Showing posts with label Eva Khodijah. Show all posts
Showing posts with label Eva Khodijah. Show all posts

Critical Review Revised




The Lie behind a History
“History is important. If you don't know history it is as if you were born yesterday. And if you were born yesterday, anybody up there in a position of power can tell you anything, and you have no way of checking up on it.”
Howard Zinn
Introduction
In this section, I will discuss the article entitled ““Speaking The Truth to Power with Books”and the author of book, Howard Zinn. This article was about the truth of America history which was explained by Howard Zinn, the historian from the Jew who had a different view about Chirtopher Colombus. He did not considered that Christopher Colombus as the hero but actually he was the shutter of America. Howard Zinn had explained the real American  history is. He consired that the historian who told Colombus as the hero and the important person for America is wrong. He teke a different way to talk abot American history and Christopher Colombus. He assumed that the other historian had lost the part of American history which was called the crucial part.
Howard Zinn was the sensational historian who had a different thing with the other historian. He said that history was written by the winners. They were the historian who could make a history what they want and lost the other crucial part of history. They as the winner in make a lie because they had a power. It was like Samuel Elliot Morrison. Zinn did not like him because he had lost the part of American history and emphasize the fact that he liked. So, if I give the critic for Zinn, I shall  be claiming that Howard Zinn was not different with Marrison. He had lost many parts of American history. He also wrote what he want. It was like he had lost the history of America before Colombus came in America. He didi not wrote who is the real people who found America.In concluding, I shall show that Howard Zinn was same with the other historian. He take history from left corner. He wrote what he liked and lost what is the real.so, he also had made a lie.
0 comments

7th Class review



Mendalami Critical Review dan Sejarah

Perjalanan hebat Writing And Composition 4 semakin jauh, pada hari Senin lalu PBI A mendalami sebuah critical review yang ternyata membuatnya adalah sesuatu yang tidak mudah. Critical review menguras otak dan pikiran karena di dalamnya terdapat komposisi gagasan, ide, pendapat seorang kepada suatu variable.
0 comments

6th Class Review



Perjalanan Ideologi Mengupas Sejarah

Perjalanan nampaknya semakin jauh, jauh melangkah ke arah ayng lebih serius. Bereada di pertemuan keenam ini membuat pikiran, mental, hati, dan fisik pun terkuraskan. Namun, semangat terus dipertahankan dengan kuat. Masih berporos pada critical review. Namun, kali ini adalah penajamman critical review yang semakin intens dilatih dengan adanya ‘free writing’. Masih pula bergulat di areaa sejarah dan tranding topic ‘Howard Zinn’ dan ‘Colombus’. Para calon penulis ini bersikeras untuk membuat rajutan kata0katanya dalam menganalisa sejarah benua Amerika kemudian menyerang (mengkritisi) tokoh penting, Howard Zinn. Menganalisa bukanlah hal yang mudah, kita tidak hanya membaca namun menelaaah dan menelitinya kembali apakah sesuatu hal iti valid adanya. Setelah itu, kita bandingkan pula analisa tersebut dengan hal yang serupa. Menulis critical review adalah bagian dari perjalanan Writing 4 kami. segala sesuatu yang menjadi krirkil dalam menulis ini, kami sebrang dengan keberanian diri yang hakiki.
0 comments

The 5th Class Review



Lautan Materi Para Calon Penulis

Bertajuk ke fifth meeting pada Mata Kuliah Writing and Composition 4 PBI A bersama sang master, Pak Lala Bumela.  Week by week PBI A semakin memanas. Tepatnya pada hari Senin, o3 Maret 2014 PBI A kembali bertanding ria dengan Writing 4. Berada di middle session membuat para peserta harus konsisten. Apabila peserta ingin mundur dari pertandingan, lebih baik sekarang karena the next match adalah waktu-waktu kritis di mana tingkat kesulitan jauh lebih tinggi dengan previous match. Tantangan lebih tajam lagi dan pertarungan pun semakin sengit. Sang coach tidak setengah-setengah dalam mendidik dan melatih para peserta writing ini. Tak segan-segan beliau menggunakan volume tingkat tinggi dalam pembelajarannya. Yang harus dilakukan para pesertanya adalah membuat progress yang maju dan bersinar berkualitas.
Pelatihan para calon penulis ini rupanya mendapat gretakan yang membuat jiwa tulis-menulis ini sadar. Sang coach memberikan kami evaluasi pada essay kami. masih banyak lubang yang menganga yang harus kami tutup rapat-rapat. Namun, inilah sebuah proses yang memang tidak bisa dihindari para calon penulis dalam perjalanannya menuju golden time for get the masterpiece. Pelatih mengevalusi kekurangan kami yang ternyata jumlah kekurangan kami tidak sedikit. Perlu ditekankan lagi beberapa kekurangan itu agar menjadi pelajaran dan tidak akan me-repeat kesalahan ini. Gretakan dan ketidakpuasan pelatih dijadikan sebuah butir motivasi agar lebih tertantang lagi dan maju dari sebelum
0 comments

