Showing posts with label Atin Hartini. Show all posts
Showing posts with label Atin Hartini. Show all posts

Class Review 6



Orang Yang Berliterat, Orang Yang Tercerahkan
By : Atin Hartini
 
Sore hari yang sejuk  dan cuacanya pun sangat bersahabat untuk saya memulai aktifitas seperti biasanya yaitu menuangkan  ilmu-ilmu yang telah saya dapatkan ke dalam bentuk tulisan. Senin,  10 Maret 2014 tepatnya pukul 09.10 kami bertemu lagi dalam mata kuliah Writing 4. Minggu kemarin, Mr.Lala masih membahas sekitar literasi. Sebelum kepada pembahasan lebih lanjut, alangkah baiknya untuk sekedar mengingatkan, saya akan menjelaskan kembali pengertian dari literasi itu sendiri.
Banyak yang beranggapan bahwa literasi itu dianggap hanya sekedar masalah psikologi saja, kita tidak menyadari bahwa ihwal literasi itu akan sangat berhubungan dengan masalah  ekonomi, social dan politik. Bahkan sejarah sekalipun masih tersangkut paut dengan literasi. Literasi adalah praktik kultular yang berkaitan dengan persoalan social dan politik. Jadi,  literasi ialah kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis atau melek aksara serta bagaimana seseorang bisa berkomunikasi dengan nalar social, ekonomi dan politik. Berbicara literasi, kita tidak akan luput dari baca-tulis. Pembaca dan penulis mempunyai koneksi satu sama lainnya.
0 comments

Class Review 4


Menulis Bagaikan Bermeditasi
By : Atin

Pada hari Senin, 23 Februari 2014 tepatnya pukul 07.30 adalah pertemuan ke empat pada mata kuliah Writing 4. Seperti biasa saya akan mengukir  tinta diatas kertas putih ini, menuliskan ilmu-ilmu yang telah saya dapatkan daalam mata kuliah writing minggu kemaren. Tanpa basa basi , singkat cerita saya akan menceritakan kembali tentang materi yang telah dibahas minggu kemarin.
Pertama yaitu classroom discourse. Dalam classroom discourse atau wacana kelas, erat kaiatnnya dengan interaksi antara guru dan murid.
Didalam kelas, guru dan murid tidak dapat dipisahkan mereka selalu berhubungan, antara keduanya pasti ada sebuah interaksi yang membuat kelas itu complicated atau rumit. Kemudian dalam menulis, Seperti yang telah dijelaskan oleh Mr. Lala, bahwa menulis itu seperti bermeditasi. Banyak cara-cara bermeditasi dalam menulis, misalnya classroom complicated  discrourse  dan religions ini merupakan sesuatu yang besar yaitu :
0 comments

Class Review 5


LAGI-LAGI KONTEKS
By : Atin Hartini

Minggu kemarin, tepatnya tanggal 03 Maret 2014, saya tidak bisa mengikuti mata kuliah writing dikarenakan sakit. Malam ini saya harus mengukir ilmu diatas kertas putih ini, namun saya bingung harus mulai menulis dari mana? Saya tidak tahu harus menulis di class review tentang apa. Namun saya tak tinggal diam, saya mulai menanyakan tentang apa saja yang harus dibahas dalam class review sekarang. Menurut teman saya, Mr.Lala minggu kemarin masih membahas sekitar kesalahan kita dalam menulis dan Beliau juga sedikit menyinggung tentang cerita Colombus.
Pada class review kali ini saya akan membahas materi yang mencakup konteks, delapan parameter dalam konteks, writing and culture, writing and technologi, writing and genre, writing and identity, dan juga hubungan antara literasi dan sejarah. Jika kita melihat kembali kebelakang tentang tugas membuat critical review, di sana terdapat banyak sekali kesalahan. Mulai dari struktur teks yang kurang tepat, cara mengaitkan satu masalah ke masalah lainnya yang belum benar dan masih banyak lagi kesalahan di dalam teks yang saya buat itu. Terjebak dalam hal-hal sepele dan tidak akrab dengan kata kunci yang disebut wacana kelas, yaitu menceritakan fakta-fakta tentang konflik agama tanpa menunjukkan titik tegas pandang. Struktur generik pun tidak dibangun dengan baik. Pola Referensi yang hilang. Dalam power point, Mr.Lala menjelaskan bahwa satu hal yang bisa ia katakan yaitu: ada banyak ruang untuk perbaikan. Ketika kita terjebak dalam kesalahan, kita masih ada kesempatan dan mempunyai ruang untuk memperbaikinya.
0 comments

