Showing posts with label Apif Rahman. Show all posts
Showing posts with label Apif Rahman. Show all posts

Class Review 6: Sejarawan yang Mengubah Sejarah



Sejarawan yang Mengubah Sejarah
                                              (Author: Apif Rahman Hakim)
Howard Zinn! Ya, dialah yang hampir satu bulan terakhir ini saya fikirkan mengenai karya-karyanya dan kehidupannya.  Tak tanggung-tanggung Mr. Bumela menyuruh kita untuk membuat free writing tentang Zinn dalam kontek seribu kata dan harus menggunakan bahasa Internasional yakni bahasa inggris.
0 comments

Class Review 5: The Burning Morning Writing Spirit!



The Burning Morning Writing Spirit!
Apif Rahman Hakim
            Masih di dunia writing, kepala saya semakin pusing setiap hari senin karena ada mata kuliah writing. Terasa pening dan agak sedikit mooring, meskipun sudah morning tapi hati ini terasa semakin burning menghadapi tantangan di mata kuliah writing. Kali ini saya akan membahas mengenai intertextuality dan key issues, cap cus cing!
0 comments

Class Review 4: Lahirnya Budaya Harmonisisasi



                             Lahirnya Budaya Harmonisisasi
                           By : Apif Rahman Hakim
Mengagumkan!  Ya, itulah ungkapan yang pantas kita ucapkan umunnya untuk kita khususnya untuk saya secara pribadi karena pada pertemuan ini kita telah membuat satu Mahakarya lag yang akan membuat mahasiswa di perguruan tinggi manapun iri yaitu dengan hadirnya Critical Review.  Berawal dari critical review kita dituntut untuk membaca dan mencari sumber bacaan sehingga terlahirlah gagasan-gagasan baru yang dapat kita hasilkan.
0 comments

Critical Review 2: Menyibak Gelapnya Tabir Sejarah


Menyibak Gelapnya Tabir Sejarah
By Apif Rahman Hakim
Sejarah merupakan kejadian masa lampau  yang tak boleh kita lupakan, karena tanpa adanya sejarah kita tidak akan ada pada zaman seperti sekarang ini.   Dari sejarah pun kita mempelajari nilai-nilai yang terkandung  pada zaman terdahulu. Suatu fakta sejarah tidak bersifat statis, dalam artian kebenaran sejarah seiring berjalannya waktu bisa berubah dengan bukti-bukti yang lebih terkait dan konkret daripada bukti-bukti yang ada sebelumnya. Jadi, fakta atau kebenaran sejarah akan berubah (bersifat dinamis) bila suatu saat nanti ditemukan bukti-bukti yang lebih menunjang kebenaran dari suatu sejarah tersebut.  Seperti halnya mengenai siapa itu Christopher Colombus, apakah dia seorang pahlawan? Ataukah seorang pembohong? Tapi sebelumnya ada beberapa pengertian apa itu yang dimaksud dengan sejarah.
0 comments

Class Review 3: Mengarungi Budaya Literasi

Mengarungi Budaya Literasi
Apif Rahman Hakim
Kendala! Ya, itulah yang terjadi pada pertemuan yang ketiga ini.  Seharusnya pada pertemuan yang ketiga ini Mr. Lala Bumela dijadualkan mengisi kuliah pada mata kuliah writing and composition 4, pada hari senin tanggal 17 februari 20014.  Tetapi dikarenakan pada hari dan tanggal itu ada kendala pada roda perkuliahan tepatnya di kelas PBI A, oleh karenanya ada pergantian hari yaitu hari rabu 19 februari 20014.
0 comments

Critical Review 1: Pendidikan dari Sang Pendidik



Pendidikan dari Sang Pendidik
Oleh Apif Rahman Hakim

Pendidikan merupakan salah satu hal  terpenting dan tidak bisa terpisahkan dalam kehiduan kita sehari-hari.  Kemanapun seseorang pergi pasti akan ada pendidikan disekitarnya, tidak hanya sebatas pendidikan formal melainkan pendidikan informal dan non formal 
Pendidikan  formal  adalah  kegiatan  yang  sistematis,  bertingkat, dimulai dari  sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf dengannya;   termasuk   kedalamnya   ialah   kegiatan   studi   yang   berorientasi akademis  dan  umum,  program   spesialisasi,  dan  latihan  professional,  yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus.
0 comments

