Class review 2: Layar Menulis



2nd  Class Review
Layar Menulis
(By : Eva Khodijah)
Menelusuri jejak Writing 4 di episode kedua sangatlah menantang. Di episode kali ini, telah terjadi banyak scenes yang terekam di PBI-A pada hari Senin, 10 Februari 2014 bersama sang sutradara, Mr. Lala Bumela, MPd. Kami sebagai para cast terarah untuk mengikuti alur dan command yang diberikan Mr. Lala. Sejuta semangat tetap bergejolak dan senantiasa membara ketika writing itu datang menghampiri. Semua ini kami lakukan agar kami mendapatkan great moments and  the happy ending to our story in Writing 4.
0 comments

Class Review 2: Sang Ilmiah



Sang Ilmiah
Oleh Fatimah
            Complicated. Writing is so complicated. Memeng menulis bukanlah perkara yang mudah dan instan, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketekunan disamping pendidikan yang menunjang gaya bahasa dan isi sebuah teks. Menjadi penulis tidak secepat mearebus mie instan sekali celup jadi. Namun perlu adanya latihan yang intens, melewati dan merelakan tulisan kita di corat-coret oleh sang ahlinya. Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan menulis kita, karena kita dapat belajar dari teks yang telah di corat-coret tadi. Seperti proses bimbingan skripsi yang siap di beri tanda silang di atas kertas kita.
0 comments

Class Review 2: Hubungan batin yang tak terpisahkan



Hubungan batin yang tak terpisahkan

Apif Rahman Hakim
            Di kelas review yang kedua ini saya akan menjelaskan mengenai hubungan yang tidak terlarang antara penulis, pembaca, teks, konteks, dan makna. Dari Lehtonen (2007:74) seorang penulis buku “The Cultural Analysis of Text” bahwa dari writer-reader memiliki suatu hubungan di dalamnya berupa text, context, reader, writer dan meaning. Seorang pembaca menjadi sebuah penghubung dari formation of meaning, dan pembaca menjadi tempat di mana meaning tersebut dimiliki oleh text dan diserap kembali oleh reader. Text dan reader tidak akan pernah berdiri sendiri tanpa adanya hunbungan satu sama lain, akan tetapi membaca merupakan salah satu pilihan tepat karena seorang reader mencari teks atau wacna apa saja yang akan dibaca, dapat dengan cara mengelompokkan  berbagai wacna untk menambah wawasan pembaca (reader).
0 comments

Magical Version New Class Reviews

Magical Version New Class Review (class review 2)
BY: ASTRI RAHAYU

Dasyat!!  Itu adalah kata yang ada dibenak saya saat ini. Membuat sebuah class review yang bukan hanya menjadi ulasan kejadian pertemuan sebelumnya, tetapi membuat sebuah ulasan yang harus jauh lebih banyak menjelaskan “Mengapa itu semua terjadi dan tuangkan semua yang belum pernah dijelaskan?”  Dan pastinya berkaitan dengan semua hal yang dijelaskan oleh pelatih Writing kita, siapa lagi kalau bukan Mr.Lala Bumela yang mulai mengharuskan kita semua berkolaborasi dengan yang lainnya seperti dengan Lehtonen dan Hyland. Benar-benar sesuatu hal yang magic menciptakan Class Review versi baru, yang pastinya cita rasa yang ada didalamnya benar-benar sangat jauh berbeda dengan cita rasa class review sebelumnya.

“Big explanation from the writer more about what happen”. Dari statement tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa class review bukan hanya retell the last meeting, tetapi kita lebih banyak lagi apa yang terjadi dan memasukkan sesuatu yang baru didalamnya. Menciptakan taste yang benar-benar magic memang membutuhkan bahan-bahan yang magic pula. Saat ini, di pertemuan Writing yang kedua, 9th February 2014 adalah moment yang pas untuk mencoba menuangkan formula baru yaitu dengan berkolaborasi dengan Lehtonen dan Hyland di Class Review ini.

Di pertemuan kedua ini Mr.Lala menanyakan kepada saya dan teman-teman di kelas bahwa “Apa kalian mengerti apa yang berkaitan dengan teaching orientation?” kemudian kami semua menjawab, “Academic Writing”.  Jadi, setiap pemain di dalam pertempuran writing ini harus mengerti apa itu Academic writing?  Dan bagaimana sifat dan jenis-jenis Academic Writing?  Sehingga akhirnya kita menemukan benang merahnya yaitu Critical Review. Kemudian kita juga harus mengerti definisi Critical Review serta bagian-bagian apa saja didalamnya. Seperti dijelaskan oleh Mr.Lala tentang jenis-jenis Class Review ada yang disebut Critical Reader dan Critical Reader.

