Showing posts with label Evi Alfiah. Show all posts
Showing posts with label Evi Alfiah. Show all posts

Behind of Leading History

Critical Review 3


Behind of Leading History
(By : Evi Alfiah)

Introduction
Howard Zinn is great American activist and historian who make many people motivated with his books.  The author of “Speaking Truth to Power with Books” had changed every people’s mind and people thinking to be a critical person with the article.  In the article’s “Speaking Truth to Power with Books”, Zinn gave understanding to the readers that do not easily believe in history that has been written, because it could be it is not the truth.  However, he never said hand over to make clear the history it is self.  It made the reader got new insight about the truth of history.  Moreover, his courage that reveals the historian purity through the story of Christopher Columbus is known as the hero or the discoverer of America Continent.  The historians that include are Harvard and Samuel Elliot Morison.
0 comments

Modal Seorang Kritikus

Class Review 7

Modal Seorang Kritikus
Sebuah cambukan keras bagi para Mahasiswa TBI_A dalam Mata Kuliah Writing and Comprehension yang masih jauh memenuhi apa yang diinginkan dosennya.  Semuanya tertunduk tanpa sepatah katapun.  Mererka tak ubahnya seperti lebah madu yang menyengat manusia dan akhirnya mati sendiri karenanya.  Begitupun dengan Mahasiswa TBI-A yang begitu semangatnya menyuntikkan tiap goresannya pada lembaran-lembaran kosong, tapi pada akhirnya tertunduk karena salah.  Ya, mereka salah membuat tugas critical review pada Mata Kuliah Writing and Comprehention 4 yang dilatih oleh Mr. Lala Bumela.
0 comments

Kreatifitas Menulis Sebuah Praktek Literasi



Class Review 6
Kreatifitas Menulis Sebuah Praktek Literasi
(By: Evi Alfiah)

Pagi-pagi buta ketika hari masih gelap dan berkabut diselimuti oleh dingin yang memaksa saya harus terbangun dari mimpi malam itu.  Hari ini tidak seperti biasa. Jam 05.00 tepat saya harus berangkat ke kampus, karena perkuliahan dimulai pada jam 05.45 WIB.  Waktu yang cukup pagi untuk memulai perkuliahan. Namun dengan semangat para mahasiswa antusias mengikuti perkuliahan.
0 comments

Literacy: Lebih Dalam Memahami Baca-Tulis


Class Review 5
Literacy: Lebih Dalam Memahami Baca-Tulis
(By: Evi Alfiah)

Background knowledge merupakan factor yang membuat pembaca memiliki selera membaca yang berbeda.   Tidak semua pembaca suka terhadap suatu bacaan tertentu, karena mereka memiliki level bacaan yang berbeda.  Hal ini juga yang terjadi di kelas writing 4 TBI-A.  hasil karya tulis para mahasiswanya belum bisa memenuhi kepuasan dosennya sebagai pembaca.  Senin, 03 Maret 2014.  Mr. Lala Bumela masih aktif membawakan Mata Kuliah Writing and Comprehension 4 di kelas TBI-A.  Beliau masih semagat membawakan materi-materi writing yang luar biasa yang harus mahasiswa gali lebih dalam.
0 comments

Class Review 4





Powerful Reader: Good Critic
(By: Evi Alfiah)

“Berkariblah dengan sepi”, merupakan untaian kata yang pas untuk menggambarkan setiap penulis.  Untaian kata-kata dari Mr. Budi Hermawan ini terasa menyentuh hati para pembacanya yang memposisikan dirinya sebagai seorang penulis.  Seorang penulis yang haurs berteman dengan sepi agar senantiasa mendapat ide-ide brilian untuk tulisannya.  Karena dalam sepi, ide-ide berterbangan bagaikan sekumpulan laron yang mengerumuni sang lampu yang berpijar.
Senin, 24 Februari 2014, memulai hari dengan Mata Kuliah Writing and Composition 4 bersama Mr. Lala Bumela di kelas TBI-A.  hari ini merupakan pertemuan untuk kesekian kaliya di mata kuliah ini.  Pada pertemuan kali ini, Mr.Lala masih mencoba member semangat kepada mahasiswanya agar lebih giat dan serius lagi dalam mengikuti mata kuliah ini.  Beliau masih membahas tentang menulis. 
0 comments

