
Academic writing pada dasarnya adalah menulis atau tulisan yang harus kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan akademik.  Ada banyak jenis academic writing yang berbeda dalam bahasa Inggris.  Seperti yang ada dalam silabus Mr. Lala yang mungkin berbeda untuk tugas academic writing, seperti essay, paper, research paper, term paper, argumentative paper/essay, analysis paper/essay, informative paper, position paper, tetapi semua tugas itu mempunyai tujuan dan dasar yang sama.
0 comments

2nd Class Review : Hasil dari Sebuah Ikatan


Makna dibalik Sebuah Hubungan
(By. Aneu Fuji Lestarie)
            Detik demi detik telah berlau.  Kini bukan lagi saatnya kita tertidur dengan lautan mimpi yang membawa kita ke alam khayal.  Namun, sekarang adalah saatnya dimana kita harus bangun dari mimpi untuk terus melangkah maju dan menghadapi hari-hari yang penuh tantangan menuju perjalanan yang berkualitas.
0 comments

chapter review 1



Hanya Melihat dari Satu Sisi
(By: Erni Nuro)
Takala Anda mengalami jalan buntu, baik pikiran maupun tindakan Anda, Cobalah keluar dari ruang sempit Anda saat ini untuk menghirup dalam-dalam udara segar diluar, kemudian keluarkan perlahan lahan dan refresh pikiran Anda. Niscaya pikiran positif, strategi baru, celah-celah kesuksesan baru terbayang didepan Anda. Saat itulah ide-ide baru dan segar muncul. Jangan terpojok pada sesuatu yang sempit, cobalah buka mata-buka telinga-buka pikiran untuk terus belajar dan istiqomah berdo’a makan jalan-baru, pintu-pintu kesuksesan baru terbuka dan cobalah lagi untuk meraih posisi lebih tinggi dari posisi Anda sekarang. Untuk itu marilah kita renungkanlah pemaparan-pemaparan di bawah ini:
0 comments

Rekayasa Literasi: Implementasi Bagi Para Literate Sejati (Chapter Review-2)

Rekayasa Literasi: Implementasi Bagi Para Literate Sejati
(By: Enok Siti Jaenah)
Tema melek huruf selalu pekat dalam setiap jejak tinta A. Chaedar Al Wasilah. Ambisi beliau untuk mengangkat bangsa Indonesia sebagai bangsa berliterasi tampaknya masih terus berpacu. Dalam buku ter-anyarnya kata Literasi masih terpampang nyata, dan “Rekayasa Literasi” adalah salah satu sub bab inti di dalam buku ini. Tak bisa dipungkiri mantra sakti “Rekayasa Literasi” ini adalah bentuk implementasi bagi para literate sejati yang sedang memacu kuda untuk bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang empunya melek aksara.
0 comments

Chapter review 1: POTRET BURAM LITERASI



POTRET BURAM LITERASI
(By: Endang Siti Nurkholidah)
Literasi? Ketika mendengar kata itu sangat elegan sekali. Kata yang memiliki misteri dibalik elegansinya itu. Literasi memanglah kata asing jika belum menjamahnya. Apa sih literasi itu?? Well, literasi menurut KBBI adalah sesuatu yang berhubungan dengan membaca-menulis. Ketika mendengar kata baca-tulis memang seperti tidak bisa dipisahkan. Dimana ada kata membaca pasti disitu ada kata menulis dan istilah literasi atau literer memiliki definisi yang sangat luas sekali.
0 comments

Chapter Review: Sentuhan Literasi



Sentuhan literasi
Ahmad Khoerul Mustaqim
Penguasaan baca-tulis dan tata bahasa adalah upaya masyarakat agar menjadi manusia terdidik dan berbudaya. Dengan penguasaan secara optimal mampu membangun masyarakat literat terutama ketika seseorang menuju pintu masuk dunia pendidikan. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal adalah situs pertam untuk membangun literasi. Oleh karena itu wajar jika proses dan hasil pembelajaran bahasanya sering dijadikan rujukan dalam upaya mengukur tingkat literasi di suatu Negara.
0 comments

