Showing posts with label Endang Siti Nurkholidah. Show all posts
Showing posts with label Endang Siti Nurkholidah. Show all posts

Critical Review


Name              : Endang Siti Nurkholidah
NIM                : 14121310285
Class               : PBI A/4
A HISTORY CREATING THE HISTORIAN
(Author: Endang Siti Nurkholidah)
1.      Introduction
Howard Zinn.  He was American historian who has written a brilliant idea and moving history of the American people from the different point of view. He has many talents that he did, because not only historian, but also he is author, playwright and social activist. He was politican science professor of Boston University. From 1956 through 1963, Zinn chaired the Department of History and social sciences in Spelman College. He participated in the Civil Rights Movement and lobbied with historian August Meier "to end the practice of the Southern Historical Association of holding meetings at segregated hotels". Zinn wrote more than 20 books. Yes of course all of his books is very excellent and seldom have quotations so effectively used. He always tells an important part of the truth.
Zinn was known for his history of America through the perspective of “those outside of the political and economic establishment,” A People’s History of the United States: 1492-Present (1980, revised 1995). “A People's History of the United States”, the book was publishing in 1980 and only sold four thousand copies, now has sold out almost two million copies and was reprinting five times.
Interestingly, in the Zinn’s book bravery to reveal the dark side of the new continent's history and commitment to the definition of the subaltern in Spivak: they are marginalized in the politics of narrating history. Shooting targets do not bear the responsibility: Christopher Columbus and the historians who write naive version of the arrival of the colonists. These include Harvard historian Samuel Elliot Morison.
Now, this paper offers a critical insight on howard Zinn’s article “Speaking Truth to Power with Books. Zinn, known after create his book which the contents that peeling the fact of historical Colombus who found American continent in this article, he always has a brilliant ideas who can influence the reader. He is the brave man who always criticizes the truth including Zinn wrote many kinds of books who can change our mind as a reader. Including in “Speaking Truth to Power with Book” who tells about Christoper Colombus.
0 comments

class review


PENULIS: MENDOBRAK DINDING TEBAL PENGETAHUAN 
(Author: Endang Siti Nurkholidah)

To write means for the poet
 to crush the wall
Behind which something that was always there Hides
--Milan Kundera--

Itulah pembukaan class review kali ini yang dibuka oleh quotes miliknya Milan Kundera. Sebagai penulis yang handal, kita harus bisa mendobrak dinding yang tebal dengan power yang luar biasa. Hal ini diibaratkan seorang penulis yang harus mendobrak semua hal yang ia punya untuk menjadi penulis yang benar-benar handal.
Menjadi seorang penulis memang tidak gampang, karena untuk menjadi seorang penulis kita dituntut untuk mempunyai nutrisi ilmu yang banyak dan nutrisi itu perlu kita gali lewat buku. Banyak orang yang menyerah ketika dituntut untuk menulis sebuah karya tulis. Memang sulit membudayakan menulis, apalagi membudayakan membaca! Tetapi sebenarnya antara membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan, alias sama-sama saling melengkapi.
0 comments

class review

MENCARI SETITIK CAHAYA PENCERAHAN
(Author Endang Siti Nurkholidah)
Sejarah memang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan, karena sejarah akan tetap abadi terkenang selamanya. Sejarah bukan hanya rekaman masa lalu semata, akan tetapi sejarah merupakan rekaman literasi yang harus dijaga dan dibudayakan.
Ada sebuah tuturan yang mengatkan bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Hal ini dikuatkan oleh quotes miliknya Dan Brown “history is always written by the winners. When to cultures clash, the loser is obligated and the writers the history books which glory their own cause and disparage the conquered foe. As Napolen once said that “ what is history, but fable agreed upon?”
1 comments