critical review 2



Membaca Dapat Mengubah Hidup Seseorang
 By: Atin Hartini


Saya disini sebagai seorang penulis yang sudah membaca artikel , dan saya akan sedikit menjelaskannya. Disini kita diharuskan berbicara pada kenyataan, maksud dari berbicara kenyataan ini adalah yang tersangkut paut dengan sejarah. Tentu kita telah mengetahui pengertian dari sejarah itu apa. Untuk lebih jelasnya, arti dari sejarah itu sendiri  adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia.
Saya akan mulai dengan memperkenalkan isu yang paling penting dari semua yang berkaitan dengan menulis, dan itu adalah : apa di dunia gunanya? Apa efek tidak dimilikinya? Apakah itu membantu mengubah dunia? Setelah semua, keputusan pertama penulis harus membuat seperti keputusan pertama guru harus membuat: mengapa sipenulis melakukan ini?  Apakah dengan cara itu akan membantu orang, ataukah dia melakukan itu hanya untuk memajukan diri secara profesional atau hanya untuk mendapatkan sebuah buku yang diterbitkan? Tentunya tidak, karena selain mendapatkan sebuah buku, kita juga bisa membantu orang untuk memajukan dirinya sebagai diri yang profesional. Sebuah buku tentunya sangat penting untuk masa depan kita, karena dengan kita membaca sebuah buku, kita bisa mendapatkan sebuah informasi lebih.
0 comments

Class Review 3



Susahnya Menjadi Orang Yang Berliterat
By: Atin Hartini

Pagi yang cerah, suara burung pun berkicau riang, aku hirup udara segar terlihat embun yang menyapa dibalik jendela, sepertinya hari ini akan cerah.Kembali saya memulai aktifitas saya untuk menuliskan sebuah kata-kata atau ilmu di atas kertas putih ini. Pada tanggal 17 Februari 201, tepatnya pukul 09.10 adalah pertemuan ketiga dengan Mr.Lala dalam mata kuliah writing. Setelah beliau masuk ke kelas PBI-A, tiba-tiba terjadi hal yang tidak di inginkan. Kami menyadari bahwa masalah itu terjadi karena kesalahan kami sendiri. Hari itu hari yang yidak menyenangkan bagi kami. Sesuatu yang tidak kami harapkan tiba-tiba terjadi. Itulah sedikit curhatan yang dapat saya ukir diatas kertas putih ini.
Daripada galau, langsung saja kita membahas materi yang dijelaskan oleh Mr.Lala. Minggu kemarin masih terkait dengan literasi. Tentunya pasti kita masih ingat apa itu literasi. Literasi itu terkait dengan praktek yang meliputi empat bidang, yaitu bidang sosial, bidang politik, bidang ekonomi dan bidang psikologi. Keempat bidang itu mencakup culture dan peradaban kemajuan zaman di era globalisasi. Untuk menjadi orang yang berliterat itu sangat susah, apalagi menjadi multilingual writer. Pengertian multilingual writer ialah penulis multi bahasa yang juga berfungsi sebagai pembaca kritis dikedua bahasa. Multilingual ini juga menunjukkan tingginya literasi seseorang dalam baca-tulis. Seorang multilingual writer tentunya sudah bisa menghasilkan karya sastra yang berkaitan dengan vitality. Vitality merupakan daya hidup seseorang. Seorang yang multilingual writer tentunya sudah bisa berliterasi. Dalam rekayasa literasi, literasi ini berhubungan dengan readers dan writers atau bacaan dan tulisan.
0 comments

CRITICAL REVIEW





Pentingnya Pendidikan Demi Mewujudkan Kerukunan
 BY : ATIN HARTINI

Kerukunan beragama ditengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupa berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah bangsa, pancasila telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dibawah suatu tatanan yang inklusif dan demokratis. Sayangnya wacana mengenal pancasila seolah lenyap seiring dengan berlangsungnya reformasi. Berbagai macam kendala yang sering kita hadapi dalam mensukseskan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, dari luar maupun dalam negeri kita sendiri. Namun dengan kendala tersebut warga Indonesia selalu  optimis, bahwa dengan banyaknya agama yang ada di Indonesia, maka banyak pula solusi untuk mengahadapi kendala-kendala tersebut. Keharmonisan dalam komunikasi antar sesama penganut agama adalah tujuan dari kerukunan beragama, agar terciptanya masyarakat yang bebas dari ancaman, kekerasan hingga konflik agama.
0 comments

