Menciptakan Kerukunan Lewat Kelas
Author: Ida Fauziyah
Berkariblah dengan sepi, sebab
dalam sepi ada (momen) penemuan dari apa yang dalam riuh gelisah dicari. Dalam
sepi, ada berhenti menerima ramainya stimulus yang memborbardir indera kita. Stimulus
yang harus dipilah dan dipilih satu satu untuk ditafakuri, lalu dimaknai, dan
dijadikan berguna bagi kita. Bila tidak, mereka hanya dengungan yang bising di
kepala saja tak mengendap menjadi sesuatu yang
kita memahamai dunia (sedikit) lebih baik.
Berkariblah dengan sepi, sejak
dalam sepi kita menemukan diri yang luput dari penglihatan dan kesadaran ketika
beredar dalam ramai; dalam sepi kita dapat melihat pendaran diri yang
diserakkan gaduh, mendekat, lalu merapat, membentuk bayang yang jelas untuk
dilihat tanpa harus memuaskan keinginan yang lain. Berkariblah dengan sepi,
karena dalam sepi berlalu lalang inspirasi yang tak mengerti, atau tak dapat
kita tangkap ketika kita sibuk berjalan dalam hingar binger yang pekak.
Berkariblah dengan sepi, sebab dalam sepi suara hati lebih nyaring terdengar
jernih.
-Budi
Hermawan-
Quote
itulah yang mengawali pertemuan keempat Writing 4 pagi itu. Quote itu
menginspirasi kami. Quote itu seperti cahaya yang menerangi jalan kami untuk
kembali menjalani perjalanan “menulis”. Menulis dalam sepi.
Mr.
Lala mengungkapkan bahwasanya menulis itu
seperti meditasi. Untuk menulis perlu adanya ketenangan. Ketenangan biasa
didapatkan dalam keadaan sepi. Dalam sepi kami akan mendapati ide-ide yang
berlalu lalang. Jadi, kami akan lebih banyak dipaksa untuk meditasi dengan
menulis.
Posted by
Unknown
at
8:40 AM