THE POWER OF BOOKS : The Book Effect of History



 Critical Review 2

THE POWER OF BOOKS : The Book Effect of History
(By : Evi Alfiah)

Dewasa ini peranan buku di ranah dunia semakin perpengaruh.  Banyaknya penulis-penulis hebat yang menjajahkan tulisannya pada dunia.   Seperti buku cerita atau novel, buku-buku pengetahuan serta buku-buku sejarah yang kian masa kian membludak.  Di ranah pendidikan mungkin sangat terkenal dengan buku-buku ilmu pengetahuan dan buku-buku sejarah yang dapat diterima baik dikalangan pelajar.  Namun, apakah buku-buku sejarah itu benar-benar menceritakan fakta atau hanya menceritakan kebohongan untuk golongan-golongan tertentu belaka. Ketika kita berbicara tentang sejarah, sangat tipis kemungkinan terhadap kebenarannya, karena kita sering kali dibingungkan oleh sumber-sumber yang telah ada.
0 comments

Class Review 3: Menumbuh-kembangkan Literasi



Class Review 3

Menumbuh-kembangkan Literasi
(By : Evi Alfiah)
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa yang diajarkan di semua jenjang pendidikan.  Namun ironisnya, kemampuan menulis justru menempati keberhasilan paling bawah dari keterampilan berbahasa yang lainnya.  Hal ini bisa dilihat lewat pernyataan Dirjen Pendidikan Tinggi.  Menurut dirjen pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah sangat rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, yakni hanya sekitar sepertujuh. (Pokoknya Rekayasa Literasi, 186 : 2012).  Pasti ada factor yang mengakibatkan hal ini bisa terjadi.
0 comments

1 st Critical Review: Pendidikan Toleransi


1 st Critical Review
Pendidikan Toleransi 
 (By: Evi Alfiah)
Di muka bumi ini tidak ada hal yang sama. Meskipun itu ada, tetapi pasti terkait dengan kuantitas dan itu tidak bisa dipungkiri.  Tidak ada hal yang sama seluruhnya.  Apalagi di negeri Indonesia tercinta ini, darisemboyan Bhinneka Tunggal Ika sudah jelas tergambar bahwa Indonesia ini terdiri dari kumpulan perbedaan dari hal yang sederhana seperti bahasa dan dialek, sampai hal yang rumit seperti kepercayaan dan adat-astiadat yang dianut. Indonesia adalah sebuah negara yang penduduknya majemuk dari segi suku bangsa, budaya dan agama.
0 comments

chapter 1: evolution of literacy








Chapter review 1
Evolution of literacy
(By : Evi Alfiah)

Bermulai dari definisi literasi yang selalu berevolusi dan pemaknaannya semakin kompleks serta meluas.  Definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis (7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005 : 898).  Hingga beralih ke definisi baru yang menunjukan paradigm baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya.  Semula literasi hanya dianggap persoalan psikologi yang berkaitan dengan kemapuan mental dan keterampilan baca-tulis, padahal literasi adalah praktik cultural yang berkaitan denagn persoalan social dan politik.  Hingga ada ungkapan literasi computer, literasi virtual, literasi matematika, literasi IPA dan sebagainya.
0 comments

class review 2: susahya menulis







Class Review 2
Susahnya menulis
(By : Evi Alfiah)

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Mata Kuliah Writing and Composition 4 juga masih menunjukkan keaktifannya.  Senin, 10 Februari 2014 merupakan pertemuan yang ke-3 di mata kuliah ini.  Mr. Lala membawakan materi lanjutan tentang writing di kelas TBI A, tepatnya tentang Academic Writing.  Academic Writing bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena di dalamnya terdapat content yang sangat berbobot dan memiliki aturan-aturan tertentu.
0 comments