Class Review 4



Harmonisasi Classroom Discourse
Senin! Itulah hari yang menurut orang-orang adalah hari sibuk, fullday, dan melelahkan. Hari senin telah menjadi icon hari yang tidak terlalu disukai orang-orang karena biasanya hari senin adalah hari bangkitnya para makhluk yang bernama manusia untuk kembali sekolah, bekerja, kuliah, dan sebagainya setelah menikmati weekend. Hari senin pula menyimpan sebuah ketegangan. Kegiatan  yang berat dan menyibukkan biasanya terjadi pada hari senin. Akan tetapi, berbeda dengan saya yang kuliah di IAIN dan tidak merasakan libur weekend yang akhirnya senin bagiku bukan hari bangkit dari libur akhir pekan. Namun, senin disini ialah hari bangkit PBI A English Departement untuk membuka mata, pikiran, hati, telinganya dalam belajar  Academic Writing,Writing 4. Hari yang seakan paling gengsi dan crucial ini, kami merasakan aura-aura yang menarik pusat perhatian kami. Ya! seninku, writingku. Di hari inilah kami menemukan the big inspiration and motivation for writing.
 Tepatnya, pada hari senin  24  februari 2014, kami bangkit untuk fighting dalam Mata Kuliah Writing and Composition 4 (Academic writing). Memasuki meeting yang keempat ni memunculkan rasa semangat lebih, khususnya saya karena tidak tahu mengapa saya semakin penasaran akan kelanjutan Writing 4 ini. Memasuki part critical review pertama membuat saya interest dan penasaran bagaimanakah critical review yang sebenarnya itu. setelah membuat the first critical review ini, pikiran pun terngiang-ngiang tak karuan memikirkan apakah saya telah benar dalam membuat critical review? Apakah saya termasuk pembaca yang helpless or powerfull? So, semunya telah dikupas habis oleh sang master Writing 4, Mr.  Lala Bumela, M.Pd.
0 comments

2nd Critical Review



Menerobos Keaktualan Sebuah Sejarah
Buku yang orang tulis adalah sebuah karya indah yang dapat dinikmati diri sendiri, pembaca, dan masyarakat. Sebuah buku adalah magnet pengetahuan yang mahal perkatanya. Penulis menuangkan kata-kata dengan penjiwaan yang mendalam agar maksud tulisan tersebut dapat terkirim ke pembaca yang menikmatinya. Menanggapi sebuah karya  masterpiece rangkain kata karya Howard Zinn  dalam sebuah artikel  berjudul “Speaking The Truth to Power with Books”. Artikel ini cukup menarik untuk diperbincangkan. Kata-kata yang dirangkai sang historian handal ini menggugah selera bacaan pembaca. Beliau mengambil pandangan dan sudut tulisan yang berbeda dan unik.  Beribu kata muncul di dalam benak seketika membaca masterpiece ini. Kata-kata setuju dan tidak setuju pun muncul sebagai rasa kepekaan membaca. Terselubung ide-ide baru yang mencuat dalam pikiran mengenai the book, Christopher Colmubus, history, dan lain sebagainya.
0 comments