Class Review 2: Mulai bersinar cahayanya



Mulai bersinar cahayanya

A.     Khoerul Mustaqim Pbia 4
 


Tidak terasa hari senin kembali lagi. Alhamdulillah saya masih diberikan umur panjang oleh Allah SWT yang telah memberikan saya ilham dan membantu dalam segala urusan saya. Tak tahu jadinya bagaimana jika tidak ada pertolongan darinya. Maka dari itu kita tidak boleh sedikitpun mengingkari nikmat yang telah ia berikan, seperti halnya kita bisa membaca dan menuilis.
0 comments

Class Review 2: DIBALIK MAKNA TERSIRAT MAKNA



DIBALIK MAKNA TERSIRAT MAKNA
(By: Erni Nuro)
Seperti layaknya komputer biasa, bahwa semakin banyak program terinstall akan memerlukan ruang hardisk, memori/ramp dan prosesor yang cukup untuk mengimbangi software yang telah di install. Karena itu perlu selalu di UPDATE baik software maupun hardwarenya agar komputer bisa bekerja dengan baik. Sebaliknya bila komputer tidak di update software, antivirus dan hardwarenya akan menjadi komputer JADUL atau lambat sehingga tidak bisa bekerja dengan baik.
0 comments

Berputar pada Academic Writing (class review 2)


Berputar pada Academic Writing
Author : Dwi Arianti

Senin pagi yang cerah, tepat 10 februari 2014 merupakan pertemuan kedua saya dengan mata kuliah Writing 4. Pada pertemuan kali ini, materi yang disuguhkan semakin berat. Tugas yang diberikan pun semakin penuh dengan tantangan. Semakin lama saya menulis semakin lama saya sadar bahwa writing is so complicated.
0 comments

class review 2: YUK BLUSUKAN DI DUNIA WRITING!!!



YUK BLUSUKAN DI DUNIA WRITING!!!
(by: Endang Siti Nurkholidah)
            Blusukan dalam dunia writing? Sepertinya ini hal yang jarang ditemukan di Indonesia. Memang pada dasarnya menjamah dunia writing sangatlah tidak mudah dan banyak orang-orang tidak menyukainya. Padahal menulis adalah sesuatu yang dangat dianjurkan bagi setiap manusia, khususnya bagi siswa, mahasiswa, guru, dosen bahkan profesorpun harus berani blusukan dalam dunia writing.
0 comments

Chapter Review: Intensitas Sebagai Prioritas



“Intensitas sebagai prioritas”

{DIANA}
               Intensitas?” makna intensitas disini adalah suatu alat yang menyatakan keadaan terhadap suatu hal tertentu sebagai pencapaian priooritas keadaan yaitu dimana kedudukan intensitas itu sangat penting sebagai tolak ukur suatu proses keadaan menjadi lebih baik. Khususnya intensistas terhadap kualitas atau tingkat pendidikan. Untuk memprioritaskan kualitas pendidikan itu didasarkan pada kualitas bahasa yaitu dimana seseorang atau orang yang berpendidikan harus mampu menguasaia ilmu bahasa yang tersusun kedalam empat skill yaitu membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Keempat skill itu adalah penunjang atau dasar  dalam belajar bahasa yang harus dimiliki khususnya untuk mahasiswa bahasa
0 comments

Chapter Review: BISAKAH LITERASI SEBAGAI MAKANAN POKOK?