Sebelum saya menjelaskan masing-masing bagian yang terdapat di academic writing maka saya akan mengulas kembali bahwa academic writing itu bersifat formal, objective, systematic, analytical, dll. Academic Writing adalah essensial, penulisan harus kita lakukan di dalam program perkuliahan kita. Mungkin memiliki nama yang berbeda untuk assigments academic writing (esai, makalah, makalah penelitian, makalah, paper argumentatif / esai, analisis kertas / esai, kertas posisi), tapi semua assigments ini memiliki tujuan yang sama dan prinsip-prinsip. Selain itu academic writing memiliki sifat yang buruk yaitu bersifat kaku. Mengapa kaku?  Itu karenakan academic writing harus sesuai dengan data yang sebenarnya terjadi di lapangan, tidak bisa kita mengarang isi tulisan itu semau kita.

Sebelumnya sempat saya ulas sedikit tentang critical review. Ternyata critical review mempunyai sifat yang magic yaitu sebagai parameter dasarnya academic writing. Hal ini membuat saya terheran-heran awalnya. Kemudian, Mr.Lala menjelaskan bahwa ketika kita membaca sebuah bacaan, kita tidak boleh langsung memakan semua isi bacaan yang dibaca karena mungkin ada beberapa hal yang tidak benar atau tidak sesuai fakta di lapangan.

 “You will not free take”, sepertinya kita harus berhati-hati ketika kita membaca dan menganalisis sebuah bacaan. Itulah fungsi sebuah critical review dibutuhkan ketika kita melahap sebuah bacaan. kita tidak hanya membaca saja, tetapi kita harus melihat background dari isi bacaan tersebut. Kita harus membangun kemampuan untuk researching, evaluating information, organizing, arguing, responding to others arguments, analyzing dan expressing yourself clearly in writing. Langkah-langkah itu yang harus selalu kita ingat ketika membaca academic writing.

Nah, bagaimana caranya kita bisa mendapatkan background dalam suatu bacaan?  Kita harus meneliti terlebih dahulu bacaan tersebut, yaitu melalui “Research”. Research diperlukan karena dengan research kita bisa mengetahui dengan jelas bukan hanya background, tetapi juga dengan informasi-informasi yang kita dapatkan di dalam bacaan yang kita baca, contohnya sebuah buku. Kemudian, kita bandingkan dengan informasi-informasi lain di luar bacaan yang kita baca seperti informasi di internet.

Suasana kelas pagi itu semakin terasa panas, padahal waktu masih menunjukkan pukul 10.00. materi yang disajikan pagi ini benar-benar membuat di dalam  tubuh ini terjadi proses pembakaran. Bukan proses pembakaran yang terjadi karena kita makan, tetapi terjadi pembakaran di dalam otak saya ketika semua bahan-bahan yang disajikan oleh Mr.Lala harus saya buat menjadi masakan yang mempunyai taste yang dasyat dan berbeda. Pembakaran di dalam otak ini membuat saya semakin bersemangat untuk menyajikan masakan writing ini dengan cita rasa yang magic, yaitu membuat semua orang yang membaca tulisan saya bisa menikmati dengan senang dan selalu menunggu karya tulisan saya berikutnya. Benar-benar beliau membuat pertempuran di mata kuliah ini semakin sengit saja.

Suatu fakta yang baru saya ketahui setelah saya mendengar penjelasan dari Mr.Lala adalah writing bukan hanya menyampaikan pesan dan ekspresi, tetapi juga writing adalah:   
                     
                     A way of knowing something
Dengan menulis kita bisa mengetahui sesuatu jauh lebih jelas dibandingkan hanya dengan membaca saja. ketika kita menulis maka secara otomatis kita akan mencari informasi sedetail-detailnya sumber yang berkaitan dengan tulisan yang akan kita tulis. Kita mungkin mencari sumber-sumber tersebut dengan cara mengunjungi setiap perpustakaan-perpustakaan yang ada di kampus maupun online di internet. Semua itu membuat kita jauh lebih mengenal bacaan yang kita tulis ketimbang kita hanya menjadi reader saja.
             
      A way presentation
Menulis juga menjadi jalan untuk kita mempresentasikan sesuatu yang kita tulis di dalam buku atau bacaan. Contohnya ketika kita menulis buku tentang resep-resep masakan maka di dalam buku tersebut kita menulis tentang bahan-bahan makanan yang diperlukan serta langkah-langkah membuat makanan itu sehingga makanan tersebut berhasil dibuat oleh sang writer. Itu adalah tindakan kita sebagai penulis untuk mempresentasikan jenis makanan tersebut serta langkah-langkah membuatnya.  
   