Chapter 1



Pentingnya Literasi Untuk Kemajuan Anak Bangsa
By: Atin Hartini

Setelah saya membaca artikel tentang rekayasa literasi, apa yang dibahasa didalamnya sedikit demi sedikit saya memahaminya. Memang tidak mudah untuk memahami isi artikel tersebut, perlu ketenangan dan kefokusan ketika membacanya itu supaya kita bisa lebih mudah untuk memahaminya. Sebelum membahas pada pengertian literasi itu sendiri, saya dapat menangkap pembahasan pertama bahwa para ahli bahasa sudah mengelompokkan tahapan penggunaan metode dan pendekatan terhadap pengajaran bahasa asing, pendekatan itu terbagi kedalam lima kelompok besar, yaitu :
0 comments

Class Review 1



Susahnya Menjadi Multilingual Writer
By
Atin Hartini 

Pada tanggal 10 Februari 2014 tepatnya pukul 07.30 adalah pertemuan kedua dengan Mr.Lala di mata kuliah writing 4. Seperti biasa beliau masuk kelas tepat waktu, kemudian langsung menjelaskan materi. Materi yang disampaikan minggu lalu kembali dijelaskan ulang oleh beliau. Setelah membahas ulang materi minggu lalu, baru beliau mulai menjelaskan materi yang selanjutnya.
Dalam lembaran apitizer Hany Setiawan, disitu diberitahukan bahwa masyarakat Indonesia lebih statistic tidak kritis. Menurut Setiawan masyarakat sudah mulai berpikir kritis karena mereka sudah bisa update dalam internet secara langsung. Menulis bukan juga secara formal, dengan adanya media jejaring social sedikit demi sedikit mereka sudah bisa menulis. Setiawan merevisi buku terakhir buku pokoknya rekayasa literasi. Jadi Hawe bertolak belakang dengan Haedar.  Menurut Haedar bahwa menulis itu berbentuk artikel, tetapi menurut Hawe menulis itu bisa diam saja, seperti di jejaring sosial update status lama-lama akan bisa mengasah keterampilan dan menariknya tulisan kita.
0 comments

PENTINGNYA MENULIS DAN MEMBACA (Appetizer Essay-1)