class review

MENGUKIR SEJARAH LEWAT LITERASI
(Author: Endang Siti Nurkholidah)
            Tidak terasa waktu-waktu ku habis terhanyutkan oleh sepinya suasana malam. Terhanyut oleh kesibukan malam yang selalu ku ratapi. Menulis, menulis dan menulis. Hanya dentingan detik jam yang ku dengar ketika pertapaanku dimulai. Itulah pekerjaan seseorang yang sedang menerapkan budaya literasi dalam kehidupannya. Memang membaca dan menulis termasuk kedalam bagian literasi.  Sejarah akan muncul karena literasi.
No literacy, no history. Ini slogan yang pantas untuk mengaitkan antara literasi dan history. Keduanya sangat berkaitan satu sama lain. Ketika kita ingin mencetak sebuah sejarah, bermulalah dari membudayakan literasi, karena orang yang tidak berliterasi tidak akan mencetak sebuah sejarah dalam hidupnya.
0 comments

class review 4

Ada yang Hilang Dibalik Wacana Classroom Discourse
Seperti masakan yang kurang bumbu. Bahkan kurang garam dalam masakan itu. Itulah yang Mr Lala katakana dalam isyarat lain bahwasannya critical review yang kami buat tampaknya tak berasa. Bahkan kita memasuki gerbong yang salah. Wah, salah resep sepertinya. Hal ini merupakan hal yang sangat crucial sekali. Untuk menghindari hal seperti itu, kita dituntut untuk menyiapkan bahan-bahan dengan matang agar cita rasa masterpiece kita tidak salah resep bahkan tidak bercita rasa.
Tidak mempunyai cita rasa itu sangat tidak enak sekali. Memang benar cita rasa suatu masakan itu sangat diperlukan, apalagi dalam sebuah tulisa. Sangat penting sekali!! Seperti tugas saya pada pertemuan kemarin yang kurang memiliki cita rasa yang tinggi. Bahkan saya salah memasuki bumbu-bumbu itu dalam tulisan saya.
0 comments

critical review 2



KETIKA TABIR KEBENARAN BERSUA!
(Author: Endang Siti Nurkholidah)

“Buku adalah gudang Ilmu, membaca adalah kunci ilmu”.
 “Ziarahlah ke perpustakaan sehari sekali, supaya engkau tahu karunia akal yang Allah berikan kepadamu”.
- Dr. Mustafa Ashi Bai’-
Mengapa saya sematkan quotes di atas tentang buku? Karena semua berasa dari kebenaran, kebanaran dari sebuah buku yang bisa merubah dunia. Including buku-buku sejarah yang semakin hari semakin hilang.
Buku merupakan kebenaran yang hakiki. Buku adalah pijar peradaban umat manusia di dunia ini. Berbagai perubahan sosial besar di dunia ini banyak bermula dari hadirnya sebuah buku. Dalam setiap buku seringkali terdapat sejumlah pikiran cerdas yang kemudian bisa mempengaruhi cara berpikir dalam masnusia. ”Coba lihat, bagaimana pikiran cerdas Sokrates, yang diteruskan oleh Plato dan Aristoteles yang mampu mengubah tatanan masyarakat di Yunani Kuno dari pandangan awal yang mistis menuju ke logis,”. Ini terbukti bahwa dari sebuah buku bisa mengubah dunia. Kata “dunia” disini diibaratkan sebagai seluruh manusia yang ada di dunia. Statement ini juga yang dituturkan oleh Howard Zinn dalam bukunya yang berjudul “Speaking Truth to Power with Books”. Bahkan peradaban modern pun berubah oleh prinsip-prinsip berpikir yang pernah digulirkan oleh tulisan para filsuf. Sebut saja Descartes dengan prinsip Cogito Ergo Sume (saya berpikir maka saya ada).  
0 comments

class review 3



Yuk, Lirik Fenomena Literasi!!!
(Author: Endang Siti Nurkholidah)
            Masih berkutat dalam dunia yang memiliki elegansi tinggi dan sangat fenomenal sekali. Dunia literasi katanya! Memang ketika berbicara tentang literasi tidak akan pernah habis. Kata literasi selalu booming di telinga kita ini. Mengapa demikian? Karena sampai kepanpun literasi tidak akan pernah hilang tertelan peradaban yang semakin canggih.
Budaya literasi bisa diawali dengan minat membaca yang tinggi, karena minat baca sangat berpengaruh bagi minat menulis seseorang. Orang yang senang membaca presentase menulisnya pun lebih besar dari pada yang minat bacanya rendah. Seorang penulis bersumber dari apa yang dialami langsung dan apa yang dia baca. Jika salah satunya tidak ada maka untuk menuju kearah menyukai menulis itu menjadi kecil kemungkinan, apalagi menjadi penulis yang berkualitas.
0 comments