3rd Class Review



Berliterasi Ria dengan Academic Writing
Kembali ke jornada ketiga Academic Writing League membuat persaingan semakin ketat dan memanas. Api persaingan begitu mengobar besar di jagat pertandingan ini. Adu tulis dan baca begitu membara di kalangan pemain-pemainnya. Setiap tim memacu kecepatannya lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka  bersaing merebut posisi teratas liga ini sebagai the best team. Setiap pemain pun bersaing ketat dalam individunya agar menjadi man of the match atau top player di liga ini. Begitu pula dengan PBI A Writing Club, kami tak ingin tertinggal jauh apalagi terdegradasi dari klasemen Academic Writing League. Oleh karena itu, kami memutar volume semangat kami menjadi full 100% on fire! Fresh mind pun siap disuguhkan untuk menangkap bola-bola writing yang hangat.
Seakan terkena kartu merah saat pertandingan di mulai, kami merasakan kelalalian amat besar yang telah kami lakukan. Keseriusan dalam bertanding pun dipertanyakan sang pelatih. Namun, kami berusaha sekeras mungkin untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kami. Setelah semuanya dapat terselesaikan, kami pun bangkit dan tiba-tiba muncullah kembali momen yang memikat para pemain di  Academic Writing  Leage. Di pertandingan kali ini, kami tak ingin tertinggal peringkat dari tim-tim lainnya. Kami berambisi mendapatkan poin penuh dan mampu menggusur jauh tim-tim lain di jagat persaingan ini. Dengan latihan maksimal dan persiapan yang matang, kami siap bertanding whereever we are!
0 comments

Critical Review 1



Critical Review 1
Menengok Lalu Lantang Pendidikan Indonesia
Melihat sisi yang sebenarnya dari pendidikan Indonesia itu sangat membuat tertekuk pikiran ini. Masih di titik yang jenuh, itulah pendidikan di Indonesia. Faktor terkemuka adalah gagalnya Indonesia dalam mendidik siswa dasar yang menjadi sumbu utama pendidikan Indonesia. Hal itu seperti yang telah dijabarkan artikel dari Pak A. Chaedar Alwasilah, dalam bukunya Pokoknya Rekayasa Literasi, Bab 7.
0 comments

chapter review 1: Berlinguistik dengan Literasi




1st  Chapter Review
Berlinguistik dengan Literasi
(By : Eva Khodijah)
hati dan pikiran bergejolak saat sadar akan minimnya masyarakat dengan budaya LITERASI. Sebuah informasi dan fakta-fakta terkuak rapih pada halaman-halaman buku Dr. A. Chaedar Alwasilah yang berjudul ‘Rekayasa Literasi’. Lembaran-lembaran ini begitu menyadarkan pembaca dari hal-hal yang tidak mereka sadari menjadi hal yang ingin mereka capai. Literasi, itulah hal yang harus kita perbaiki. Menurut Pak Chaedar, literasi di Indonesia masih sangat rendah. Oleh karena itu, beliau mengkupas habis sebuah misteri di balik literasi dalam bukunya “Rekayasa Literasi.”
0 comments

Class review 2: Layar Menulis



2nd  Class Review
Layar Menulis
(By : Eva Khodijah)
Menelusuri jejak Writing 4 di episode kedua sangatlah menantang. Di episode kali ini, telah terjadi banyak scenes yang terekam di PBI-A pada hari Senin, 10 Februari 2014 bersama sang sutradara, Mr. Lala Bumela, MPd. Kami sebagai para cast terarah untuk mengikuti alur dan command yang diberikan Mr. Lala. Sejuta semangat tetap bergejolak dan senantiasa membara ketika writing itu datang menghampiri. Semua ini kami lakukan agar kami mendapatkan great moments and  the happy ending to our story in Writing 4.
0 comments

Class Review: FRESH WRITING



1st Class Review                                                                   
                                                                                               Eva Khodijah
                                                                                               (PBI-A / IV)
                                                                                               Writing and Composition  IV