PENTINGNYA MENULIS DAN MEMBACA
(By: Atin Hartini)
Setelah saya membaca ketiga artikel ini, saya sedikit memahami apa yang dijelaskan oleh A. Chaedar Alwasilah dan Cewe Waston dalam artikel yang mereka buat.
Disini yang dibahas intinya adalah kita diwajibkan atau dituntut untuk bis amenulis dan bisa membaca. Seperti yang dikatakan pak chaedar dalam artikelnya bahwa “ Dirjen Pendidikan Tinggi” adalah orang pertama yang paling bertanggung jawab mengawal publikasi ilmiyah dikalangan perguruan tinggi. Wajar jika ia “jengkel” karena mayoritas sarjana lulusan perguruan tinggi kita tidak bisa menulis. Bahkan para dosennya pun mayoritas tidak bisa menulis. Menurut saya apa yang dikatakan beliau benar, seorang dirjen pendidikan tinggi itu harus bisa menulis. Bukan cuma dirjen perguruan tinggi yang harus bisa menulis itu, tetapi dosen-dosen pun dituntut untuk bisa menulis. Mungkin banyak dosen-dosen yang kurang mampu untuk menulis. Seharusnya kalo sudah jadi sarjana itu sudah mampu untuk menulis, mampu untuk membuat karya-karya ilmiyah seperti buku. Bahkan telah kita ketahui pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiyah dari perguruan tinggi di Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan perguruan di Negara-negara lain terutama dengan perguruan tinggi di Malaysia. Karya ilmiyah  di Indonesia masih belum mencapai titik maksimum, bahkan dalamjumlah terbitan bukunya pun masih sedikit.
Dalam hal ini perguruan di Indonesia kalah dengan Negara Malaysia. Di Malaysia sudah beribu-ribu buku yang diterbitkan. Kita sebagai warga Indonesia seharusnya lebih bagus dan lebih banyak dalam menciptakan karya-karya ilmiyah. Pergurun tinggi di Indonesia lemah bisa jadi karena kurang mampunya memproduksi ilmu pengetahuan yang lebih luas. Sebagai seorang sarjana tentunya kita harus membaca berbagai informasi dan kemudian melakukan penelitian, setelah itu kita harus mampu mengajukan sudut pandang yang baru dalam bentuk kesimpulan, rumus atau teori untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
Dalam artikel ini dijelaskan bahwa memang benar untuk kelulusannya, seorang mahasiswa itu harus membuat karya ilmiyah yaitu seperti menulis skripsi, tesis atau disertasi dengan kekhasan bidang studi masing-masing. Skripsi,tesis dan disertasi itu sama saja tidak ada bedanya. Ketiganya sama-sama termasuk pada genre tulisan akademik(academic writing). Mahasiswa diharuskan membuat skripsi,tesis dan disertasi. Dengan menulis skripsi berarti mahasiswa belajar menulis akademik, dengan tesis mahasiswa berarti belajar meneliti, dan dengan disertasi berarti mahasiswa belajar membangun sebuah teori atau rumus baru. Semuanya itu melaporkan hasil telaahan, pengamatan dan eksperimen.
Dalam artikel jurnal mitra bestari melihat naskah dengan otak dan kalbu. Secara kelimuan harus benar, metodologi penelitiannya tidak keliru, kemudian cara pelaporannya pun harus tepat dan lebih diperhatikan, temuannya itu harus relative baru,jangan yang sudah lama, juga harus ada inovasinya dan harus mentaati etika akademik. Kita dituntut untuk menjadi orang yang jujur. Kita tidak boleh melakukan pencurian ataupun jiplakan terhadap karya yang telah dibuat oleh orang lain. Dengan menjiplak itu sama saja membuat kita menjadi orang yang bodoh. Seharusnya dari kecil kita ditanamkan untuk bisa menulis agar kelak dewasa kita tinggal memperdalam bahkan membuat langsung karya-karya ilmiyah.
Sangat benar dan seharusnya di perguruan tinggi kita sebagai mahasiswa diwajibkan untuk menulis skripsi,tesis dan disertasi, karena itu merupakan suatu ajang yang jitu untuk mengasah kemampuan dan keterampilan kita dalam menulis, meneliti dan melaporkannya secara akademik. Sudah jelas dengan demikian secara tidak langsung mereka telah memiliki keterampilan menulis untuk diterapkan pada bidang atau profesi mereka masing-masing. Berbeda dengan perguruan tinggi di AS. Perguruan tinggi di AS memaksa mahasiwa untuk banyak menulis esai seperti laporan observasi, ringkasan bab, review buku, dan lain sebagainya. Tugas-tugas itu selalu dikembangkan dengan komentar kritis dari dosen,sehingga nalar dan argument tulisan mahasiswa benar-benar terasah. Karena itu, tidak ada keharusan menulis skripsi, tesis apalagi artikel jurnal.
Menurut pendapat saya memang sangat bagus melatih mahasiswa untuk banyak menulis esai kemudian diberi koment. Tetapi setelah tulisan mahasiswa betul-betul terasah, alangkah lebih baik dan lebih bagus jikan mahasiswa itu tetap menulis skripsi,tesis maupun artikel jurnal,karena apa?karena supaya mahasiswa tidak mnyepelekan tulisan, dan supaya tulisan mereka 100% benar-benar luar biasa. Dalam pembahasan terakhirnya saya setuju dengan pernyataan Pak Chaedar bahwa para dosen setiap tahun diwajibakn untuk menulis artikel jurnal atau buku teks. Jadi, yang tidak bisa menulis sebaiknya jangan bermimpi jadi dosen.
Mahasiswa juga bukan hanya sekedar harus bisa menulis, tetapi juga harus mampu membaca. Dengan banyak membaca kita bisa mendapatkan informasi atau ilmu-ilmu yang baru. Dalam artikelnya pak Chaedar menjelaskan bahwa  pendekatan koneksi membaca-menulis percaya bahwa tingkat membaca Anda determines daripada kekuatan tulisan Anda. Pengetahuan terakumulasi melalui membaca, sementara menulis adalah menempatkan pengetahuan ke dalam kertas. Siswa harus dilatih untuk berbagi pengalaman mereka dengan segera melalui tulisan.
Praktek yang umum di sekolah-sekolah adalah untuk menunda menulis panjang setelah membaca. Akibatnya, keterampilan menulis kurang berkembang dari keterampilan membaca. Penundaan tersebut telah mengembangkan sikap bahwa menulis lebih unggul membaca, dan penulis dengan implikasi lebih unggul pembaca. pendidikan bahasa juga telah menghasilkan membaca berorientasi daripada menulis berorientasi siswa. Siswa tersebut cenderung untuk mengembangkan sikap fatalistik terhadap teks. Teks ini dianggap unggul dari pembaca tak berdayanya.
Siswa harus diajarkan untuk mengembangkan kesadaran kritis bahasa, yaitu sensitivitas kekuasaan dan ideologi yang mendasari penggunaan bahasa. Saya kurang setuju dengan pernyataan diatas karena menurut saya antara menulis dan membaca itu harus diseimbangkan agar keduanya bisa berkembang. Keduanya itu sangat berhubungan jadi harus diseimbangkan.
Pembaca kritis percaya bahwa kedua penulis dan pembaca sama-sama bertanggung jawab untuk pembuatan makna.
Dari ketiga artikel itu intinya kita dituntut untuk bisa menulis dan membaca. Keduanya itu sangat penting untuk masa depan kita. Dengan menulis kita bisa mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan, dan dengan membaca kita bisa memperoleh ilmu atau pengetahuan-pengetahuan yang baru. Diakhir perkuliahan kita diharuskan menulis skripsi dan tesis, makannya dari kecil atau mulai dari sekarang menulis ataupun membaca harus diterapkan.