 A way of reproducing something (object) yaitu information, knowledge dan experience.
Mengapa disini experience memasukkan lebih susah?  Dikarenakan experience membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak bisa kita hanya menulis tentang pengalaman kita selama sehari. Pengalaman adalah “the best teacher for us”.

 Hugo Hartig dalam tarigan (1986: 24-25) merumuskan tujuan menulis, terdiri dari :
1. Tujuan penugasan ,sebenarnya tidak memilki tujuan karena orang yang menulis melakukan nya karena tugas yang diberikan kepadanya
2. Tujuan altruistik,penulis bertujuan untuk menyenangkan pembaca,menghindarkan kedudukan pembaca,ingin menolong pembaca memahami,menghargai perasaan dan penalaranya,ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu
3. Tujuan persuasif bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan
4. Tujuan informasional penulis bertujuan memberi informasi atau keterangan kepada para pembaca
5. Tujuan pernyataan diri penulis bertujuan memperkenalkan atau menyatakan dirinya kepada pembaca
6. Tujuan kreatif penulis bertujuan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik,nilai-nilai kesenian
7. Tujuan pemecahan masalah penulis bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi

Menurut perspektif Mr.Lala kami adalah “A WRITER MULTILINGUAL”,mengapa demikian? Dijelaskan bahawa kami adalah seorang penulis yang mempunyai kemampuan menulis dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia (L1) dan bahasa Inggris (L2). Diharapkan bisa menulis dalam L1 dan L2 dengan efektif, yang berfungsi menjadi pembaca yang kritis baik di L1 maupun L2, yang bisa mengubah diri dari mahasiswa bahasa menjadi mahasiswa menulis, yang dapat membuat informasi pilihan dalam hidup dan merubah dunia.

Key Hyland dalam Second Language Writing (2003:9) Seorang guru menulis di Jepang ditandai pendekatan seperti ini: Saya mencoba untuk menantang siswa untuk menjadi kreatif dalam mengekspresikan dirinya sendiri. siswa belajar untuk mengekspresikan perasaan dan pendapat mereka sehingga orang lain dapat memahami apa yang mereka pikirkan dan ingin lakukan. Saya pernah mendengar bahwa masukan prosprective kadang tanyakan kepada siswa apa yang telah mereka pelajari di universitas dan beberapa telah menunjukkan karya mereka (dikutip dalam Cumming, 2003)
Dari perspektif ini, menulis dipelajari atau tidak jadi menulis adalah instruksi nondirective dan pribadi. Lebih jelasnya, menulis adalah cara berbagi makna pribadi dan menulis program yang menekankan kekuatan individu untuk membangun pandangan sendiri dan topik. Guru melihat bahwa peran mereka hanya untuk memberikan para siswa ruang untuk membuat makna sendiri dalam lingkungan yang positif dan kooperatif karena menulis adalah proses perkembangan, mereka mencoba untuk menghindari memaksakan pandangan mereka, menawarkan model, atau menyarankan topik sebelumnya.

Ada pendapat lain yang mengungkapkan bahwa cukup sederhana, melengkapi penulisan pemberitahuan dengan strategi penulis yang baik tidak perlu mengarah pada perbaikan (Polio, 2001). Selain itu, siswa tidak hanya membutuhkan bantuan dalam belajar bagaimana menulis, tetapi juga dalam memahami bagaimana teks dibentuk oleh topik, penonton, tujuan, dan norma-norma budaya (Hyland, 2002). Ini adalah informasi baru yang saya dapatkan.

 Dijelaskan pula Hoey (2001), seperti dikutip dalam Hyland (2004), mengibaratkan bahwa pembaca dan penulis adalah penari yang saling mengikuti satu sama lain. Setiap perakitan teks itu pasti mempunyai koneksi dengan teks sebelumnya dengan teks berikutnya, sehingga informasi yang disampaikan saling berkaitan satu sama lain.

Lehtonen juga tidak ketinggalan menganalisis hubungan antara teks, konteks, dan pembaca dalam pembentukkan makna. Sejalan dengan itu tak satupun unsur-unsur yang ada independen dari unsure-unsur lain, tetapi sebaliknya teks, konteks, dan pembaca memang memperoleh identitas mereka dari interaksi satu sama lain. Meskipun ketergantungan, tetapi teks, konteks, dan pembaca tidak identik dan tidak dapat dipelajari dengan cara yang sama.

Lehtonen jauh berpendapat bahwa teks dan pembaca tidak pernah ada secara independen satu sama lain, tetapi sebenarnya menghasilkan satu sama lain. Teks tidak tiba-tiba ada ketika ada pembaca tetapi pembaca ada ketika ada teks. Teks itu akan mati jika tidak ada yang membacanya karena salah satu fungsi teks tidak akan berjalan yaitu memberikan informasi.

