Showing posts with label Anisa. Show all posts
Showing posts with label Anisa. Show all posts

Class Review 7



Nuansa Baru untuk Semangat yang Baru
By : Anisa
Hari yang cerah untuk jiwa yang penuh warna. Akhirnya aku bisa mengikuti perkuliahan pak Lala, walaupun saya harus mengikutinya perkuliahan di kelas PBI.C tapi itu tidak menjadi penghalang untuk berjumpa dengan pak Lala. Pertemuan hari ini mempunyai cita rasa yang berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dimana saya berada pada zona yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Inilah nuansa yang baru dan semangat yang baru. Dan inilah yang saya dapat dari perjumpaan saya dengan Pak Lala.
0 comments

Class Review 6


Fakta Menggugah Hati
By : Anisa
            Hari ini kebetulan saya tidak bisa mengikuti perkuliahan seperti biasa. Bukan apa-apa sedang tidak enak badan, dan ini membuat saya terpaksa tidak masuk. Berpaling dari kondisi fisik saya yang masih belum fit total, mari kita lihat apa saja pembelajaran yang ada di kelas yang tanpa kehadiran saya. Saya melangkah dari powerpoint terlebih dahulu. Dalam powerpoint slide pertama jelas terpampang pembahasan tentang literat dimana sebuah tempat pengetahuan atau keterampilan yang mereka punggut, kumpulan yang di kuasai dalam perjlanan hidupnya sebagai bagian dari kesederhanaan dari cinta pada pengetahuan dan memberi pengetahuan. Begitu banyak pengetahuan yang harus dipelajari, dipahami lalu kemudian dimaknai; lebih banyak dari alasan menjadi sombong sebab apa yang baru kita mereka ketahui.
0 comments

Class Review 5



Kata Demi Kata
By : Anisa
Kesunyian yang begitu setia menemani ku dalam setiap lekukan  pena yang telah tertuntun oleh hati. Hati yang akan menuntut ku kedalam suasana yang hening tiada berbunyi. Hanya ada kesunyian yang selalu meliputi diri ini, yang sedang dihimpit oleh kata-kata yang tak dimengerti. Sebuah bukti dari kesungguhan hati yang tak mampu melewati tanpa ada tantangan yang tak berarti. Inilah sebuahh karya yang nyata tapi penuh dengan kisah yang tak dimengerti jika hanya dilihat dengan mata tertutup, tapi gunakan hati untuk melihat ini dan buka sedikit hanyalan tanpa memikirkan sebuah logika.
0 comments

Clas Review 4

Ungkapan menggugah Jiwa
By :Anisa
            Hening hembusan angin malam, tak terasa waktu telah tenggelam dalam larut suasana kesunyian meninggalkan jejeak-jejak tangan mengukir sebuah tulisan. Merangkai kata menjadi kalimat, menyusukan kalimat menjadi paragraf dan sampai pada artikel atau bacaan. Saya tak tau apa yang membuat saya sulit dalam merangkai kata, yang saya tau ini adalah saya, yang akan menulis dari pikiran merasuk ke dalam jiwa hingga menjadi sebuah kata yang penuh makna. Tak terasa pagi telah menjelma, menjemput hati bangkit dari kesunyian, menyambut sang mentari terbit dengan senyuman. Kaki melangkah penuh harapan menuju kampus negeri IAI syekh Nurjati Cirebon.
0 comments

Critical Review 2

Ada Fakta dalam fakta
By: Anisa
Buku dapat mengubah hidup seseorang. Sekilas ungkapan ini seperti bualan kosong. Atau ungkapan seseorang yang terlalu melebih-lebihkan suatu perkataan. Bagaimana bisa hanya dengan buku hidup kita bisa berubah so impossible. Tentu itu yang ada dalam pikiran anda. Bagaiman tidak, saya sendiri masih bertanya-tanya dalam hati saya. Apakah benar yang merubah hidup saya adalah sebuah buku? Ada seseorang yang berkata pada saya “Buku ini telah merubah hidup saya,” tentu itu sangat mengejutkan sekali bagi saya. Suatu hari saya diundang untuk berbicara di Universitas of Hawaii dan setelah itu  saya ke kantin. Saya memjumpai mahasiswa yang sedang membaca buku. Saya bertanya kepadanya: “apa pendapat anda tentang buku ini?” kemudian dia menjawab: “buku ini telah merubah hidup saya.” Akhirnya saya berfikir bahwa buku bisa mengubah hidup seseorang, itu akan memberi efek positif dalam dunia.
0 comments