Critical Review 1



CLASSROOM DISCOURSE: MARI KENALKAN KATA “KERUKUKAN”
(By: Endang Siti Nurkholidah)
Bersatu ataukah bercerai-berai? Ini adalah pilihan hidup yang sering terjadi di kehidupan masyarakat. Ini semua diakibatkan karena banyaknya perbedaan disekeliling kita. Hidup dalam negara yang penuh keragaman memang menjadi sebuah tantangan bagi semua manusia. Untuk hidup damai dan berdampingan, tentu dibutuhkan toleransi satu sama lain. Memang setiap manusia di dunia memiliki perbedaan yang signifikan dan perbedaan itu yang membuat saling melengkapi. Perbedaan adalah sesuatu hal yang indah dalam hidup ini, meskipun banyak orang yang tak menyadarinya. Setiap orang yang hidup di dunia ini akan merasakan perbedaan dengan lawannya atau sesama kerabatnya. Mengapa begitu? Karena setiap manusia memiliki perbedaan dan dibalik perbedaan ada sebuah misteri besar yang harus kita pecahkan. Seperti perbedaan keragaman suku, agama, maupun budaya yang ada diberbagai penjuru dunia.
2 comments

Chapter review 1: POTRET BURAM LITERASI



POTRET BURAM LITERASI
(By: Endang Siti Nurkholidah)
Literasi? Ketika mendengar kata itu sangat elegan sekali. Kata yang memiliki misteri dibalik elegansinya itu. Literasi memanglah kata asing jika belum menjamahnya. Apa sih literasi itu?? Well, literasi menurut KBBI adalah sesuatu yang berhubungan dengan membaca-menulis. Ketika mendengar kata baca-tulis memang seperti tidak bisa dipisahkan. Dimana ada kata membaca pasti disitu ada kata menulis dan istilah literasi atau literer memiliki definisi yang sangat luas sekali.
0 comments

class review 2: YUK BLUSUKAN DI DUNIA WRITING!!!



YUK BLUSUKAN DI DUNIA WRITING!!!
(by: Endang Siti Nurkholidah)
            Blusukan dalam dunia writing? Sepertinya ini hal yang jarang ditemukan di Indonesia. Memang pada dasarnya menjamah dunia writing sangatlah tidak mudah dan banyak orang-orang tidak menyukainya. Padahal menulis adalah sesuatu yang dangat dianjurkan bagi setiap manusia, khususnya bagi siswa, mahasiswa, guru, dosen bahkan profesorpun harus berani blusukan dalam dunia writing.
0 comments

appetizer: “Bukan Bangsa Literasi”



“Bukan Bangsa Literasi”
(By: Endang Siti Nurkholidah)