0 comments

Kerumitan dalam Menulis (Class Review-1)


Kerumitan dalam Menulis
(By: Atin Hartini)
Dimulai dengan ”Basmallah”, saya kembali lagi melakukan salah satu aktifitas atau tugas saya yaitu “menulis”. Menulis memang salah satu hobi saya, namun dalam menulis class review saya terkadang mengalami kesulitan.
Pada pertemuan pertama diperkuliahan hari senin, 03 Februari 2014, saya dan teman-teman kelas PBI-A bertatap muka kembali dengan Mr.Lala Bumela M.pd di mata kuliah “Writing”. Ketika saya mengetahui bahwa dosen di mata kuliah writing adalah Mr.Lala, jujur saya tidak merasa kaget, namun saya malah ragu pada diri saya sendiri, saya takut di mata kuliah Mr.Lala tidak lulus lagi. Melihat kebelakang di semester 2 dan 3 saya tidak lulus di mata kuliahnya beliau, jadi saya merasa sedikit takut, namun terpikir dibenak saya, mengapa saya harus takut?seharusnya saya bangkit,tidak perlu menyerah, justru pengalaman itu harus dijadikan contoh, dijadikan pelajaran dan guru supaya saya menjadi lebih baik lagi daripada waktu semester kebelakang.
Memang suatu tantangan yang luar biasa ketika dibimbing lagi oleh Mr.Lala. saya sadar bahwa saya bukan orang hebat,saya orang yang lemah dan saya selalu takut. Namun saya harus bisa menghadapi dan melewati tantangan itu meskipun perlu usaha yang keras dan bertahap-tahap. Memang tak mudah melakukan hal apapun, semuanya perlu perjuangan dan usaha yang keras.
Pertemuan pertama kemarin, seperti biasa sebelum masuk pada pembahasan, Mr.Lala menceritakan pengalaman-pengalaman yang beliau alami waktu kebelakang. Beliau memang orang yang sangat sibuk, beliau pergi kesana-kemari untuk melakukan tugasnya sampai-sampai beliau kecapean dan pernah jatuh sakit. Kemudian beliau sempat membahas tentang nilai semester kemarin. Beliau memperlihatkan hasil akhir tentang nilai masing-masing kelas. Kemudian apa yang kami lihat? Ternyata nilai kelas PBI-A paling kecil. Kelas yang lain nilainya selisihnya Cuma beda dua, tetapi kelas A sangat berbeda jauh. Beliau pun bertanya “mengapa kelas A nilainya turun?” apa karena kalian tidak kompak? Memang benar apa yang dikatakan oleh beliau, kelas A memang sangat kurang kompak. Terkadang orang-orangnya pun masing-masing. Dari semester 2 saya merasa kalau kelas A itu kurang kompak. Entah apa yang telah terjadi di kelas A.
Setelah membahas tentang nilai, kemudian beliau membacakan kontrak belajar di kelas. Seperti biasa kontrak belajar beliau sama seperti kontrak belajar semester sebelumnya. Ada class review dan chapter review, dan ada yang beda di semester sekarang bukan hanya menulis class review saja, tetapi kita disuruh membuat blog, dan class review dan tugas-tugas yang kita buat dimasukkan ke blog. Sungguh lumayan rumit ternyata.
Kemudian Mr.Lala mulai memperlihatkan dan menjelaskan power point writing 4. Sebelum membahas lebih jauh tentang power point, alangkah lebih bagus kalau pengertian writing itu dijelaskan kembali sedikit supaya kita mengingat arti menulis itu sendiri. Menulis menjadi hal yang sering disepelekan oleh kalangan pemuda, apalagi kalangan anak-anak yang orant tua didiknya tidak pernah mengajarkan pentingnya menulis. Menulis sangatlah penting, jadi sebagai orang yang lebih tua kita harus menanamkan pentingnya menulis kepada para siswa maupun mahasiswa.
Telah kita ketahui bahwa menulis merupakan sutu proses kreatifitas menuangkan gagasan atau ide yang ada didalam pikiran kita kedalam bentuk tulisan dengan tujuan tertentu. Menulis adalah suatu bentuk berpikir dimana yang dituangkan dalam kata-kata yang lebih mudah dipahami dan dimengerti.