BISAKAH LITERASI SEBAGAI MAKANAN POKOK?
Atiyah

            Definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis dalam konteks persekolahan Indonesia. istilah literasi jarang dipakai, istilah yang sering digunakan adalah pengajaran bahasa atau pembelajaran bahasa ( Setiadi : 2010)
0 comments

Pendidikan Adalah Kunci Penting Berliterasi (Chapter Review 1)



Pendidikan Adalah Kunci Penting Berliterasi
Author : Dwi Arianti
Negara yang maju adalah negara yang berliterasi. Pernyataan Suherman dalam bukunya yang berjudul Mereka Besar Karena Membaca merupakan bukti nyata bahwa membaca -berliterasi- akan membawa negara menjadi maju. Hal ini mempunyai kaitkan dengan pernyataan dari Micheal Barber dimana pada abad ke-21 ini, world class standart will demand that everyone is highly literate, highly numerate, well informed, capable of learning constantly, and confident and able to play their part as a citizen of a democratic society.
0 comments

Class Review 2: HIRUK PIKUK LITERASI



HIRUK PIKUK LITERASI
Atiyah

            Pada hari senin 10 Febuari 2014, kemarin adalah hari kedua dalam belajar bersama Mr. Lala Bumela di semester ini, yang dimana aku dan teman-teman yang lain harus menyetorkan atau harus memeberikan kepada beliau dengan hasil class review dan appetizer minggu yang lalu. Dari situ beliau mampu menilai kita semua dengan jawaban-jawaban yang kita berikan ketika beliau bertanya pada satu-persatu diantara kita semua.
0 comments

Appetizer-1: INDONESIA GAK DOYAN NULIS



Appetizer-1
INDONESIA GAK DOYAN NULIS
(by. Endah Jubaedah)

Apalagi yang harus ditulis dan diwacanakan? Jika bangsa kita memang tak pernah sadar keharusannya untuk menulis.  Berapa banyak lagi inspirasi dan motivasi yang harus bermunculan agar giat menulis? Jika hanya beberapa hitungan jari orang-orang yang terinspirasi.  Kegemaran menulis memang begitu sulit menjadi kebiasaan masyarakat bangsa kita, terbiasa ngerumpi lebih cocok dan tak pernah tertinggal.  Sungguh asyik bila obrolan semakin memanas dan memanjang, enggan mengakhiri.  Lupa waktu pun bukan halangan untuk absent dari aktivitas ngerumpi, justru semakin banyak obrolan-obrolan yang akan menambah kehangatan suasana dan merasa “betah” ngerumpi.  Fenomena ngerumpi mampu menghipnotis masyarakat kita secara besar-besaran dari berbagai lapisan, mencatatkan kegemarannya di peringkat tertinggi.  Bagaimana tidak? Aktivitas yang satu ini sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan.
0 comments

chapter 1: evolution of literacy








Chapter review 1
Evolution of literacy
(By : Evi Alfiah)

Bermulai dari definisi literasi yang selalu berevolusi dan pemaknaannya semakin kompleks serta meluas.  Definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis (7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005 : 898).  Hingga beralih ke definisi baru yang menunjukan paradigm baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya.  Semula literasi hanya dianggap persoalan psikologi yang berkaitan dengan kemapuan mental dan keterampilan baca-tulis, padahal literasi adalah praktik cultural yang berkaitan denagn persoalan social dan politik.  Hingga ada ungkapan literasi computer, literasi virtual, literasi matematika, literasi IPA dan sebagainya.
0 comments

class review 2: susahya menulis







Class Review 2
Susahnya menulis
(By : Evi Alfiah)

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Mata Kuliah Writing and Composition 4 juga masih menunjukkan keaktifannya.  Senin, 10 Februari 2014 merupakan pertemuan yang ke-3 di mata kuliah ini.  Mr. Lala membawakan materi lanjutan tentang writing di kelas TBI A, tepatnya tentang Academic Writing.  Academic Writing bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena di dalamnya terdapat content yang sangat berbobot dan memiliki aturan-aturan tertentu.
0 comments

class review 2: sulitnya menulis






2nd  Class Review
Sulitnya menulis...
(by: Fitria Dewi)

            Kemarin tepatnya pada tanggal 10 februari 2014 di hari senin pagi yang sangat cerah, saya dan dan teman-teman bertemu kembali dengan mata kuliah writing and composition 4 atau yang sekarang berganti nama menjadi academic writing.  Hari itu adalah pertemuan kedua kami dengan mata kuliah tersebut, seperti yang sudah pernah dikatakan oleh pa Lala, semakin hari materi yang akan kita dapatkan semakin sulit dan sayapun menyadari akan hal itu, menulis bukanlah sesuatu yang asal-asalan saja tetapi sesuatu yang sangat sulit sekali jika kita tidak terbiasa untuk melakukannya.
0 comments