Chapter Review: Pembenahan Besar-besaran


Pembenahan Besar-besaran!
Oleh Apif Rahman Hakim

Secara umum, para ahli bahasa mengelompokan periodesasi penggunaan metode dan pendekatan khususnya kepada sistem pengajaran bahasa asing yang dikelompokan ke dalam 5 kelompok besar yaitu sebagai berikut.
0 comments

Class Review 2: Hubungan batin yang tak terpisahkan



Hubungan batin yang tak terpisahkan

Apif Rahman Hakim
            Di kelas review yang kedua ini saya akan menjelaskan mengenai hubungan yang tidak terlarang antara penulis, pembaca, teks, konteks, dan makna. Dari Lehtonen (2007:74) seorang penulis buku “The Cultural Analysis of Text” bahwa dari writer-reader memiliki suatu hubungan di dalamnya berupa text, context, reader, writer dan meaning. Seorang pembaca menjadi sebuah penghubung dari formation of meaning, dan pembaca menjadi tempat di mana meaning tersebut dimiliki oleh text dan diserap kembali oleh reader. Text dan reader tidak akan pernah berdiri sendiri tanpa adanya hunbungan satu sama lain, akan tetapi membaca merupakan salah satu pilihan tepat karena seorang reader mencari teks atau wacna apa saja yang akan dibaca, dapat dengan cara mengelompokkan  berbagai wacna untk menambah wawasan pembaca (reader).
0 comments

Class Review 1: “ Abad Pertengahan”



Nama      : Apif Rahman Hakim
Class        : PBI A/semester 4
Subject   : Writing and Composition 4
Class Review 1


“ Abad Pertengahan”
Munculnya abad pertengahan ini menggambarkan bahwa akan adanya abad yang yang terakhir.  Seperti halnya di dunia pendidikan di kalangan mahasiswa bahwa normalnya perkuliahan itu adalah empat tahun atau di dalam semester yaitu delapan semester.  Tahun kedua ini atau disebut dengan semester empat ( abad pertengahan) menandakan bahwa kita sedang ada ditengah perjalanan menuju puncak gemilang.
Ternyata benar adanya pikiran yang ada pada diri saya tentang Mr. Lala Bumela yang akan kembali mengampu mata kuliah kembali pada semester ini.  Dugaan saya yang pertama mengapa Mr. Lala Bumela mengampu kembali mata kuliah di semester ini karena beliau melihat atau bahkan memperhatikan mahasiswa semester 4 pada angkatan saya yaitu, mempunyai talent yang sangat luar biasa pada mahasiswa diangkatan saya.  Karena sosok Mr. Lala Bumela sendiri adalah sosok yang sangat luar biasa menurut saya.  Oleh karena itu beliau tidak sembarang dalam memilih mahasiswa.
Pada pertemuan opertama ada yang sangat sqaya sayangkan yaitu dengan ketidakhadiran saya dalam mata kuliah beliau dikarenakan ada halangan yang menghalangi saya pada pertemuan tersebut.  Tetapi saya tidak habis akal walaupun saya tidak hadir pada pertemuan pertama saya berusaha sendiri yakni dengan menayakan kepada teman-teman dikelas tentang hal-haln apa saja yng disampaikan oleh Mr. Lala Bumela kepada mahasiswa.
Menindaklanjuti pada semester lalu, kelas saya menduduki peringkat terakhir pada mata kuliah phonology yang kebetulan diampu oleh Mr. Lala Bumela.  Ternyata setelah ditelusuri hal-hal apa saja atu factor-faktor apa saja yang menyebabkan nilai kami begitu rendah dibandngkan dengan tiga kelas yanbg lain yaitu karena factor yang sangat menentukan hidup matinya kelas adalah “ Kekompakkan “.  Mungkin secara kasat mata hal seperti kekompakkan adalah hal yang biasa, tetapi kalau kita benar-beenar menelaah dan mengartikan apa itu yang dimaksud dengan kompak pasti hati kita akan terenyuh  akan arti kompak itu pastilah kita akan tau, mengapa kita harus kompak? Jawwabannya ada pada hati kalian masing-masing wahai sahabatku.
Sebenarnya kita bisa menduduki operingkat pertama lagi asalkan kita bisa menjadi kompak.  Seperti halnya kita pada waktu semester2 kia telah menduduki peringkat pertama, apa kunci dari itu semua?  Kompak.  Itulah jawabannya wahai sahabat-sahabatku.  Itulah bukti nyata bahwa kita pernah menjadi juara dengan mengalahkan kelas-kelas lain.  Oleh karena itu marilah kita tanamkan kembali kekompakkan pada diri kita dan kelas kita agar kita bisa mengambil hasil yang baik dari atas apa yang telah kita lakukan seperti halnya,  kompak.
Memang benar adanya, tujuan kita kuliah karena untuk menimba ilmu yang nanti ilmu tersebut akan mengnatarkan kita pada kesuksesan di masa yang akan dating dengan kebanggan pada diri sendiri, orang tua atau bahkan orang lain.  Tetapi jalan yang kita hadapi atau caranya sangat bervariasi atau beragam-ragam.  Kompak itu adalah wadah kesatuan kita dalam tujuan kita, kalau kompaknya saja tidak ada, bagaimana kita bisa mencapai mimpi dan tujuan kita.
Pada materi awal ini kita diharuskan menulis sebuah classs review dan appetizer essay sebagai hidangan pemmbuka diawal semester empat ini, dengan tambahan mempostingkan  hasil pekerjaan kita kedalam blog kelas agar lebih terkontrol dan terarah.  Diawal-awal paragrap saya menggembar-gemborkan ten tang kekompakkan tujuannya adalah agar kedepannya kita bisa menjadi terarah dan baik serta otomatis bisa membuahkan hasil yang bermanfaat yang bisa kita nikmati bersama-sama.
Kesimpulan pada class review ini adalah yan utama itu kita harus membangun sebuah kekompakkan pada diri kita, karena dengan kompak kita bisa berkumpul, focus dan ikut serta membangun kekompakkan didalam kelas kita agar kedepannya kita bisa menjadi lebih baik lagi.  Karena level yang kita hadapi pada tahun ini adalah level dimana kita mengharuskan untuk bekerja extra, maka dari itu dengan kompak kita alan menjadi ringan, oleh karena itu kompaklah kuncinya.
0 comments