Kemudian lanjut membahas power point writing 4. Point pertama yaitu membahas tentang pokok-pokok rangkaian pelajaran writing 4. Seperti yang telah tercantum di power point, menurut Hyland 2003 bahwa belajar bagaimana menulis dalam bahasa kedua itu adalah salah satu aspek yang oaling menantang dari pembelajaran bahasa kedua. Bisa  dicontohkan pada kita. Bahasa pertama(L1) kita adalah terfokus pada Bahasa Indonesia dan yang keduanya Bahasa Inggris. Ketika kita menulis dalam Bahasa Inggris, tentunya itu merupakan suatu tantangan yang sangat luar biasa. Bahkan menurut Hyland 2003, bagi mereka berbahasa Inggris sebagai bahasa pertama, kemampuan untuk menulis secara efektif itu merupakan sesuatu hal yang membutuhkan exensive(sesuatu yang luas) dan intruksi khusus. Memang benar, menulis itu tidak hanya sekedar menulis saja, tetapi perlu sesuatu atau pengetahuan yang luas juga.
Dalam menulis tentunya kita mempunyai tantangan tersendiri, dan apa tantangan kita ketika menulis saat ini? Tentunya tantangan kita sebelum menulis itu harus meneliti terlebih dahulu bagaimana teori-teori penulisan dan pengajaran menulis itu telah berkembang. Kemudian dalam sifat penulisan, kita juga harus tahu dan membedakan antara sifat penulisan yang baik dan penulisan yang jelek. Bukan hanya sekedar itu, sifat teks dan gaya yang dicerminkan penggunaannya dalam komunitas wacana tertentu pun harus diperhatikan dan dituangkan.
Kemudian setelah kita menulis dengan gaya yang dicerminkan, hubungan antara menulis dipertama dan menulis dikedua pun harus saling berhubungan, kedua bahasanya pun harus diperhatikan dan dipahami. Lalu masalah kurikulum itu juga dapat dikembangkan untuk kursus atau pelajaran menulis. Penggunaan computer dalam intruksi menulis juga merupakan tantangan bagi kita. Kita harus memahami intruksi-intruksi menulis dalam computer. Yang terakhir pengembangan bahan ajar untuk kelas menulis dan pendekatan untuk umpan balik dan penilaian pun merupakan tantangan yang harus kita kuasai.
Selanjutnya membahas tentang harapan Mr.Lala, tentunya beliau mempunyai harapan-harapan tersendiri di mata kuliah writing ini. Harapan beliau adalah jujur. Ketika kita melakukan sesuatu atau menulis diharuskan ada kejujuran. Kita tidak boleh menjiplak karya orang lain. Jujur adalah modal kita untuk sukses. Dengan kejujuran kita bisa dihargai dan disukai banyak orang. Harapan beliau juga ingin membantu guru bahasa menjadi guru menulis. Jadi, beliau menginginkan guru bahasa itu bukan sekedar guru bahasa saja, tetapi bisa menjadi guru menulis yang bisa mengajarkan menulis kepada siswa-siwa atau mahasiswanya.
Menurut beliau seorang guru yang efektif adalah slah satu guru yang dapat membuat pilihan informasi tentang metode, material dan prosedur untuk digunakan dalam kelas didasarkan pada pemahaman yang jelas tentang sikap saat ini dan praktik dalam profesinya. Jadi, kalau kita ingin menjadi guru yang efektif, kita harus bisa menulis dan memilih informasi yang baru dan jelas. Metode pengajaran pun harus disiapkan sebelum kelas dimulai. Dalam perkuliahan ataupun sekolahan, seorang guru tidak hanya menyampaikan dan menjelaskan materi saja, tetapi harus disertai dengan praktek, karena disertai dengan praktek kita bisa lebih paham.
Kemudian harapan untuk menjadikan seorang guru yang kuat. Menurut Mr.Lala, seorang guru yang kuat adalah seorang guru yang reflektif, refleksi membutuhkan pengetahuan-pengetahuan untuk berhubungan dengan kegiatan kelas untuk penelitian dan teori yang relevan. Jadi, seorang guru itu harus kuat dan luas pengetahuannya, tidak boleh lemah.
Mr.Lala menuliskan sebuah pengingat sederhana tentang menulis. Beliau menyebutkan bahwa menulis itu melibatkan mengubah keterampilan dan pengetahuan tentang teks, konteks dan pembaca. Kata beliau konteks itu ada delapan. Antara teks, konteks dan readers itu saling berhubungan, dan ketigaanya itu tidak dapat dipisahakan. Jika diantara ketiga itu tidak ada satu, maka akan percuma. Percuma ada teks kalo tidak ada pemabaca. Menulis itu sama saja dengan membuat kerajinan yang harus dilakukan dengan praktek. Kemudian masalah bahasa. Bahasa pertama kita (L1) adalah dasar untuk bahasa yang kedua (L2). Bahasa pertama kita adalah Bahasa Indonesia dan bahasa keduanya adalah Bahasa inggris. Jadi, Bahasa Indonesia adalah dasar untuk Bahasa Inggris.
Selanjutnya pengajaran menulis L2, meliputi :