Class Review 2: Makna di Balik Kekuatan




“Makna dibalik Kekuatan ”
{DIANA}
           Kekuatan merupakan simbol dari rasa keteguhan diri seseorang untuk tetap bertahan terhadap suatu keadaan yang terjadi. Seperti yang terjadi dalam diri saya yang terbaring seharian tidak berdaya. Akan tetapi meski keadaan saya yang sakit tidak membuat saya untuk tidak mengerjakan tugas karena ini sudah menjadi kewajiban saya yang harus diselesaikan tepat pada waktunya. Bagi saya tugas ini ibaratnya bisa dikatakan sebagai hidup dan mati saya
0 comments

chapter 1: Putaran Literasi




1st  Chapter Review
Putaran Literasi
(by: Fitria Dewi)
Masih berputar pada lingkaran literasi, mengapa kita harus berliterasi? Ada banyak sekali alasan mengapa kita perlu berliterasi, salah satunya adalah “orang yang berliterasi adalah orang yang berperadaban tinggi” dan orang yang illiterature (orang yang tidak berliterasi) adalah orang yang tidak pernah menaati peraturan.  Seperti contohnya, jika ada peraturan “Jangan membuang sampah sembarangan” jika ia tidak mempunyai jiwa literasi yang tinggi, maka meskipun ada peraturan seperti itu, ia tetap melanggarnya karena ia tidak mempunyai jiwa literasi itu.
0 comments

Chapter Review: Pembenahan Besar-besaran


Pembenahan Besar-besaran!
Oleh Apif Rahman Hakim

Secara umum, para ahli bahasa mengelompokan periodesasi penggunaan metode dan pendekatan khususnya kepada sistem pengajaran bahasa asing yang dikelompokan ke dalam 5 kelompok besar yaitu sebagai berikut.
0 comments

class review 2: Benar-benar Membuat Frustasi



2nd  Class Review
Benar-benar Membuat Frustasi
(by: Dewi Patah Andi Putri)
Menulis merupakan sesuatu yang membuat saya merasa frustasi.  Benar-benar membutuhkan ekstra energi untuk melakukannya.  Bukan hanya kekreatifan tetapi juga melibatkan mood dan sedikit cemilan untuk menemaninya.
0 comments

chapter review 1: Menyelami Budaya Literasi






1st  Chapter Review


 Menyelami Budaya Literasi


(by: Dewi Patah Andi Putri)

Kali ini literasi sangat hangat diperbincangkan.  Secara definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis.  Kirsch dan Jungeblut dalam buku literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk menggembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.  (Suherlicentre.blogspot.com)
0 comments

chapter review 1: Berlinguistik dengan Literasi




1st  Chapter Review
Berlinguistik dengan Literasi
(By : Eva Khodijah)
hati dan pikiran bergejolak saat sadar akan minimnya masyarakat dengan budaya LITERASI. Sebuah informasi dan fakta-fakta terkuak rapih pada halaman-halaman buku Dr. A. Chaedar Alwasilah yang berjudul ‘Rekayasa Literasi’. Lembaran-lembaran ini begitu menyadarkan pembaca dari hal-hal yang tidak mereka sadari menjadi hal yang ingin mereka capai. Literasi, itulah hal yang harus kita perbaiki. Menurut Pak Chaedar, literasi di Indonesia masih sangat rendah. Oleh karena itu, beliau mengkupas habis sebuah misteri di balik literasi dalam bukunya “Rekayasa Literasi.”
0 comments

Refleksi Bangsa: Tingkatkan Budaya Literasi Yuk!