Class Review 3



Lagi-lagi Literasi
By : Anisa

            Tak terasa waktu berjalan sangat begitu cepat. Mataku mengarah keseluruh penjuru kampus. Terlihat orang berlalu lalang dengan keperluannya masing-masing, begitu pula dengan diriku. Entah mengapa aku merasa hari ini begitu berbeda dengan hari-hari rabu yang lain. Sepertinya jawabannya adalah writing seharusnya berada pada hari senin di jam pertama.
            Senin lalu ada kejadian diluar dugaan kami. Sehinnga pengajaran tak berjalan secara efektif. Dan sebagai pengantinya,  kita membutuhkan hari lain untuk memperbaiki kekurangan kemaren. Dihari inilah kami berjumpa lagi dengan pak Lala dalam kurun dua pertemuan dalam satu minggu. Mata kuliah hari ini begitu penuh sekali, sampai aku tak bisa membayangan bagaimana aku menjalani hari ini. Diluar dengan aku tidak masuk kuliah writing pada hari ini. 
0 comments

Critical Review 1



Pendidikan Kemajuan Negara
By: Anisa

            Ketika semua bangsa bisa memperhatikan kualitas bangsanya tentu itu bukan hal yang mudah. Dimana akan ada banyak argument-argument yang ikut andil dalam hal ini. Tanpa mendahui dan tentunya tidak semerta-merta dibuat dengan seenak diri. Pendapat apapun harus di dengar dan dipahami dalam hal ini. Mungkin di negara-negara maju sangat memperhatikan keras hal dmikian, tapi tidak semua negara bisa memehami kuliatas bangsanya. Apakah sebuah negara yang maju harus mempunyai sistem pendidikan baik? Bukankah di semua negara sudah menyusuk pendidikan dengan baik bahkan sampai mendetail. Namun demikia,  mengapa masih ada kata negara atau bangsa yang tidak maju?
0 comments

Chapter Review

Keanekaragaman Literasi
By: Anisa

            Banyak para pakar yang telah mengemukakan pendapatnya tentang pendekatan. Para pakar bahasa mengemukakan beberapa penggunaan serta pendekatan, yang khusus terhadap pendidikan bahasa asing ke dalam lima bagian, yaitu: Pertama, pendekatan strukture dengan kajian grammar translation methods  pendekatan ini sangat populer sampai datang perang dunia ke-2, yang meletakkan fokus pembelajaran pada penggunaan bahasa tulis dan penguasaan tata basaha. Kedua, pendekatan audiolingual atau dengar-ucap pada tahun 1940-1960 yang menitikkan fokus pada latihan dialog-dialog pendek untuk dikuasai para siswa. Tujuannya agar para siswa mampu berdialog disaat berkomunakasi secara spontan. Namun, demikian cara ini anggap kurang karena dalam kenyataannya sering muncul hal-hal yang tak terduga.
0 comments

Class Review 2



Kemauan untuk Menulis
By: Anisa
 
Jam terus berdetak, menit silih berganti, waktu terus berjalan. Hati ku tak kuasa menanti kehadirannya.  Ku melihat pak Mumu sedang memberikan tausiyah kepada kami. Entah mengapa aku tak begitu menghiraukan apalagi tersihir dibuat oleh pak Mumu. Pikiranku hanya terlintas padanya, tiada hentiku memikirkannya. Singkat cerita pak Mumu keluar, dan tak beberapa lama Pak Lala orang yang kutunggu akhirnya datang. Start saat memasuki dunia penuh haru. Mata dan telinga mengikuti alunan gayanya semua tertuju padanya. Dialah aktor yang mengagumkan dalam dunia pembelajaran.
0 comments