APPETIZER: GOOD READER IS GOOD WRITER



                                                                                                        APPETIZER ESSAY 1
                                                                                                                                           BY: EVI ALFIAH
GOOD READER IS GOOD WRITER
Literasi adalah kecakapan hidup yang memungkinkan manusia berfungsi maksimal sebagai anggota masyarakat.  Literasi mencakup kemampuan reseptif dan productif dalam upaya berwacana secara tertulis maupun secara lisan.  Sejak zaman dahulu para Filsuf Yunani Kuno sekitar abad ketiga-kelima SM, sudah bermunculan karya-karya tulis. Mereka meninggalkan pemikiran-pemikiran hebat secara tertulis.  Itu berarti literasi sudah ada sejak zaman dahulu.
Demikian juga dengan halnya membaca. Sekitar tahun 610 M,  Malaikat Jibril turun dari langit menemui Rasulullah yang sedang merenung di Gua Hiro.  Malaikat Jibrilpun menginstruksikan Nabi Muhammad SAW agar bacalah! Bacalah! Bacalah! Apa yang mesti dibaca? Tentunya bukanlah tulisan melainkan kondisi alam.  Bahwasannya alam dan segala fenomenanya juga merupakan karya tulis yang perlu dibaca.
Berbicara mengenai literasi, ada yang kurang di Negara Indonesia ini.  Seperti yang tertera di wacana 6.2 yang berjudul (Bukan) Bangsa Penulis.  Bahwasannya mayoritas sarjana lulusan perguruan tinggi kita tidak bisa menulis.  Bahkan para dosennyapun mayoritas tidak bisa menulis.  Jumlah karya ilmiah dari perguruan tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia.  Harusnya ini menjadi cambuk untuk bangkit dari ketertinggalan itu, tapi Indonesia harus extra hard mengejar ketertinggalannya karena Indonesia sangat jauh tertinggal apa lagi jika dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya.  Harus berlari cepat untuk mengejarnya. 
Benar saja di sebuah wacana yang say abaca pada sebuah blog yang dipost-kan oleh Totok Amin Soefiyanto, Ed.D yang berjudul Mencetak Macan Kertas.  Indonesia harusnya bisa mencetak macan kertas, yang artinya Indonesia memiliki penulis-penulis hebat serta sarjana-sarjana yang bisa menulis dengan munculnya surat Dirjen Pendidikan Tinggi Nomor 152/E/T/2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah yang tertanggal 27 Januari 2012.
Secara berjenjang,  lulusan S-1 harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.  S-2 membuat makalah untuk jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi Dikti.  Lulusan S-3 menulis makalah  yang terbit di jurnal internasional.  Permasalahannya yang terjadi di Negara kita ini adalah gagapnya menulis dan mnimnya membaca,  untuk itu tidak mudah atau bahkan sedikit minat pelajar negeri ini untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi.  Banyaknya pelajar yang putus sekolah. Banyak juga pelajar yang berpendidikan tinggi hingga sarjana tetapi masih gagap dalam menulis.  Factor-faktor yang menyebabkan hal ini terjadi sudah cenderung lumrah.  Diantaranya adalah factor kurangnya membaca.  Hal itu adalah salah satu factor mengapa sarjana kita gagap dalam menulis.
