Showing posts with label Endah Jubaedah. Show all posts
Showing posts with label Endah Jubaedah. Show all posts

7th Class Review: OBVIOUS FULL STOP



OBVIOUS FULL STOP
(by. Endah Jubaedah)
Sebuah penjelasan kadang tak selamanya mampu memberikan kejelasan karena ternyata sebuah definisi “jelas” bukan hanya sekedar bacaan atau argumen yang beragam namun jelas adlah ketepatan.  Seperti seorang sniper yang melepaskan pelurunya tepat di jantung serangan, tak melesat; tak ada pergerakan yang berubah (tetap) dan tepat.  Menulis pun demikian, ketika kita menulis, tuntutan kejelasan ini akan menuntun kita menjadi seorang penulis yang dibekali kejelasan untuk menulis. Jelas.  Titik.  Selain nilai positif untuk sang penulis, “jelas” juga mempermudah pembaca untuk memahami isi bacaan tentunya. 
0 comments

3rd Critical Review: HOWARD ZINN, THE TRULY OF HERO



HOWARD ZINN, THE TRULY OF HERO
(by. Endah Jubaedah)
Ø  Introduction
Why always Zinn? Why he usually to be a material things on our subject? I will start by the first step, the most interesting from Zinn.   What Zinn to do to world? Does it is true? What Zinn to do to the readers? What the effect from the article of Zinn? Why he unlike United States? How the way to embraced the people of Zinn?
0 comments

6th Class Review RUNNING AWAY WITH LITERATE



6th Class Review
RUNNING AWAY WITH LITERATE
(by. Endah Jubaedah)
Selama ini literasi banyak menggembor-gemborkan kekukuhannya dihidupkan dalam diri setiap orang, kekuatannya dianggap sebagai pembangunan yang “bermakna” dalam pembangunan menuju generasi yang lebih baik; inti pemahaman yang ku dapat dari beberapa bacaan menurut para ahli atau informasi yang di dapat secara lisan.  Literasi menjadi sebuah keharusan, tak terkecuali begitu dibutuhkan untuk pengetahuan menulis atau berbicara.  Literasi menjadi cahaya penerang kedua setelah matahari, memberi penerangan untuk pemikiran-pemikiran baru yang lebih matang.  Lalu sejauh mana kematangan kita terhadap literasi? Tentu saja masih belum matang karena ternyata buah literasi belum didapatkan, yaitu menghasilkan sesuatu dan kebermaknaan dari sebuah potensi.
0 comments

5th Class Review : NO LITERACY, NO HISTORY


5th Class Review
NO LITERACY, NO HISTORY
(by. Endah Jubaedah)
Dunia berubah,  Perubahannya begitu cepat dan nyata, meninggalkan begitu banyak hal lalu mengenduskan nafas atas nama kemerdekaan dan era kemodern-an (tak terkecuali sejarah).  Lalu mengapa dunia terus berubah? Dunia pun kelu, rahasia Yang Maha Kuasa tak mampu diterka.  Namun setidaknya logika mampu mendeteksi pelaku atau tokoh perubahan dunia, yakni para penulis.  Ya, seorang penulis mampu mengubah sejarah dunia dengan tulisan yang mampu memengaruhi dan menyihir; membuktikan bahwa para peliterasi telah lahir sebelum sejarah tertulis.  Tekstualiti yang zigot-nya telah bersemayam sejak dulu memang membuat tempat hidup manusia tak pernah sama (berubah).  Tak akan ada sejarah jika tak ada literasi (penulis).
0 comments

4th Class Review : MENULIS, BER-OTAK INTELEKTUAL


4th Class Review
MENULIS, BER-OTAK INTELEKTUAL
(by. Endah Jubaedah)
Harmoni bangsa yang plural menjadikan bangsa Indonesia berada di barisan pertama untuk “meneriakkan” kemakmuran dalam perbedaan (harusnya), negeri ini menjunjung  kebersatuan bangsa yang kokoh dan keberagaman tanpa membedakan (katanya).  Namun ketegasan itu seolah menjadi ilusi ketika krisis multi-dimensi muncul merusak moral dan budaya bangsa, mengobrak-abrik pancasila sebagai sasaran utama; sumpah pemuda, kemajemukan, rasa, karsa, dan karya pun mulai dilucuti oleh “oknum-oknum” yang sengaja ingin menggelapkan bangsa.  Muncullah para otak intelektual,  bukan yang ber-otak intelektual.
0 comments

2nd Critical Review: HABILITAS SEORANG HOWARD ZINN


2nd Critical Review
HABILITAS SEORANG HOWARD ZINN
(by. Endah Jubaedah)
            Kejeniusan Howard Zinn dalam mengungkapkan pemikirannya secara matang dan berani menerangkan opini yang dibangun dengan komposisi nutrisi penuh, membuat kekaguman tersendiri bagiku pribadi sebagai pembaca.  Meskipun ke-absahan tulisannya mendapat banyak protes juga kritikan tak membuat ia kehilangan kredibilitas sebagai “penulis ulung”, justru semakin menarik pula-lah menelaah penulis yang mempunyai ketajaman memindai sebuah kejadian atau fenomena berdasarkan kecermatan membaca situasi “dengan cara lain”.  Salah satu karya tulisnya di bab 2 Speaking Truth to Power with Books1 menuai banyak kecaman karena pembahasannya tentang Christopher Columbus dianggap tak lazim, penyampaiannya tertulis dalam selimut kemisteriusan sejarah yang tersembunyi.
0 comments