Refleksi Bangsa: Tingkatkan Budaya Literasi Yuk!
By: Astri Rahayu

Lantainya dilapisi dengan karpet empuk, kursi bak kasur, suhu ruangan diatur agar selalu hangat, dan ruang bacapun dibuat cukup luas. Juga harga buku yang tergolong murah dan terjangkau oleh seluruh kalangan, jauh bila dibandingkan dengan harga buku yang dipatok di Indonesia. Lantas, bagaimana dengan kondisi literasi di bumi Nusantara ini?  Apa kita harus bercermin agar kita sadar bahwa kita sudah sangat tertinggal jauh dengan Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura?  Saya rasa kita harus segera bercermin dan melihat refleksi literasi bangsa  kita yang masih jauh dari kata “Baik” dan harus segera ditingkatkan.

Jika kita semua cermati kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari, budaya lisan telah mendarah daging di hampir setiap stratifikasi sosial. Proses transfer ilmu dan informasi lebih banyak dilakukan melalui mulut ke mulut. Budaya lisan ini semakin menguat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Tidak heran bila saat ini masyarakat kita merasa asing dengan buku. Mereka lebih fasih dengan nama-nama artis di televisi daripada nama penulis-penulis buku. Dalam disiplin ilmu pendidikan, kemampuan nalar sejatinya bertaut erat dengan literasi. Perlu dicatat, konsep literasi di sini tak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca-tulis, tapi juga berkaitan dengan kemampuan memaknai teks, seperti huruf, angka, dan simbol kultural, seperti gambar dan simbol secara kritis. 

Literasi dalam arti luas seperti ini sejatinya sudah cukup lama menjadi acuan UNESCO.  Ini bisa kita baca dari Literacy for Life, laporan UNESCO tahun 2006 tentang literasi dunia. Di situ dinyatakan, literasi adalah hak dasar manusia sebagai bagian esensial dari hak pendidikan.  

Literasi an activity, a way of thinking not a set of skills. And it is a purposeful activity—people read, write, talk and think about real ideas and information in order to ponder and extend what they know, to communicate with others, to present their points of view, and to understand and be understood (Langer, 1987).

Terpenuhinya hak literasi memungkinkan kita mengakses sains, pengetahuan teknologi, dan aturan hukum, serta mampu memanfaatkan kekayaan budaya dan daya guna media. Singkatnya, literasi menjadi poros upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Karena itu, ia merupakan sumbu pusaran pendidikan. Dalam pengertian lebih luas literasi juga dapat diartikan sebagai kemampuan nalar manusia untuk mengartikulasikan segala fenomena sosial dengan huruf dan tulisan. 

Walaupun saat ini literasi lebih banyak mempunyai makna sesuai dengan  perkembangan zaman saat ini, seperti yang dijelaskan di dalam Rekayasa Literasi  (Chaedar, 2004) bahwa bukan hanya sekedar persoalan psikologis, yang berkaitan dengan kemampuan mental dan keterampilan baca tulis. Saya sependapat dengan pak Chaedar. Mengapa demikian?  Ini semua dikarenakan konteks dari literasi sekarang sudah berubah, bukan hanya berkaitan dengan budaya baca tulis saja tetapi sudah menjalar ke arah politik, teknologi, ilmu pengetahuan alam, matematika, virtual, dll. Contohnya adanya literasi computer, literasi media, literasi sains dan literasi virtual.

Menurut saya, literasi bukan hanya tentang pendidikan, tapi merupakan investasi utama untuk masa depan dan langkah pertama menuju semua bentuk-bentuk baru literasi yang diperlukan dalam abad kedua puluh satu. Kita semua  ingin melihat satu abad di mana setiap anak dapat membaca dan menggunakan keterampilan ini untuk mendapatkan otonomi.
 Literasi juga ternyata mempunyai tujuh dimensi yang saling terkait, diantaranya: 
Dimensi geografis (local, nasional, regional, dan internasional)
Dimensi bidang (militer, pendidikan, komunikasi, administrasi, hiburan, dll) 
 Dimensi keterampilan (membaca, menulis, menghitung, berbicara) 
Dimensi fungsi (memecahkan persoalan, mendapatkan pekerjaan, mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, mengembangkan potensi.
Dimensi media (teks, cetak, visual, digital) 
Dimensi jumlah (satu, dua, tiga) 
 Dimensi bahasa (etnis, local, nasional, regional, internasional)