Appetizer Essay 1: “ Menjamurnya Kebudayaan Bangsa”



Nama      : Apif Rahman Hakim
Class        : PBI A/semester 4
Subject   : Writing and Composition 4
Appetizer Essay 1

“ Menjamurnya Kebudayaan Bangsa”
Membaca merupakan salah ssatu kebutuhan setiap individu begitupun dengan menulis.  Menulis adalah suatu kegiatan yang dimana hasil dari sebuah pemikiran kita dapat kita expresikan atau abadikan melalui tulisan.   Tetapi tidak cukup disitu writing adalah untuk mengetahui sesuatu, untuk menyajikan sesuatu dan memproduksi kembali sesuatu.  Lain halnya dengan mahasiswa yang harus mengembangkan tuklisannya seperti membuat essay, membuat laporan penelitian dan atau harus dibuat dalam bentuk jurnal.
Budaya baca-tulis di negeri ini seharusnya bisa berkembang dengan sangat pesat dan maju, tetapi semua itu bertolak belakang dengan surat putusan dari Direktur Jendral Pendidikan Indonesia yang ternyata isinya sangat bertolak belakang dengan harapan kita atau bisa disebut mengecewakan.  Sehingga membuat dan memicu pro-kontra di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia dan di expresikan dengan memboikot aturan-aturan dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi.
Kalau kita mau mengetahui dan bertanya siapa orang yang bertanggung jawab atas putusan ini maka orangnya adalah Dirjen Pendidikan Tinggi.  Karena merekalah yang mengawal publikasi ilmiah di kalangan perguruan tinggi.  Wajar jika ia “ jengkel” karena mayoritas sarjana lulusan perguruan tingggi kita tidak bisa menulis.  Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi mayoritas dikalanga dosennya pun tidak bisa menulis.
Hal ini tentu sangatlah kontras dengan menjamurnya kebudayaan bangsa di bidang menulis sangatlah minim karena tiudak adanya kesadaran pada diri sendiri untuk merangsang minat dan bakat menulis dan membaca.  Oleh karena itu duharapkan kedepannya agar lebih menggalakkan lagi minat baca-tulis kita agar bangsa ini bisa maju pesat seperti bangsa-bangsa lain yang sudah membudayakan baca-tulis.
Pada situasi seoperti ini kita sebagai mahasiswa bisa memberikan solusi cerdas, jangan sampai teerpecah belah karena situasi seperti ini.  Tak sepatutnya berdebat juga untuk ssaling menyalahkan tetapi berdebatlah bagaimana membuat dan memberikan solusi cerdas pada masalah ini agar bnagsa ini maju pesat.  Dengan demikian solusi pun akan hadir dan kita bisa aplikasikan pada bangsa yang nsedang berkembang ini.
Seharusnya kita bisa kompak untuk memajukan literasi di bumi pertiwi ini dengan meningkatkan minat baca pada seseorang begitupun dengan  tingkat minat menulis.  Sebagai bangsayang besar harusnya kita bisa memproduksi hasil tulisan yang besar juga.  Di negeri seberang saja yang penduduknyha sekitar 25 juta orang atau hamper sepersepuluh dari populasi di Indonesia tetapi mereka bisa menghasilkan produk tulisan yang berkualitas banhkan bangsa ini pun kalah.
Sebenarnya kita bisa mengimbangi atau bahkan mengalahkan Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh dibandingkan dengan bumi pertiwi ini yang sangat besar yang kaya akan sumber daya manusia dan sumber daya alam.  Mestinya kita bisa menerbitkan buku 10 kali lipat yaitu 80 ribu judul per tahun, bisa ataukah tidak itu tergantung pada diri kita, ingat ! nasib bumi pertiwi ini ada ditangan anda semua.
Mengapa di negeri sebrang tingkat menulis dan membaca sangatlah maju debandingkan dengan di negeri kita?  Karena pada pendidikan awalnya mereka menerapkan pendidikan karakter pada pendidikan dasarnya.  Disinilah terjadi kesalah dalam materi ajar.  Seharusnya pada tingkatan pendidikan dasar kita tanamkan pendidikan karakter terlebih dahulu baru setelah itu pada tahapan lulus dari pendidikan dasar kitga terapkan system pendidikan formal mengenai materi ajar yang ada di sekolah.