“Bukan bangsa Literasi” mungkin ini slogan yang disandang oleh Negara kita (Indonesia) sekarang. Memang pada dasarnya Negara Indonesia termasuk Negara yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Pendidikan di Indonesia kurang berkualitas jika dibandingakan dengan Negara-negara lain seperti Malaysia, Amerika, Australia dan lain-lain. Negara kita tertinggal karena ada beberapa masalah dalam pendidikan, yaitu dalam hal kurangnya budaya yang berliterasi pada pendidikan di Negara kita ini. Mungkin ini merupakan salah satu alasan mengapa pendidikan di Indonesia tertinggal.
Seperti dalam article yang telah saya baca, diantaranya (Bukan) Bangsa Penulis, Powerful Writers Versus The helpless Readers dan Learning and Teaching Process: More about Readers and Writers miliknya Bapak Chaedar Alwasilah dapat disimpulkan bahwa permasalahan budaya literasi di Negara Indonesia yang sangat rendah, sehingga pendidikan di Indonesia kurang berkualitas. Khususnya di bangku perkuliahan atau perguruan tinggi (PT) negeri maupun swasta yang ada diseluruh bagian penjuru Indonesia.
Ketika berbicara tentang literasi, otomatis kita berbicara tentang Membaca dan Menulis. Baca-tulis memang sangat penting di era ini, bukan hanya di bangku perkuliahan saja. Bahkan mereka (Baca-Tulis) mempunyai andil yang sangat besar dan mempunyai peran yang penting bagi bangsa, Negara bahkan dunia. Pendidikan disetiap Negara di dunia mempunyai posisi yang terpenting setelah ekonomi (perekonomian). Mengapa bisa demikian? Karena pendidikan dapat mencerminkan dari sebuah Negara tersebut. Semakin bagus pedidikan disuatu Negara, semakin berkembang dan terkenal pula Negara tersebut. Hal ini sudah terbukti diberbagai Negara seperti Malaysia, Amerika, Belanda dan sebagainya.
Dapat kita ketahui bahwasannya ketika sebuah Negara terkenal dengan pendidikannya, berarti Negara tersebut berliterasi dan tentu saja banyak masyarakat yang ada di Negara tersebut yang menggemari membaca dan menulis. Contohya seperti Negara Malaysia yang setiap tahunnya para dosen dan mahasiswa mencetak sebuah karya tulis. Jika dibandingkan dengan Indonesia mungkin hanya sepertujuh saja.
Ketika berbicara tentang masalah literasi yang tidak membudaya di Indonesia khususnya di Perguruan Tinggi negeri ataupun swasta, memang benar banyak PT negeri atau swasta yang hanya meluluskan mahasiswanya asal-asalan. Asal lulus. Asal jadi sarjana. Asal mendapat gelar. Asal dapap nilai. Dan masih banyak lagi asal-asalan lainnya. Sungguh sangat miris sekali jika benar faktanya seperti itu. Banyak mahasiswa bahkan dosennya pun yang tidak bisa menulis atau membuat tulisan semacam essay atau jurnal. Padahal standar mahasiswa harus bisa membuat sebuah essay atau jurnal, bahkan skipsi atau thesis sebagai syarat lulusnya mahasiswa dan mendapatkan gelar sarjana. Ini semua termasuk ke dalam permasalahan kurang membudayanya literasi (Baca-Tulis) di Negara ini.