Minat baca anak Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2011 yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD) kelas IV, hanya menempatkan Indonesia pada posisi 42 dari 45 negara yang dijadikan sampel penelitian dengan nilai rata-rata 428. Dibawahnya ada Qatar, Oman, dan Maroko. Itu hanya salah satu fakta yang menyebutkan bahwa sangat ironis sekali  kondisi literasi siswa Indonesia saat ini.

Telah banyak dijelaskan temuan-temuan rapor merah literasi anak negeri yang tertoreh di proyek penelitian dunia. Kita mengenal seperti PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), PISA (Program in International Student Assessment), dan TIMSS (the Third International Mathematics and Science Study) untuk mengukur literasi membaca, matematika dan ilmu pengetahuan alam. Namun, fakta menyebutkan sunggu ironis hasil penelitian kondisi literasi anak Indonesia.
  • Skor Prestasi membaca Indonesia adalah 407 (untuk semua siswa). Angka ini dibawah rata-rata Negara peserta yaitu 500, 510 dan 593. Jauh berbeda dibandingkan dengan Rusia (565), Hong Kong (564), Kanada/Alberta (560), dan Singapura (559). Indonesia menempati urutan ke-5 dari bawah, yakni sedikit lebih tinggi daripada Qatar (356), Kuwait (333), dan Afrika Utara (304).
  
  •  Orang tua siswa Negara peserta PIRLS yang lulus universitas 25%, lulus SMA 21%, lulus SMP 31%, lulus SD 15%, dan tidak tamat SD 8%. Negara yang paling banyak memiliki orang tua lulusan universitas (>40%) adalah Denmark, Georgia, Islandia, Israel, Belanda, Norwegia, Qatar, Kanada. Sebaliknya, negara yang berpendidikan orang tua siswanya rendah (25% orang tua siswa tidak lulus SD) adalah Indonesia (46%), Iran (35%), Maroko (59%) dan Afrika Utara (26%). Dalam ruang lingkup PIRLS diketahui bahwa rata-rata skor capaian prestasi membaca 544 didapatkan oleh sekelompok siswa yang orang tuanya lulusan universitas, dan rerata skor 425 didapatkan oleh sekelompok siswa yang oleh orang tuanya tidak tamat SD. (Hayat dan Yusuf, 2010:73-81).
Dua temuan diatas sudah memberikan gambaran bahwa kita harus memperbaiki dan meningkatkan literasi siswa Indonesia. Ada beberapa variable yang berkaitan dengan pendidikan literasi, yakni pendapatan perkapita, pendidikan orang tua, fasilitas belajar, lama belajar di sekolah, human development index (HDI), dll. Manusia literat adalah merupakan SDM yang memiliki potensi untuk membangun bangsa. Pendidikan literasi adalah investasi jangka panjang yang berfungsi formatif, untuk meningkatkan HID dan menjamin kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik (Wagner, 1999 dan Barton, 2001 dalam Setiadi, 2010). Jadi, pendidikan literasi pasti mengubah pendapat dan pendapatan.

Dalam sejarah peradaban umat manusia kemajuan suatu bangsa tidak dapat dibangun hanya dengan bermodalkan kekayaan alam melimpah, melainkan juga berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan. Sebagai ilustrasi,dalam lingkup Asia Tenggara jumlah penerbitan buku di Indonesia tertinggal jauh. Menurut data Kompas pada tahun 2009, Indonesia baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku per tahun. Sementara itu, Malaysia mencatat 10.000 judul buku, Singapura 12.000 judul buku. Lebih lanjut, di kawasan Asia Pasifik Cina dan Jepang menerbitkan masing-masing 60.000 judul buku. 
Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca.” – Charles Jones.