Appetizer Essay: Ada Cinta dibalik Tulisan



Ada Cinta dibalik  Tulisan
Anisa
            Seseorang yang masih  sangat awam dalam membaca atau menulis. Mereka yang  tidak suka membaca ketika disodorkan teks, mereka akan merasa kecil hati bahkan sampai ada yang menyalahkan diri sendiri. Mengapa demikian, karena hampir 95 persen mahasisiwa mengemukakan bahwa mereka tidak mempunyai latar belakang cepat dalam membaca. Ungkapan tersebut telah memberikan banyak hal, yang dapat kita garis bawahi menjadi sifat fantastik dalam teks yang diciptakan dalam teks yang diciptakan oleh seorang penulis.
            Pendidikan bahasa di Negara kita telahgagal dalam mengembangkan pembaca krisis. Banyak lulusan Universias Indonesia yang sudah belajar bahasa lokal, bahasa Indonesia maupun bahasa asing  tapi tidak bisa menjadi pembaca krisis. Ketika ada ungkapan dari seseorang, bahwa dia mempuyai wawasan latar belakang yang sama itu dirinya adalah kontraktif.
            Ketika seorang pembaca mengemukakan bahwa dirinya belum mencapai tingkat tinggi dalam membaca. Itu tanpa mereka sadari mereka telah mengeritik diri sendiri dengan kurang mengetahui wawasan dalam membaca. Sebenarnya kita mampu mengevaluasi diri tapi kita tidak bisa memperbaiki diri kita. Hanya terpaku terhadap apa yang kita dapat tanpa mau mencari yang lebi. Seorang pembaca juga dituntut untuk bisa berkonsentrasi.
            Beberapa yang dapat menyelesaikan bagaimana pendidikan bahasa di Negara kita. Pertama adalah pendekata dalam membaca dan menulis. Kedua membaca datang dari menulis., ketiga yaitu seseorang yang rajin membaca tidak terlepas dari keahlian mereka dan intelektual dalam menulis. Pembaca krisis itu dia sangat percaya antara penulis dan membaca itu sama tanggung jawabnya terhadap makna dalam sebuah karya tulisa atau teks.
            Orang-orang muslim telah diingatkan pada surat An-nisa ayat 63, yang artinya untuk berbicara kepada orang lain dalam sebuah kata yang efektif untuk mencapai diri batin mereka, untuk cendekiawan muslim, kemudian dan menulis komunikatif yaitu sejalan dengan ajaran agama. Disini agama islam menganjurkan seseorang muslim untuk bisa membaca dan kemudian menulis. Tentunya sesuai dengan ajaran islam. Subkhanallah betapa besarnya budaya membaca dan menulis dalam sebuah Negara atau kehidupan.
            Sebagai seorang yang telah menngeluti dunia menulis pak Waston, lebih tepatnya dalam karyanya Pak Waston sebuah artikel kuat pembaca. Pembaca tak berguna (Jakarta Post-Januari 2014). Jika sebagai non Indonesia mampu membangun Indnesia Beliau mampu mengkeritik yang mampu membangun Indonesia untuk membaca. Sebuah pancingan yang dapat memicu kemarahan Indonesia untuk membaca. Kenapa, karena Negara kita, Negara Indonesia itu sangat lemah dan sukar untuk membaca.
            Dalam sebuah artikel kita tidak hanya bisa menarik kesimpulan dari suatu masalah tapi juga menyelesaikan  sebuah masalah. Seorang siswa diberikan sebuah teks akademik awalnya menggunakan bahasa Indonesia kemudian ditranslet kedalam bahasa Inggris. Itu pasti tidak dapat dipungkiri kalau budaya  membaca Negara kita masih sangat minim peminat dan sukar untuk mau membaca sebuah artikel, teks apalagi buku.
            Survice juga telah membuktikan, beberapa mahasiswa yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada tanggal 02 februari memberikan bukti bahwa  siswa tidak mampu mengidentifikasikan sebuah tema atau potongan prosa dalam bahasa Indonesia (prosa Indonesia). Itu dikemukakan oleh Dr. Iman, entah apa alasan Beliau melakukan ini dan buat apa. Yang pasti Beliau mencoba untuk membuat sesuatu kritikan untuk kemajuan mau membaca, dan menulis serta usaha untuk memahami sesuatu baik informasi atau apapun dari artikel atau sebuah buku.
            Disini kita dituntut untuk bisa menulis sejak dini. Sejak SMP harusnya ketika UAS atau UTS dianjurjkan untuk membuat cerpen saja agar otak mereka terbiasa untuk menulis. Sehingga di harapkan ketika mereka kuliah tidak perlu membuat Sekripsi, Tesis ataupun Sertasi. Karena mereka telah terbiasa dalam menulis jadi otak kita sudah diasa. Dengan dekian budaya menulis dalam Negara kita bisa berkembang, tapi sayangnya pendidikan membaca dan menulis tidak diberikan terhadap para siswa sesuai dengan kurikulum pendidikan.