Menulis dan membaca merupakan satu elemen yang kokoh yang tidak akan bisa dipisahkan, karena sudah menjadi satu paket atau satu kesatuan yang saling melengkapi. Contohnya, ketika kita akan menulis sebuah karya tulis, kita sangat memerlukan nutrisi-nutrisi ide yang banyak. Nutrisi-nutrisi tersebut didapatkan dari hasil membaca materi dari buku yang kita perlukan. Sudah terbukti bahwa baca-tulis adalah sepasang cara yang bisa membuat orang berliterasi, bahkan budaya literasi ini patut dibudayakan dan disosialisasikan di Negara Indonesia.
Mensosialisasikan budaya membaca-menulis alangkah baiknya dilakukan dan dibenahi pada bangku SMP atau SMA. Agar siswa yang masuk perguruan tinggi (PT) tidak kaget dan sangat siap untuk mengaplikasikan budaya literasi itu. Contohnya membuat karya tulis seperti jurnal, essay dan bahkan karya sastra yang sebaiknya dikenalkan ketika siswa berada di bangku SMA, dan siswa dituntut untuk belajar menulis bahkan menghasilan karya sendiri. Selain itu siswa diberi buku-buku bacaan yang berkualitas, jika siswa disuguhi dengan bacaan yang memiliki kualitas yang tinggi dan memerlukan pemahaman yang tinggi, tidak kaget dan sudah memiliki bekal sebelumnya ketika siswa memasuki jenajng perkuliahan. Mungkin ini termasuk resolusi agar Negara Indonesia tidak tertinggal oleh Negara lain dalam bidang pendidikan.
Untuk meningkatkan minat budaya Membaca-Menulis, sebaiknya dibiasakan sejak dini, karena untuk menciptakan generasi penerus yang bermutu. Tidak dengan mahasiswa diperguruan tinggi (PT) yang tidak bisa menulis bahkan malas membaca buku. Menurut Dirjen Pendidikan Tinggi mengatakan bahwa pada saat ini jumlah karya tulis ilmiah dari PT di Indonesia seara total masih rendah. Apalagi jika dibandingkan dengan Negara tetangga (Malaysia), meskipun termasuk Negara yang kecil, akan tetapi banyak mahasiswa dan dosen yang mencetk karya ilmiah. Jika dibandingkan dengan Indonesia mungkin hanya sepertujuh saja. Sangat tertinggal sekali bangsa kita ini.
Jika faktanya seperti itu pun kita harus bangga, karena masih ada segelintir mahasiswa yang mencetak karya tulis ilmiah dan banyak penulis-penulis di Indonesia yang hebat meskipun tidak sebanyak penulis hebat di luar negeri. Contohnya seperti Bapak Chaedar Alwasilah ini yang sangat hebat dan sudah mencetak banyak buku yang berkualitas. Jadi Negara kita masih bisa mengambil kesempatan untuk menjadi Negara yang mendapat julukan “Bangsa Literasi”. Kita sebagai generasi penerus harus membudayakan budaya literasi tersebut, agar kesempatan itu dapat kita raih bersama-sama.
Agar Negara Indonesia tidak tertinggal dalam bidang pendidikan, maka mari kita budayakan bersama-sama dan aplikasikan budaya literasi itu lewat membaca dan menulis. Walaupun awalnya sangat sulit untuk dilaksanakan, tapi ada pepatah yang mengatakan bahwa “bisa alah biasa”. So, mari kita budayakan baca-tulis dalam kehidupan kita, agar Negara yang kita cintai ini tidak tertinggal dan bisa mencetak jutaan karya tulis hasil karya anak bangsa. Bangsa Indonesia JJJ
0 comments

