Kemauan untuk Menulis
By: Anisa
Jam terus
berdetak, menit silih berganti, waktu terus berjalan. Hati ku tak kuasa menanti
kehadirannya. Ku melihat pak Mumu sedang
memberikan tausiyah kepada kami. Entah mengapa aku tak begitu menghiraukan
apalagi tersihir dibuat oleh pak Mumu. Pikiranku hanya terlintas padanya, tiada
hentiku memikirkannya. Singkat cerita pak Mumu keluar, dan tak beberapa lama
Pak Lala orang yang kutunggu akhirnya datang. Start saat memasuki dunia penuh
haru. Mata dan telinga mengikuti alunan gayanya semua tertuju padanya. Dialah aktor
yang mengagumkan dalam dunia pembelajaran.
Inilah jalan cerita yang bisa ku ambil dari
pembelajarannya. Masyakat Indonesia lebih statistik dan tidak kritis. Setiawan
mengemukakan pendapatnya bahwa manusia sudah mulai berfikir krisis. Ini
dibuktikan dengan adanya uptade atau yang biasa akrab didengar update status
dalam sebuah jejaring sosial. Menulis bukan hanya secara formal, dengan adanya
media jejaring sosial sedikit demi sedikit masyakat sudah bisa menulis dan
membiasakan dirinya dalam menulis. Walaupun
hanya dalam media jejaring sosial setidaknya masyakat sudah mau menulis.
Dengan hal ini diharapkan masyakat sudah mampu untuk krisis.
Pada pandangan saya disini menulis tidak hanya sekedar
menulis, bila kita lihat tulisan pada update an itu, itu sama saja kita
berbicara namun hanya berbeda tempat saja sebab yang bernama update itu selalu
menyangkut pada aktivitas yang dilakukan. Sedang menulis disini yang dituju yaitu
mengenai tulisan akademik, dan itu sudah jelas berbeda sebab pada tulisan
akademik itu pasti melipu formal, impersonal, evidement dan synstematic. Sedang
dalam sebuah update apa mungkin semua itu tercantum?
Kemudian disini ada critical thingking atau berfikir
kritis. Pada kretikal ini banyak hal-hal yang perlu diperhatikan seperti,
relating to after next. Berserta you will not take a teks for graduade. Ini
termasuk ke dalam contoh-contoh yang relafan dalam berfikir krisis. Dalam
writing juga disebutkan dalam tiga katagori yaitu: (1) a way of knowing
something. (2) a way of refresanting something. (3) a way of reproducting
something. Dari ketiga kata kotagori diatas kata something selalu
disebut-sebutkan, mengapa demikian. Karena itu semua merupakan bentuk dari
informasi, pengetahuan dan eksperien.
Kata Pak Lala orang yang mampu mencapai nilai A dalam
mata kuliah writing 4, berarti dia adalah orang yang mampu menemukan sesuatu.
Selain harus menemukan sesuatu, dituntut harus bisa menjadi multilingual writer.
Dalam prefektif Pak Lala kita semua adalah multilingual writer, yaitu orang
yang bisa menulis dengan efektif dalam dua bahasa. Bertujuan sebagai pembaca
krisis di kedua bahasa. Mampu mengubah diri mahasiswa bahasa menjadi mahasiswa
yang menulis yang dapat membuat informasi hidup. Menulislah sebagai bagian dari
hidupmu yang bisa mengubah dunia. Jadi kita bukan hanya sebagai bangsa yang
pembaca yang kritis, tapi juga bisa menulis.
Dari ketiga katagori tersebut sudah pasti eksperimenlah
yang paling berperan dalam hal ini. Pengalaman adalah sumber dari berbagai ilmu
dan tentunya leebih mudah melekat dalam ingatan kita. Dengan pengalaman kita
banyak pengetahuan dan mampu memberikan pelajran tersebut kepada orang lain.
Bahkan ada istilah pengalaman adalah guru terbaik untuk kita. Olehn karena itu
mengalaman dijadiakan sebagai hal yang paling menonjol disini. Banyak pelajaran
yang mampu kita ambil dari sebuah pengalaman, apa yang membedakan kita dengan
orang lain. Jikalau bukan penglaman yang akan mengajari kita tentang hidup.
Kita juga membahas tentang literasi pada pendidikan yang
kemudian yang bertaut pada writing and reading. Dimana ada pendidikan disitu
akan banyak kita jumpai denga namanya menulis dan membaca. Mengapa demikian?
Karena dikurikulum yang dulu pendidikan standar untuk memenuhuhi tantangan
hidup cukuplah dengan membaca dan menulis. Setiap belajar kita akan akan
disuguhkan dengan menulis dan membaca. Dengan membaca kita bisa memahami sebuah
tulisan. Kemudian dengan menulis itu menandakan kita mampu memahami sebuah
bacaan. Seseorang yang bisa menulis sudah pasti dia bisa membaca.
Menurut Hyland, tulisan begitu rumit. Menulis adalah
praktik yang didasarkan atas harapan, peluang pembaca serta mampu menafsirkan
maksud penulis. Mengingatkan jika penulis mengambil kesulitan untuk mengantisipasi
apa yang dibaca. Menurut Hoey (2001), seperti yang telah dikutip oleh
Hyland (2004). Beliau mengibaratkan
penulis-pembaca sebagai penari, dan untuk mengikuti langkah masing-masing
setiap rasa perakitan dari sebuah teks dengan mengantrisipasi apa yang lain
kemungkinan akan dilakukan dengan membuat berbagai koneksi ke dalam teks.
Penulis-pembaca adalah penari itu saling melengkapi satu
sama lain. Saling membantu juga berjalan seirama. Jika kita menulis dengan
sasaran yang sama, maka kita enulis sesuai dengan pengetahuan yang sama pula
serta menulis juga harus keindahan dalma setiap kata atau bahasa. Dengan
demikian, bagi seorang penulis, pembaca harus mampu membuat sambungan yang di
sebut dengan seni. Apa yang sudah dibaca kemudia ditulis dengan gaya bahasa
yang kreatif itu merupakan suatu seni tersendiri yang ad dan muncul dalam diri
kita sendiri. Itu merupakan ciri khas yang akan membedakan penulis satu dengan
penulis lainnya.
Kesimpulan
Dari semua pembahasan diatas intinya adalah kemampuan
kita untuk mengelola sebuah tulisan dan bacaan. Apabila kita mampu menulis
berarti kita sudah mampu untuk berfikir kritis. Tulisan atau bacaan mampu
membuat kita menggali semua ilmu pengetahuan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan.
Karena ketika kita lupa akan tulisan atau bacaan kita menulis itu membuat
pengetahuan kita menjadi lebih hafal. Dengan membuka tulisan dan membaca kita
bisa lebih memahami sebuah tulisan atau ilmu dengan lebih mantap. Jadi kita harus mampu mencapai tujuan menjadi
seorang yang multilingual writer. Seperti apa yang menjadi keinginan kita sejak
sekarang dan seterusnya. Selalu berusaha untuk bisa menjadi pmbaca yang krisis
dan penulis yang multilingual.
By: ANISA PBI A/4