Ø  Struktur Bahasa
Ketika menulis kita harus tahu struktur bahasa yang kita gunakan itu seperti apa.
Ø  Fungsi Teks
Kita bukan hanya sekedar menulis, tetapi kita juga harus tahu teks yang kita tulis itu fungsinya apa.
Ø  Tema atau Topik
Sebagai penulis yang baik, kita juga harus pintar dan kreatif ketika memilih sebuah tema atau topik, karena supaya orang tertarik membaca tulisan kita.
Ø  Ekspresi Kreatif
Ekspresi kita dalam menulis juga harus ditonjolkan. Usahakan kita bisa membuat orang terhibur dan tidak jenuh ketika membaca tulisan kita.
Ø  Proses Menulis
Tentunya kita menulis itu pasti ada prosesnya. Entah prose situ memakan waktu yang cukup lama atau tidak. Dalam proses menulis kita pasti menemui yang namanya tantangan. Tantangan yang kita hadapi disana merupakan suatu proses.
Ø  Isi
Tentunya teks yang kita tulis itu harus ada isi pembahasannya, titik pembahasannya itu seperti apa dan bagaimana. Isi dalam teks juga harus diperhatikan dengan teliti.
Ø  Genre dan Kontak Penulisan.
Setiap kita menulis pasti ada suatu genre tersendiri.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa menulis itu sangatlah penting. Tanpa kita ketahui, menulis mempunyai berbagai manfaat dan juga keuntungan. Janganlah sesekali kita berpikiran menulis itu cape dan membuang-buang waktu, tetapi kita harus berpikir positif untuk menulis. Menulis itu gampang-gampang susah. Tantangan kita saat menulis sangatlah banyak, salah satunya kita haus mengetahui teori-teori penulisan terlebih dahulu, lalu sifat penulisan dan teks. Kadangkala kita malas untuk menulis. Malas ketika menulis itu juga merupakan suatu tantangan bagi kita. Kemudian seorang guru yang efektif itu harus bisa menulis. Seorang guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi harus disertai  dengan praktek. Kemudian dalam pengajaran menulis L2 meliputi : struktur bahasa, fungsi teks, tema atau topic, ekspresi kreatif, proses menulis, isi dan memperhatikan genre dan konteks penilaian.


0 comments