Jadi kesimpulannya adalah menulis itu bukan hanya bisa menjadi media untuk  mengekpresikan apa yang kita rasakan, menginformasikan sebuah informasi tetapi menulis juga menjadi suatu proses perkembangan. Perkembangan diri menjadi sosok yang lebih kritis dan berliterasi. Menulis dan membaca adalah  modal awal dimana kita bisa mendekati perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cepat.

Keep write and consistence!!








0 comments

Chapter Review: Racikan Literasi Pemanis Bangsa



Racikan Literasi Pemanis Bangsa
Oleh Hadi Wibowo
            Tingkat kemajuan suatu bangsa tergantung pada tingkat literasi masyarakatnya. Negara yang tergolong maju mempunyai tingkat literasi masyakatnya tinggi, begitu pula sebaliknya. Adanya bahasa asing sebagai bahas kedua sangat mempengaruhi kemajuan bangsa tersebut. Selain untuk dapat berkomunikasi dengan negara lain tapi juga untuk  mengadaptasi ilmu yang telah ada, sehingga dapat dikembangan menjadi lebih baik lagi. Penguasan terhadap bahasa asing menjadi masalah yang turun-temurun. Beberapa ahli mengembangan metode yang terus-menerus diperbaiki dari waktu ke waktu.
0 comments

chapter review: Bukan Sekedar Rekayasa Biasa

Bukan Sekedar Rekayasa Biasa
(By: Alifah Rohmatilah)
Di era saat ini perkembangan ilmu teknologi sangat maju pesat. Perusahaan elektronik luar negeri menawarkan produksi elektronik smart seperti samrtphone, smartTV, dan smart-smart elektronik lainnya. Akan tetapi yang sangat miris yaitu masyarakat Indonesia ini yang tidak bisa memproduksi barang canggih yang memiliki nilai jual tinggi. Masyarakat Indonesia hanya sebagai konsumen saja, kapan akan memproduksi? Semua kembali pada persoalan pendidikan di Negara Indonesia, yang dari tahun ke tahun tidak pernah ada perubahan atau peningkatan yang derastis. Literasi menjadi bahan patokan untuk merubah bangsa indonesia ini menjadi lebih maju, serta mempunyai daya saing yang lebih tinggi dari Negara-negara lain.  Sudah saatnya membutuhkan perubahan, dan “Rekayasa Literasi “ berbicara.
Literasi menjadi perbincangan yang sangat intim, karena dunia literasi adalah dunia penolong bagi semua bangsa. Kini akibat perkembangan zaman definisis literasi terus bergeser mengalami perubahan dalam pembaruan makna. Buku yang berjudul “Pokoknya Rekayasa Literasi” (Chaedar Alwasilah, 2012) definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis (7th edition oxford advanced Learner Dictionary, 2005:898). Dalam konteks persekolahan Indonesia, istilah literasi jarang dipakai. Istilah yang sering dipakai adalah pengajaran bahasa atau oembelajran bahasa (setiadi:20100. Dalam KBBI istilah literasi tidak tercantu, tapi istilah yang ada  adalah literator dan literer. Akibat perkembangan zaman, pakar pendidikan dunia memunculkan definisi baru dengan menujukkan paradigma baru dalam memaknai literasi dan pembelajarannya. Beberapa definisi yaitu, literasi computer, literasi virtual, literasi matemtika , literasi IPA, dan sebagainya. Seiringan dengan perubahan paradigm literasi, Freebody & Luke menawarkan model literasi, yaitu memahami literasi, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks.
0 comments

Class Review I


BERBEDA BUKAN PEMBEDA!
(by. Endah Jubaedah)
Hari ini; langit tak melukis pelangi, liukan awan tak ingin membingkai, apalagi sang pencerah yang enggan menyapa hawa dingin.  Hanya mendung sedari pagi menyambut langkahku dengan nafas terengah-engah di anak tangga, perjalanan dalam sendiri ini  menuntutku menuju ruang kelas yang entah mengapa terasa asing. Tak ada rasa hangat dalam suasana, ataupun kehangatan ketika sapaan terlontar.  Dingin es dapat ku tahan, namun dingin suasana kelas sangat sulit tertahankan; bukan hanya sakit tapi melumpuhkan.  Lumpuh sudah hati ini dalam sendu yang tak kunjung berlalu; dari gejolak perasaan yang tertahan, dari kecaman jiwa yang terdiam, dan dari kawanan burung pembawa pesan naluriah mengabarkan kesedihan. 
0 comments