Class Review 3: Malas Itu; Ya Bodoh, Ya Miskin



3rd  Class Review
Malas Itu;
Ya Bodoh, Ya Miskin
(by. Endah Jubaedah)
Diduga malas membaca, pengumpulan informasi terasa “cekak” dan pengembangan daya berpikir tersendat.  Terduga telah malas menulis, kemampuan nalar yang logis perlahan menurun.  Sang penduga yang malas membaca dan menulis, menenggelamkan kesempatan lalu tenggelam dalam  ilmu pengetahuan yang minim dan terhempas dengan ketidaktahuan.  Malas oh malas, mematikan! Tak dapat dihitung jari berapa jumlah korban yang “mati” karena kemalasan; bukan ia yang kehabisan tarikan nafas di paru-paru, namun ia yang hidup tapi hanya diam menggendong rasa malas tinggi-tinggi (madesu: masa depan suram).
0 comments

critical review:AGAMA ITU KRUSIAL LOH!


AGAMA ITU KRUSIAL LOH!
(by. Endah Jubaedah)
Radikalisme mulai membungkus rapi kerangka manusia, menjangkau tulang rusuk yang menjadi inti kehidupan; mudah saja membuat makhluk hidup berakal ini berpikir radikal.  Bukan hal yang sulit untuk menjeratnya; tak perlu waktu lama menunggu kail berpenghuni, bahkan tanpa umpan pun tak mustahil pancingan mendapatkan hasil.  Fenomena ini menggambarkan betapa mudahnya sifat ke-radikalan membelenggu orang-orang, bagaimana kebebasan yang tidak terkontrol begitu diinginkan tak terkecuali oleh generasi penerus bangsa.  Lalu mau jadi apa bangsa kita ini? Jadi bangsa yang membebaskan kebebasan sebebas-bebasnya? Arogan! Bebas bukan berarti se-radikal itu, bebas pun harus teratur dan mempunyai aturan.
0 comments

chapter review



GURIH BUMBU LITERASI
 (by. Endah Jubaedah)
Literasi memang tengah gencar diperbincangkan dan menjadi wacana yang menawan, mendengar kata-katanya saja para pembaca mulai tergiur menikmati sensasi berliterasi.  Literasi menawarkan darah segar untuk kehidupan baru, menopang para tokoh tertutup untuk membuka dunia dengan cara yang lebih baik yakni dengan menjadi pelaku literate.  Untuk mengenal lebih lengkap apa itu literasi, berikut beberapa hal yang berkenaan.
0 comments

class review II (Katanya) Menulis Akademik



(Katanya) Menulis Akademik
(by. Endah Jubaedah)

          Rangkaian kata dalam tulisan memang tidak akan pernah usai atau hilang dari pandangan menulis; bagaimana tidak?  Menulis adalah salah satu kegiatan berliterasi dan pentransferan ilmu dalam permainan kata-kata, yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah kalimat dan pembentukan kalimat yang lebih luas dalam paragraf atau teks.  Semakin berkembangnya zaman, pertumbuhan menulis banyak mengalami perubahan berkenaan dengan pengetahuan menulis.  Salah satu contoh konkret, yakni dengan munculnya menulis secara scientific atau yang biasa dikenal dengan menulis akademik.
0 comments

Appetizer-1: INDONESIA GAK DOYAN NULIS



Appetizer-1
INDONESIA GAK DOYAN NULIS
(by. Endah Jubaedah)

Apalagi yang harus ditulis dan diwacanakan? Jika bangsa kita memang tak pernah sadar keharusannya untuk menulis.  Berapa banyak lagi inspirasi dan motivasi yang harus bermunculan agar giat menulis? Jika hanya beberapa hitungan jari orang-orang yang terinspirasi.  Kegemaran menulis memang begitu sulit menjadi kebiasaan masyarakat bangsa kita, terbiasa ngerumpi lebih cocok dan tak pernah tertinggal.  Sungguh asyik bila obrolan semakin memanas dan memanjang, enggan mengakhiri.  Lupa waktu pun bukan halangan untuk absent dari aktivitas ngerumpi, justru semakin banyak obrolan-obrolan yang akan menambah kehangatan suasana dan merasa “betah” ngerumpi.  Fenomena ngerumpi mampu menghipnotis masyarakat kita secara besar-besaran dari berbagai lapisan, mencatatkan kegemarannya di peringkat tertinggi.  Bagaimana tidak? Aktivitas yang satu ini sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan.
0 comments

Class Review I


BERBEDA BUKAN PEMBEDA!
(by. Endah Jubaedah)
Hari ini; langit tak melukis pelangi, liukan awan tak ingin membingkai, apalagi sang pencerah yang enggan menyapa hawa dingin.  Hanya mendung sedari pagi menyambut langkahku dengan nafas terengah-engah di anak tangga, perjalanan dalam sendiri ini  menuntutku menuju ruang kelas yang entah mengapa terasa asing. Tak ada rasa hangat dalam suasana, ataupun kehangatan ketika sapaan terlontar.  Dingin es dapat ku tahan, namun dingin suasana kelas sangat sulit tertahankan; bukan hanya sakit tapi melumpuhkan.  Lumpuh sudah hati ini dalam sendu yang tak kunjung berlalu; dari gejolak perasaan yang tertahan, dari kecaman jiwa yang terdiam, dan dari kawanan burung pembawa pesan naluriah mengabarkan kesedihan. 
0 comments