Problematika seperti ini sering kita hadapi dan temui di beberapa daerah di Indonesia.  Oleh karena itu pemerintah menerbitkan kurikulum 2013 semata-mata untuk meningkatkan minat belajar siswa kedepannya agar lebih terkontrol dan dewasa dalam berfikir sehingga karakter yang dibangun benar-benar matang.   Nantinya dengan sasaran agar minat baca-tulis pun bisa membudaya atau bahkan menjamur di bumi pertiwi ini.  Setelah mengenai sasaran tersebut barulah kita bisa bangkitv dan mensejajarkan dengan bangsa lain yang literasinya sudah maju.
Disisi lain, ada beberapa masalah mengenai membaca dan menulis dengan adanya kekuatan dalam menulis yang dihadapkan dengan lemahnya dalam membaca.  Menurut survey yang dilakukan oleh A. Chaedar Alwasilah bahwa hamper 95% dari mahasiswanya menyalahkan diri mereka masing-masing.  Karena mereka mengatakan bahwa mereka itu tidak mempunya latarbelakang membaca dan yang baik hingga mereka menyalahkan diri mereka.
Pada kasus ini meereka beranggapan bahwa penulis itu sangat ahli dan tulisan si penulis telalu tinggi untuk mereka dan bacannya pun melebihi kapasitas mereka sebagai orang yang mempelajari baru tentang tulisan dan bacaan.  Sehingga mereka tidak bisa berkonsentrasi ketika sedaang membaca.
Padahal di dalam islam sendiri ada yang namanya Intelektual Muslim.  Dimana kita diajarkan untuk berbicara yang efektif dan sopan di depan para pendengar untuk mencapai titik pusat tentang pemahaman mereka.
Inilah saatnya kita harus mengambil kebanggan pada bahasa nasional kita yaitu bahasa Indonesia.  Dari membaca dan menulis kita bisa menghasilkam hubungan untuk mengembangkan penulis-penulis muda yang akan menjadi penulis dewasa dalam penyelesaian kemajuan belajar dan penulis-penulis Intelektual.  Sebenarnya inilah yang diharapkan oleh bumi pertiwi ini agar bumi pertiwi ini bisa maju, melaju pesat kedepan sana dan memimpin Negara-negara yang ada di dunia.
Jadi kesimpulannya adalah minat baca dan tulis sangatlah penting dan itu semua kita bisa terapkan pada diri kita dan siswa-siswi yangsedang mengenyam pendidikan pra-kuliah.  Tujuannya agar para siswa tersebut atau bahkan diri kita bisa berliterasi kelak ketika mereka menjadi seorang mahasiswa atau dosen yang nantinya bisa menaburkan budaya literasi kepada generasi penerus di bumi pertiwi ini.
0 comments