Selain itu, banyaknya pengaruh dari factor lingkungan sarjana kita menjadi gagap menulis.  Selain minimnya membaca, juga tersediannya cara-cara dan alat untuk menyelamatkan kesarjanaannya.  Maksudnya banyak sarjana menulis bukan hasil karya sebenarnya, adanya manipulasi dan kecurangan demi mengelabuhi wajib menulis ini seperti copy paste atau hasil karya orang lain.  Ketika sudah seperti ini, jelas saja sarjan-sarjana kita gagap menulis yang pada kenyataannya mereka tidak siap bersaing dengan sarjana-sarjana produksi negara asing.  Hal itu membuat literasi di Negara Indonesia masih rendah entah dari segi baca maupun tulis. 
Seperti yang diungkapkan pada wacana 6.3 yang berjudul Powerful Writers versus The Helpless Readers.  Hampir 95 % dari mahasiswa Pak Chaedar adalah Blemed Themselves.  Mereka mengatakan tidak memiliki background membaca yang tepat, keahlian penulis sangat tinggi, angka tersebut masih di luar kapasitas mereka sebagai pelajar baru, retorika itu terlalu rumit atau mereka tidak bisa berkonsentrasi ketika membaca.  Hal itu menurut saya mungkin alas an untuk kesekian kalinya, karena pada dasarnya masyarakat kita ini belum bisa move on dari kebudayaan yang terus berkembang biak yaitu ‘ngobrol’.  Warga Indonesia lebih suka berbicara daripada menulis dan membaca. Dengan demikian, waktu terus berjalan tapi tidak banyak pengetahuan baur yang bisa diserap.  Masyarakat yang kuat dalam tradisi membaca akan kuat pula dalam tradisi menulis.  Bisa dibayangkan jika para pelajar, mahasiswa kita jika memiliki tradisi membaca yang kuat, maka kemungkinana negara kita akan dapat bersaing dengan negara maju lainnya.
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga wacana dari (Bukan) Bangsa Penulis, Powerful Writers versus The Helpless Readers. Dan Learning and Teaching Process : More about Reades and Writers berisi tentang kritik tentang minat baca-tulis masyarakat di negara kita yang masih cukup rendah.  Untuk merespon hal tersebut, pendapat saya adalah pertama, tiap-tiap pelajar harus ditanami minat-minat baca-tulis sejak dini.  Kedua, lebih ketatnya jenjang tulisan bagi para sarjana agar mendidik sarjana berikutnya yang kritis dan berfikir ilmiah.  Ketiga, dibukanya taman baca di tiap daerahnya agar dapat menyentuh ke semua penjuru dan kalangan.  Ketika budaya baca di negara kita baik, maka budaya tulispun mengikuti baik pula dan negara kita dapat memproduksi orang-orang yang kritis dalam membaca dan menulis.  Negara kita otomatis akan menjadi negara yang memiliki literasi tinggi.