class review: “2014: Menjamah Kembali Dunia Writing”



“2014: Menjamah Kembali Dunia Writing”
(By: Endang Siti Nurkholidah)

Pada tahun ini, pada pertemuan kali ini dan pada semester ke 4 ini, tepatnya kita akan kembali menjamah zona yang penuh dengan tantangan. Tangtangan yang lebih berat dari sebelumnya. Jari jemari yang akan semakin bergoyang di atas kertas putih. Pemikiran yang akan diperas keras dari sebelumnya. Mata yang akan lebih jeli dari sebelumnya. Serta ide-ide brilian yang akan muncul lebih banyak dari sebelumnya.
WRITING ZONE!!!! Itulah zona yang akan kita jamah bersama-sama. Dunia dimana lebih banyak merangkai kata demi kata. Pada dunia writing kali ini akan berbeda dari sebelumnya, bahkan lebih super duper amazing. Karena tantangannyapun semankin meningkat, begitupun dengan levelnya.
Menjamah dunia writing yang sangat berliterasi memang sangat jarang sekali orang yang menyukainya. Hanya sebagian orang, bahkan hanya orang-orang terpilih saja yang menyukainya. Mungkin banyak sekali alas an mengapa orang-orang jarang menyukai menulis. Kemalasan salah satunya. Termasuk mahasiswa yang merasa menulis adalah sesuatu hal yang sulit untuk dijalani. Padahal pada zaman serba modern ini menulis sangatlah penting, karena untuk mendapatkan beasiswapun kita dituntut untuk bisa menghasilkan karya tulis seperti essay ataupun jurnal.
Menjamah dunia writing sepertinya diwajibkan bagi semua orang, apalagi bagi mahasiswa seperti kita ini. Seringkali kita sebagai mahasiswa dituntut untuk bisa menulis dan menghasilkan sebuah karya yang dapat kita banggakan.
Seperti yang telah bapak Chaedar Alwasilah utarakan bahwasannya sebuah literasi harus dimiliki pada setiap pribadi orang. Orang berliterasi sangatlah luar biasa dan jarang sekali literasi itu melekat pada semua orang. Maka dari itu, perlu kita ketahui bahwasannya menulis dan membaca termasuk pada bagian dari literasi. Membudayakan literasi pada
Dosen kita yang sangat super sekali pun mengatakan bahwa belum tentu orang yang pintar bisa menulis dan menghasilakn karya tulis. Akan tetapi orang yang bisa menghasilkan karya tulis ialah orang yang dapat disebut pintar dan luar biasa. Jadi literasi patut kita budayakan sejak dini, sebelum semuanya terlambat dan tenggelam oleh zaman yang serba modern ini.
Berlanjut pada pembahasan selanjutnya……
Pada pertemuan pertama writing 4 ini sedikit berbeda. Writing pada kali ini lebih condong ke academic writing yang memerlukan konsentrasi yang sangat besar. Pekerjaan dan perjuangan kami di writing 4 ini sudah dimulai dari sekarang. Kita disini dituntut untuk selalu mempersiapkan bekal dan mental untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sudah di depan mata, agar kita tidak tertinggal  dan terseret oleh tantangan itu.
Pada pertemuan pertama ini, kita seakan-akan baru terbangun dari tidur yang sangat lelap lalu dituntut untuk bersiap-siap berlari menghadapi rintangan yang ada dipelupuk mata. Mr Lala Bumela yang telah menyadarkan kami dari kenikmatan sesaat. Tentu saja kamipun siap menghadapi tantangan yang akan beliau berikan. As usual, Mr Lala memberikan SAP dan menjelaskan satu persatu point-point yang terpenting. Selain itu beliau menjelaskan aturan main dalam kelas writing ini. Tentu saja sudah tidak aneh bagi kami menghadapi aturan yang beliau terapkan.
Suasana kelaspun berubah seketika ketika Mr Lala memberitahukan posisi kelas kami (PBI A) yang menempati posisi terendah diantara kelas-kelas lain. Menempati posisi keempat yang hanya memiliki rata-rata nilai 69.05. sangat miris sekali tertinggal jauh dengan kelas lain. Tapi score itu menyadarkan bahwa kami harus menjaga kekompakan kelas dan mempertahankan mutu kelas kita yang sebelumnya berada diposisi atas.
Besides that, Mr Lala menjelaskan tentang A highlight on writing 4 course ini. Diantaranya bagaimana kita menulis pada second language dan ini merupakan tantangan terberat. Menurut beliau first language adalah pondasi kita untuk berbahasa asing atau ketika kita ingin menulis sebuah karya tulis dalam bahasa asing, alangkah lebih baiknya gunakan first language untuk mengembangkan ide-ide yang muncul dalam otak kitaa yang akan dituangkan dalam kary tulis itu. Jadi bisa dikatakan first language adalah pondasi untuk second language.
Seperti yang telah dikemukakan oleh Hyland pada tahun 2003 dan 2004 bahwasannya
“Even for those who speak English as a first language, the ability to write effectively is something that requires exensive and specialized instruction”
 Memang sangat benar sekali apa yang dikatakan oleh Hyland di atas. Pada dasarnya ketika kita terbiasa menggunaka sebuah bahasa, maupun itu bahasa asing. Pasti akan mempermudah juga untuk menulis atau menciptakan karya tulis yang baik dan berkualitas, meskipun menggunakan bahasa asing.
Well, tiba-tiba saya teringat pada pembahasan yang dituturkan oleh Mr Lala. Beliau mengatakan bahwa writing kali ini lebih condong ke academic writing yang bersifat lebih formal, impersonal, objective, systematic, evidence based dan akan terkesan kaku. Jadi pada academic writing ini tidak bisa menggunakan bahasa yang flowery seperti sebelumnya. Selain itu juga akan membahas bagaimana Antropologists on writing. Tentu saja aka menyangkut budaya-budaya yang ada dipenjuru dunia akan tetapi ada kaitannya dengan writing.
Memang dunia writing sangatlah luas dan banyak kaitannya dengan aspek-aspek lain. Seperti dengan antropologis yang membahas tentang budaya. Menjamah dunia writing sangatlah penting dan alangkah lebih baik sambil diamalkan bahkan dipraktekan dalam kehidupan. Writing sangatlah penting dan bisa membawa kita kepada dunia yang lebih terang dan berhaja. Writing juga dapat mempengaruhi segalanya. Dalam era ini semua penilaian bisa dilihat dari aspek writing juga. So, mari budayakan menulis, karena menulis dapat merubah dunia.
0 comments