FRESH WRITING
Mencoba untuk melemaskan dan membebaskan tangan ini agar tak kaku untuk menulis kembali Class Review yang telah lama tidak saya lakukan. Saya pun tersentak bingung bukan main. Saya bingung apa yang harus saya tulis pertama kali. Namun yang pasti, inilah class review pertama saya di Mata Kuliah Writing and Composition 4 PBI A, bersama pelatih yang ditunggu-tunggu come backnya, yaitu Mr. Lala Bumela.
Senin pagi, pada tanggal, 10 Februari 2014, dimana pertemuan perdana kami (PBI A) di kelas Writing 4 bersama Mr. Lala. Tepat pula di hari pertama aktif kuliah ini, kami langsung berhadapan dengan dosen yang benar-benar membuat mata kami melek. Ada rasa rindu pula yang terselubung d hati ini karena Mr. Lala come back melatih di Writing League. Entah mengapa, hal ini sangat ditunggu-tunggu sekali. Memang inilah yang diharapkan sebagian bahkan hampir sekelas yang menginginkan Mr.lala melatih di Writing 4 kembali.
It’s really really Fresh Writing. Sekarang ini kita Benar-benar membuka lembaran yang baru, Seperti yang dikatakan Mr.Lala bahwa kita semua kembali lagi ke titik nol. Musim-musim yang lalu tidak akan mempengaruhi pada musim ini. Kita akan kembali lagi dari 0-100 dan A-Z. Di sinilah saya merasakan sesuatu yang menyejukkan dan esuatu yang fresh.
Pertemuan perdana ini dimulai dengan launching syllabus terbaru Writing and Composition 4. Sebenarnya, semuanya tidak jauh berbeda dengan role yang sebelumnya. Mungkin di sini akan ditambah dengan tugas blogging. Namun secara content dan quality, kita memang naik grade. Mr.Lala memerintahkan kita agar menulis lebih dari yang sebelumnya. Mungkin tulisan sekarang lebih menuju ke ilmiah tepatnya, Academic Writing. Di dalam syllabus pun telah tertera tugas-tugas yang begitu dahsyat dan menanti kami.
Mungkin tangan ini agak kaku untuk menulis kembali setelah sekian lama berlibur. Selama liburan saya hanya menulis bebas corat-caret tak karuan. Saya merasa begitu kurang dalam menulis tetapi saya juga punya interest yang besar dalam bidang ini. Saya tak ingin menyerah untuk membuat the real essay. SO, I SHOULD WAKE UP FORM THE LAZYNESS AND MOVE UP FROM THE HOLIDAY.  Tantangan yang diberikan Mr. Lala memacu adrenalinku. Semoga rasa semangat ini tidak hanya terletak di awal, tetapi abadan-abadan.
Di pertemuan awal ini memang masih hawa-hawa pembukaan dan upgrad terlebih dahulu. Mr. Lala lebih membahas writing secara umum dan kiat-kiat yang harus kita lakukan untuk menulis. Pemanasan dilakukan agar kami tidak kaget dan bisa rileks terlebih dahulu. Namun, Mr. Lala benar-benar menyimpan sejuta bahkan milyaran taktik jitu untuk melatih kami kedepannya. Hal ini dilakukan agar setiap kali bertanding , kami mampu memberikan performa yang maksimal.
Menurut Mr. Lala, menulis itu bukan sekali langsung jadi. Namun, lebih dari berkali-kali. Revisi akan menjadi tugas utama dalam menulis. Maka dari itu, Mr.Lala menyebutnya Re-search. Essay kita harus selalu dibenahi dan direfresh semaksimal mungkin.
Pada  halaman dua syllabus Mr. Lala tertera deskripsi mengeni Academic Writing. Di saat kita memasuki dunia kampus, maka kita memasuki wilayah akademisnya. Disaat kita harus menulis tugas yang diberikan college, kita dikondisikan tidak hanya membuat tulisan berdasarkan perspektif sendiri. Namun, di sini kita dituntut untuk menguraikan essay kita secara gamblang, faktual dan kritis. Kritis di sini bukan berarti krritis biasa. Kritis di sini adalah kritis yang berdasarkan analisa. Di sini juga kita akan mengintrepretasikan ide, teori, maupun hasil temuan penelitin yang kemudian dibandingkan dengan dengan ide yang lainnya.