Selain itu, jumlah penulis pun dinilai belum memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga satu buku dibaca untuk lima orang. Sedangkan di Amerika, satu orang minimal mengakses buku sehari sebanyak 20 judul buku.  Angka ini tentu saja menjadi semacam tamparan bagi bangsa dan juga penghuni di dalamnya. Betapa tidak, Indonesia sebagai negara berkembang yang seharusnya menempatkan pentingnya membaca dan memperbanyak karya tulis di urutan teratas, kini dinilai semakin tahun semakin menurun.

Untuk mengatasi ketertinggalan Indonesia di bidang literasi ini, yang paling mendesak untuk dilakukan adalah merevisi paradigma usang literasi dan menggantinya dengan paradigma yang lebih merefleksikan kebutuhan berliterasi di era ketika siswa dikelilingi teks, informasi, dan gambar dari berbagai penjuru. Upaya strategis yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan di sekolah.       

Ini berkaitan dengan penjelasan yang disampaikan pak Chaedar dalam Rekayasa Literasi bahwa ujung tombak pendidikan literasi adalah guru dengan langkah-langkah profesionalnya yang terlihat dalam enam hal: (1) komitmen professional, (2) komitmen etis, (3) strategi analitis dan reflektif, (4) efikasi diri, (5) pengetahuan bidang studi, dan (6) keterampilan literasi dan numeriasi (Cole dan Chan, 1994 dikutip oleh Setiadi, 2010). Dengan kata lain, membangun literasi bangsa harus berawal dengan membangun guru yang professional, dan guru professional hanya dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang professional juga.

Dari penjelasan yang saya jelaskan diatas, kita bisa tarik kesimpulan bahwa rekayasa literasi adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimal (Chaedar, 2004:172-1173). Perbaikan rekayasa literasi senantiasa menyangkut empat dimensi  menurut Kucer (2005: 293-4) terdiri atas:
                                         1.  Membaca dan menulis memerlukan pengetahuan yang mencakup
    Ø  System bahasa utuk membangun makna seperti jenis dan struktur teks, morfologi, sintaksis, semantic, ortografi, dll.
    Ø  Persamaan dan perbedaan bahasa lisan dan tulis.
    Ø  Ragam bahasa yang mencerminkan kelompok, daerah, etnis, agama, pekerjaan, status sosial, dll.
         
           2.  Kognitif atau focus minda
          Membaca dan menulis itu memerlukan pengetahuan dan keterampilan:
    Ø      Aktif, selektif, dan konstruktif saat membaca dan menulis
    Ø  Memanfaatkan pengetahuan yang ada (schemata), schemata disini adalah semua yang kita lihat dengan mata yang berfungsi  untuk membangun makna.
    Ø  Menggunakan proses mental dan strategi untuk menghasilkan makna (memprediksi, memonitor, mengevaluasi, merevisi, merespons, menarik kesimpulan, membangun koherensi, dll. Disesuaikan dengan jenis teks, tujuan dan penoton. Maknanya, membangun literasi itu adalah membangun semua keterampilan tersebut.
             
            3.  Sosiokultural atau focus kelompok
          Membaca dan menulis memerlukan pengetahuan tentang:
    Ø  Tujuan dan pola literasi yang beragam sesuai dngan kelompok, daerah, lembaga, etnis, agama, pekerjaan, status sosial, dll.
    Ø  Aturan dan norma dalam melakukan transaksi dengan bahasa tulis.
    Ø  Fitur-fitur linguistic dari berbagai teks untuk berbagai tujuan di dalam dan untuk silang kelompok dan lembaga seperti terkait suku bangsa, budaya, agama, dll.
    Ø  Bagaimana menggunakan literasi untuk memproduksi, menggunakan, mempertahankan, dan mengontrol pengetahuan di dalam dan silang kelompok sosial dan lembaga seperti terkait suku bangsa, keluarga, sekolah, dll.
    Ø  Bentuk-bentuk dan fungsi literasi tertentu yang bernilai tinggi dan dipertahankan oleh berbagai kelompok terkait suku bangsa, agama, dll. Maknanya, literasi itu mengajarkan sejumlah kepekaan tekstual dan cultural lintas kelompok dan lembaga.