0 comments

class review: writing again



                                                                                           CLASS Review
                                                                                           By: Evi alfiah
Writing Again
Seperti harus terbangun dari mimpi. Simpan angan-angan tentang liburan.  Berhenti sejenak dengan kesibukan berorganisasi dan lainnya, karena kuliah sudah mulai aktif.  Senin, 03 Februari 2014 adalah hari pertama masuk kuliah.  Jam 07.30 sudah disambut oleh mata kuliah writing 4 yang  dibawakan oleh Mr. Lala Bumela di kelas TBI.A.
Setelah satu musim tidak bertemu mr.lala dalam mata kuliah writing, kali ini beliau kembali memegang mata kuliah writing lagi.  Musim lalu beliau memegang mata kuliah Phonology dan writing musim lalu dipegang oleh mrs. Farah yang ternyata nilai writing musim lalu tidak cukup memuaskan.   Mr. lalapun bertanya ada apa dengan kelas A? apa yang terjadi, sehingga nilai kami sangat jauh tertinggal dari kelas-kelas lainnya.  Mungkin kurangnya kekompakkan dan kebersamaan adalah salah satu factor penyebab nilai kami anjlok.  Namun, biar bagaimanapun kami selalu berusaha untuk saling solid satu sama lainnya.
Pada pertemuan kali ini, Mr. lala menyampaikan tentang kontrak belajar.  Beliau menerangkan dengan cukup jelas dan isinya juga cukup lebih ketat dari sebelumnya.   Itu membuat kami anak-anak TBI.A harus extra hard menhadapi mata kuliah writing pada semester sekarang ini.  Mr. lala member tema writing kali ini yaitu writing for academic.  Writing di semester kali ini akan sangat berbeda dengan writing pada musim lalu yang berisi tentang cerita narasi, descriptive dan sebagainya.  Kali ini beliau lebih menekankan tentang writing for academic sesuai dengan temanya yang pastinya akan sangat jauh berbobot dari sebelumnya.
Ada tujuan tertentu mengapa Mr. Lala memilih writing for academic, karena penting juga untuk kita sebagai mahasiswa yang haurs bisa menulis serta writing kali ini juga mendukung tugas-tugas kita dalam mata kuliah yang sangat tidak jarang ditugasi untuk menulis seperti essay, paper, research paper, analisis paper dan sebagainya.   Menurut mr. lala pada silabusnya, dalam academic writing assignment bahwa kita akan bermulia dari sebuah pertanyaan yang bagus kemudian temukan dan analisa jawabannya lalu pilih jawaban terbaik untuk didiskusikan pada tulisan kita.   Jadi memang benar apa yang dikatakan mr. lala dalam sylabusnya mengenai writing kali ini membuat kita berlatih diri untuk show up apa yang telah kita mengerti dan membuat kita dapat berfikir kritis tentang sebuah topic.
Bahkan writing 4 kali ini dibuat sedemikian rupa oleh Mr. Lala yang mempunyai nilai plus.  Nilai plusnya adalah kita akan membangun sill kita dalam researching, evaluating information, organizing, arguing, responding to others, arguments, annalizing and expressing diri kita secara jelas dalam menulis.  Kesemuanya ini tertera dalam silabus. 
Dalam slide power pointnya, Mr. Lala mengupas mengupas tentang a highlight on writing 4 yang akan beliau bawa di semester ini yaitu belajar bagaimana untuk menulis dalam sebuah second language is one of the most challenging aspects of second language learning (hyland 2003). Then even for those who speak English as a first language,  the ability to write effectively is something that requires exensive and specialized instruction (Hyland 2003 : Hyland 2004).
Mengutip dari hyland 2002, expectation beliau adalah untuk be honest yang mana antara lain; pertama, untuk membantu guru bahasa menjadi guru writing, karena seorang gur bahasa belum tentu bisa menjadi gur writing atau tidak bisa menulis  dan sebagai guru writing harus bis menggunakan berbagai bahasa atau kenekaragaman bahasa  .  kedua, seorang affective teacher adala yang dapat membuat informasi, memilih metode, material dan procedural untuk digunakan di kelas  berdasarkan dengan pemahaman yang sangat jelas tentang current attitudes dan practices dalam profesinya.  Dan yang ketiga, yaitu, seorang guru yang hebat adalah seorang reflective teacher dan reflection requires the knowledge to relate classroom activities to relevant research and theory.
Dalam semester ini, beliau sangat mengarahkan kami untuk menjadi seorang guru yang hebat tentunya, terlebih dengan bahan yang kami puny mengenai literasi itu dapat mengajari kam menjadi masyarakat yang literat.  Harapannya dengan belajar menulis seperti ini agar kami bisa menulis minimalnya untuk tuntutan kami sendiri sebagai mahasiswa.  Selain itu, kami juga diajari menjadi seorang good reader dan ketika kita ingin menulis otomatis untuk mempermudahnya kita harus memperkaya bacaan kita juga agar tulisan kita dapat dibuat dengan baik.  Ilmu didapat selanjutnya dituangkan dalam setiap goresan-goresan tinta.
Dengan penjabaran yang lumayan seabreg dan dengan kontrak belajar yang sudah diterangkan mr. lala tidak lain adalah kita harus siap fisik dan mental untuk menghadapinya.  Bahkan dalam silabus beliau saja tertera kurang tidur, sore eyes, back pain, strained fingers, books scattered all over the room and so on. Itu menandakan bahwa kiat akan menghadapi tantangan yang sulit dan tidak main-main. Namun, saya berusaha menjalaninya dengan enjoy agar tidak membuat stress atau malah wajib?? Itu tandanya ada usaha.
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa writing kali ini adalah menuntut kita menjadi masyarakat literat yang membiasakan budaya tulis dan budaya baca.  Serta menyiapkan kita untuk dapat menjadi seorang guru yang baik dalam segi bahasa maupun menulis. Keterampilan menulis dilakukan dengan practice, practice, and practice sejak dini atau mulai dari sebuah tuntutan menjadi seorang mahasiswa.













0 comments