Why do students have to write paper ?
Academic writing memang seakan menyeramkan bagi kita. Di sini kita harus buang jauh-jauh rasa egois dalam menulis. Mungkin kita akan kikuk tertekuk ide-ide yang mengambang di pikiran kita. Entah tak tau bagaimana mengolah kata sedemikian mungkin agar menjadi academic writing yang valid. Namun, jangan takut dahulu! menulis academic writing berarti kita mendapatkan kesempatan mengeksplor ide, wawasan, argumen, dan fakta menjadi sebuah wadah yang brilliant. Di sini kita bebas memilih topik dan halaman kosong memperkenankanmu untuk untuk mengekspresikan idemu sendiri dan buatlah reader interest untuk mau menyelami tulisan kita.
Di akademic writing, kita diharapkan untuk menjadi writer yang  precise, Semi-formal, impersonal, dan objective. Di sini juga berarti kita mengenal semboyan “They say I say” dan “in our view....”. di academic writing ini kita belajar berfikir dewasa dan tidak egois. Argument yang kita tulis bukan hanya pilihan sendiri, namun hasil penelaahan yang dalam. Selain itu, Kita juga membandingkan argumen-argumen yang lain dan mengolahnya sebagai klasifikasi yang elegan. Semua ini dilakukan agar kita lebih concious pada knowledge, bisa menelaah konsep, dan membangun pengetahuan yang baru.
Pengenalan mengenai academic writing mungkin telah cukup , lebih baik kita go on untuk mempraktekannya. Now, kita kembali ke awal, apa yang harus kita lakukan di Writing 4 ini, apa menjadi motivasi kita untuk menulis. semuanya ada di slide yang diberikan Mr. Lala.
I Get from Slide
Ingat! Menulis di second language adalah sebuah tantangan yang memacu adrenalin. Di sinilah kita akan belajar dua bahasa sekaligus. Di sini kita belajar bagaimana kita bisa expand ide kita di dunia lain, bahasa yang berbeda, role yang berbeda, dan penghayatan yang berbeda. Sebenarnya saya merasa masih nol besar di writing ini. Saya memang interest pada menulis, namun belum banyak practice dan latihan. Ide-ide yang saya punya hanya bertumpuk mengundung-ngundung tinggi tak tertulis. Saya yakin, inilah saatnya untuk show up dan berlatih sekeras mungkin. Layaknya games, saya harus menang and get the high score. Namun yang paling saya inginkan adalah bagaimana rasanya menjadi penulis dan pengalaman yang saya dapat ketika saya berjuang membuat sebuah essay yang berkualitas.
Untuk memoles semangat dan memmbangkitkan gairah menulis saya, saya mencoba untuk mengenal writing dan sedikit demi sedikit dengan membuka halaman-halaman buku which talk about writing. Point yang saya ingat datang dari buku 8 Kinds of writing  by Allen S. Goose tahun 2001.
Writing are about :
·      Writing adalah gaya kamu yang berasal dari pikiran, ide, dan pendapatmu. Telaahilah mengapa kamu memilih ide seperti itu.
·      The type of writing calls for the critical review skills of analysis, syntesis, and evaluation.
·      Argumen yang kamu buat harus jelas dan didukung oleh fakta lain.
·      Yakinkanlah kepada reader bahwa tulisanmu itu valid dan benar.