            Bangsa indonesia dianggap sebagai bukan bangsa penulis. Surat yang dikirim oleh Jenderal Pendidikan Tinggi nomor 152/E/T/2012, kepada Rector, ketua, directur perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia tentang karya ilmiah telah memicu pro contra dilingkungan kampus sejalan dengan pemikiran masing-masing. Asosiasi perguruan tinggi swasta (Aptisi) terang-terangan membokait aturan tersebut. Ini sungguh sangat membuat kita terpukul bak di luncurkan bom Atom di Indonesia.
            Negara kita seharusnya mengeluarkan 80 ribu judul pertahun, bukan 8 ribu pertahun. Kita lipatkan 10 kali, dari 8 ribu judul menjadi 80 ribu judul pertahun. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah Negara kita mampu melakukan itu dan apakah kita benar-benar siap. Kemampuan menulis artikel jurnal seperti yang telah dihimbau oleh directur Jenderal Pendidikan Tinggi adalah literasi tingkat tinggi, yaitu kemampuan dalam memproduksi pengetahuan. Para Sarjana setelah membaca berbagai informasi dan melakukan penelitian harus mampu mengajukan sudut pandang baru, kesimpulan, rumus, serta teori agar dapat memperkokoh pengetahuan.
            Seberapa dalam dan canggih sebuah temuan atau penelitian bergantung pada akademinya S1, S2, S3 selamanya itu untuk kelulusan. Mahasiswa dituntut untuk menulis skrisi, tesis, atau sertasi dengan kekhasaan dalam bidang masing-masing. Disini kita dituntut sangat kersa untuk membuat karya ilmiah. Jadi sekripsi, tesis dan disertasi adalah bagian dari genre tulisan akademik (academic writing). Secara garis besar dengan menulis sekripsi mahasiswa mampu belajar menulis akademik, dengan menulis tesis mahasiswa belajar meneliti, dan dengan disertasi mahasiswa membangun teori atau rumus baru. Semuanya melaporkan hasil telaahan, pengamatan, atau eksperimen.
            Jadi kita mulai dari sekarang budayakan menulis, cintai menulis, dan biasakan menulis. Karena dengan  menulis bisa menggenggam dunia dan tentunya mempunyai wawasan yang luas. Disemester 2 kita dituntut untuk membaca. Semester sekarang kita dituntut untuk membiasakan menulis
Kesimpulan
            Kita dituntut keras untuk bisa menulis dan membuat orang mau menulis. Karena menulis itu juga mempunyai pengaruh terhadap citra Negara kita yang dianggap bukan bangsa penulis. Kita harus membuktikan bahwa Negara kita, bangsa kita kita mampu menulis. Tentunya dengan rumus dan metode yang benar. Selain menulis kita juga harus membaca dan jadilah pembaca yang krisis. Mampu memberikan argumen-argumen terhadap tulisan yang menurut kita kurang bagus. Agar ketika kita disodorkan dan menyuruh meresume atau yang baru tidak semerta-merta melainkan melalui prosedur. Agar tidak terciptapelecehan intelektual.
           
Budayakan menulis dari dini atau SMP dengan cara memberikan soal untuk membuat cerpen bukan materi-materi lagi. Selain siswa merasa jenuh, wawasan mereka juga hanya terpaku pada soal materi-materi saja. Ini bertujuan agar para murid terbiasa untuk menulis. Dengan harapan ketika mereka kuliah nanti tidak ada sekripsi, tesis, atau disertasi. Kenapa, karena para mahasiswa telah mampu menulis. Jadi tidak perlu menulis sekripsi, tesis ataupun disertasi yang hal itu asalnya termasuk kedalam academic writing dan curiculume pendidikan.      
0 comments

Class Review 1: Pertemuan Penuh Makna



Pertemua Penuh Makna
Waktu begitu cepat beranjak, tak terasa liburan telah usai kini datang masa penuh cerita. Dimana aku akan memasuki dunia yang penuh dengan warna. Tak sabar aku menunggu pertemuan penuh keriduan ini, yang telah menggebu-gebu. Hujan yang mengguyur  kota tercintaku. Bahkan sampai meredam sekelilingku rumahku, tak membuatku gentar untuk tetap maju mencari ilmu. Inilah kisah pertamaku masuk kuliah wriring and composition 4 bersama Mr. Elbi.
0 comments