                                             4. Perkembangan atau focus pertumbuhan 
                                      Menjadi literat itu adalah proses “menjadi” atau secara berangsur menguasai sejumlah pengetahuan tentang:
    Ø  Pembelajaran aktif dan konstruktif dalam perkembangan literasinya.
    Ø  Pemakai berbagai strategi dan proses menginstruksi berbagai dimensi literasi seperti pengumpulan data, mengajukan hipotesis, menguji hipotesis, dan memodifikasi hipotesis.
    Ø  Pengamatan atas dan melakukan transaksi dengan mereka yang lebih fasih di dalam dan diluar kelompok sosial dan lembaga seperti terkait etnik, budaya, agama, keluarga, pekerjaan, sekolah dan pemerintahan.
    Ø  Bagaimana menggunakan dukungan dan mediasi dari pelaku literasi yang lebih fasih di dalam dan di luar kelompok sosial dan lembaga terkait etnik, budaya, agama, dll.
    Ø  Pemanfaatan pengetahuan yang diperoleh lewat membaca untuk mendukung kegiatan (perkembangan keterampilan) menulis dan sebaliknya.
    Ø  Bagaimana menegosiasi makna tekstual melalui pemakaian dan dukungan system komunikasi alternative seperti seni music, matematika, dll. Perlu disadarkan bahwa berliterasi itu sebuah proses “menjadi” secara berkelanjutan yakni melalui pendidikan sepanjang hayat.

    Mengajarkan literasi pada intinya menjadikan manusia yang secara fungsional mampu membaca –tulis, terdidik,, cerdas, dan menunjukkan apresiasi terhadap sastra. Selama ini Indonesia relative berhasil memproduksi manusia yang terdidik tapi pada umumnya kurang memiliki apresiasi terhadap sastra khususnya. Meluruskan rekayasa literasi seharusnya diawali dengan pemahaman atas berbagai paradigma atas berbagai paradigm pengajaran literasi. Secara garis besar, ada tiga paradigma yaitu:

    1. Decoding, menyatakan bahwa grafofonem berfungsi sebagai pintu masuk literasi, dan belajar bahasa dimulai dengan menguasai bagian-bagian bahasa. Dengan kata lain siswa membangun literasi dengan diajari terlebih dahulu tentang literasi, yakni bagaimana memaknai kode bahasa.

    2. Keterampilan, bahwa penguasaan morfem dan kosa kata adalah dasar untuk membaca. Dengan kata lain, siswa membangun literasi dengan cara siswa memaknai bentuk-bentuk bahasa seperti morfem dan kosa kata.

    3. Bahasa secara utuh, paradigma ini menolak pembelajaran yang meletakkan focus pada bagian atau serpihan bahasa. Pengajaran bahasa mesti berfokus pada pembelajaran makna, yakni kegiatan mengajarkan makna secara utuh, tidak parsial.

    Paradigma baru literasi, yang tak lagi berpuas diri pada kemampuan baca-tulis, tapi juga peningkatan daya nalar siswa, tentunya mensyaratkan proses peningkatan literasi yang berkesinambungan, dari jenjang pendidikan dini hingga dewasa. Tak ada jalan pintas untuk itu. Oleh karena itu, marilah kita memulai dunia literasi kita dari diri sendiri, keluarga, sahabat, teman, dan juga kalangan kerabat terdekat lainnya. Semoga dengan semangat literasi ini mampu membawa negeri ini, bukan hanya terhenti pada persoalan pemberantasan buta huruf, namun terlebih untuk mewujudkan cita-cita nasional dalam pembangunan sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya. Sebagai warga negara yang peduli akan kemajuan bangsa, kita wajib perduli dengan kondisi generasi bangsa saat ini yaitu tugas kita sebagai mahasiswa.

     So Woke up Guys!!




    0 comments