So, what the things can I get here?
Saya harus membuka mata lebar-lebar dan bertarung dengan jari-jari kita. Produksikanlah ide- ide yang cemerlang. Dan di sinilah kita akan mempertajamkan writing kita, di Writing and Composition 4 bersama Mr.Lala.  Academic writing, itulah yang akan menjadi menu utama kita. Kita harus segera wake up untuk show up our ideas. Menulislah dengan gayamu sendiri, nikmati aroma-aroma pena dan dentuman tinta yang mengalir.
Setelah itu, hari perdana writing 4 menjadi hari dimana kita dibangunkan kembali dengan begitu banyak pekerjaan rumah yang menanti, but enjoy our day! Semua ini kembali untuk kita. We should be enjoy. Ya, kata yang ada di syllabus itu, ENJOY!
0 comments

appetizer: Wake up Our Literacy



Appetizer
                                                                                                                                           Eva Khodijah
                                                                                                                                           PBI-A/IV
                                                                                                                                           Writing and Composition 4
Wake up Our Literacy
Menjelajahi tiga wacana menarik dari A.Chaedar Alwasilah yang termasuk dalam bukunya di bab 6 ‘Pokoknya Rekayasa Literasi’ 2012. Wacana pertama berjudul (Bukan) Bangsa Penulis, Powerful writers and Helpless Readers, dan Learning and Teaching Process: More about Readers and Writers. Ketiga wacana ini memiliki jenis yang sama, semuanya menggagas mengenai fakta dan perkembangan baca-tulis di negara kita, Indonesia. Ketiga wacana ini memberikan wawasan yang lebih untuk pembaca. Banyak hal yang membuat tercengang karena fakta-fakta yang tidak mengenakan mengenai literasi di Indonesia.
Permasalahan yang menjadi inti adalah kurangnya minat baca-tulis  masyarakat Indonesia. Semuanya bisa dilihat dari produktifitas karya masyarakat kita. Seperti yang tertera di wacana (Bukan) Bangsa Penulis, pada paragraf ketiga bahwa jumlah karya ilmiah dari perguruan tinggi di Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, yakni sekitar sepertujuh. Jelas sekali, inilah hal yang membuat saya tercengang. Bagaimna tidak, jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang jauh lebih besar dibanding Malaysia, hal ini yang sangat mengecewakan dan memalukan bangsa. Sama halnya yang dijelaskan di wacana kedua bahwa ketika penulis tersebut telah mencapai high quality, namun tidak pada pembacanya yang masih pasif dan tidak tergugah untuk merespon apa yang ia baca. Inilah faktor yang membuat literasi kita rendah.
Jumlah karya ilmiah yang tidak banyak itu menunjukkan bahwa minat membaca seorang pun minim. Hal itu karena menulis berawal dari membaca. Penulis akan mengerahkan ide dan pengetahuan yang ia dapat dari bacaannya ke tulisannya. Karya ilmiah seorang merupakan realisasi dari minatnya membaca dan akan terlihat kualitas membacanya di tulisannya.
Pembuatan skripsi, tesis dan disertasi memang hasil karya yang akan membuktikan tingkat kualitas tulisannya. Pada wacana pun dijelaskan bahwa diperkirakan setiap tahunnya ada 800 ribu mahasiswa yang diwisuda menjadi sarjana di 3.150 kampus swasta dibawah Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi). namun, yang masih saya ragukan kualitasnya adalah kemiripan judul skripsi dari setiap mahasiswa. Hal ini seperti berdasarkan album Wisuda 7 IAIN Syekh Nurjati Cirebon 2013, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki kemiripan jenis penelitian dalam skripsinya. Seperti pada daftar judul skripsi PBI, kebanyakan judul mereka itu sama. Contohnya The Influence of Audio Visual Aid Application on Students English Speaking Skill at The Eight grade student of Mts An-nur Cirebon by M.r Hedi Nurhaedi S.Pd.i. judul ini memiliki kemiripan dengan M.s Kurniawati S.Pd.i dengan skripsi yang berjudul The Influence of  Video Tutorial Application on the Students Competence in procedure text Comprehension at the Tenth Grade Student of  MA Al-Hidayah Cirebon. Di sini hanya berbeda subject dan object saja. Dari keseluruhan, judul-judul skripsi sangat monoton. Masih banyak yang menggunakan aplikasi keempat skill bahasa inggris dan jarang sekali mereka yang mengambil tema sastra atau linguistik dalam pendidikan. Hal ini menjadi pekerjaan besar bagi mahasiswa yang harus merefresh lagi ide-ide yang akan ia kembangkan.
Mengenai Powerful Writers and Helpless Reader. Menurut sudut pandang saya, di lihat dari sekarang ini masyarakat Indonesia sudah mulai banyak mengkritik. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya opini dan kritikan yang bermunculan di media sosial seperti di detik.com Kompas, dan sebagainya. Setiap ada berita yang muncul mereka geli untuk berkomentar. Namun, perlu diketahui respon mereka memang tidak semuanya baik. Ada respon negative ada juga respon yang membangun dan beragumen berdasarkan sumber-sumber terpercaya. Sebaliknya, media seperti itu harus lebih membenahi respon-respon yang ia dapat.
Di wacana pertama yang dipermasalahkan ialah mengapa jurnal-jurnal dari mahasiswa sangat minim padahal skripsi atau tesis mereka pun bisa di realisasikan menjadi jurnal. Menurut saya, mereka sudah enggan menulis ilmiah. Mereka lebih senang menulis ke arah informal dan personal. Hal ini di buktikan dengan banyaknya blogging yang nonformal.
Dari ketiga wacana tersebut, banyak sekali yang harus kita benahi sebaiknya kita sebagai mahasiswa harus meningkatkan minat membaca dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan bukan sembarang karya. Kita harus mengutamakan kualitas kontent tulisan bukan kuantitas.
Mengubah mind set kita adalah awal untuk wake up dari keterpurukan baca-tulis kita. Banyak membaca dan menjelajahi wawasan juga termasuk langkah awal. selanjutnya kita mencoba untuk mengolah wawasan kita dan menggabungkannya dengan ide-ide kita. Satukan ide dan wawasan kita menjadi sebuah karya yang baik untuk kita. Bertahap dari menulis ilmiah dan lain sebagainya.
Jadi, bangkitkanlah literasi kita dengan berawal dari membaca kritis dan berkarya berdasarkan ide dan wawasan kita. Cetuskanlah crazy idea kita ke karya kita. Bangun the great literacy untuk kita persembahkan ke bangsa ini. Berikan karya tulis yang menerobos jalur international.

0 comments