Class Review 9 :
“Detik-detik Terakhir dalam
Penentuan Masa Depan, Papua Barat”
(By : Hanifatus Sholihah)
Pagi
berjalan menggugurkan kegelapan malam. Sebuah tanda akan munculnya masa terang
serta perubahan bagi manusia yang bersungguh-sungguh. Manusia berpacu dengan
waktu, siapa cepat dia yang dapat, begitulah bunyi sebuah perumpamaan.
Hari
ini, tepat pada hari senin, tanggal 5 Mei 2014 pukul o9.oo seperti biasa, kita
sudah standby diruang 44 menantikan sesosok “extraordinary lecturer”
yaitu Mr. Lala Bumela yang paling saya segani dan saya idolai pula.
Kami
memulai kegiatan hari ini dengan melanjutkan diskusi mengenai seluk beluk
penelusuran “West Papua” dengan segala fakta-fakta mengagetkan (tidak
terduga). Sebelum melanjutkan diskusi hari ini, Mr. Lala memberikan perintah
untuk memperlihatkan paper class review dan juga brainstorming
argumentative essay yang telah kami buat. Beliau lalu membagi kedalam dua
kelompok, yang masing-masing kelompoknya berjumlah 12 orang.
Lalu
yang diperiksa oleh beliau adalah mengenai argumentative essay kami.
Hal-hal yang dinilai oleh beliau adalah mengenai apa yang harus ditulis di
introduction, apa yang menjadi main point yang akan digali dan
dikembangkan beserta fakta-faktanya serta apa yang pantas ditulis sebagai conclusion
sebagai akhir dari penulisan detail menyangkut masalah Papua.
Banyak
sekali (mistake) yang dilakukan oleh anak-anak kelas A yaitu mengenai main
body (thesis statement) yang akan menjadi main point yang akan dijelaskan. Kebanyakan
dari teman-teman ini menjadikan “natural resources” sebagai salah satu
alasan utama pada “main body” mengapa kita sebagai warga negara republik
indonesia harus tetap mempertahankan Papua. Jika kita menggunakan “natural
resources” sebagai alasan mempertahankan Papua sebagai bagian dari NKRI,
maka menurut Mr. Lala itu kurang tepat, dan akan menimbulkan pertanyaan is
it true? Karena walaupun Papua itu kaya raya akan kekayaan alam, apakah
kekayaan Papua ada dampak yang terasa pada diri kita? Lalu, pemikiran seperti
itu adalah suatu pemikiran yang salah, pemikiran materialisticts. Jadi, Mr Lala
memberi gambaran, ada beberapa point yang menjadi alasan Papua Barat harus
dipertahankan, yaitu:
1.
Political Dignity
Apa
itu maksudnya? Maksudnya adalah kita wajib atau sudah merupakan kewajiban kita
sebagai warga negara Indonesia untuk mempertahankan Papua utuh atau bernaung
dalam NKRI karena kita harus realistis, melihat ke belakang bahwa perjuangan
para pahlawan Indonesia di masa lalu memperjuangkan Papua, tepatnya merebut
Papua dari warga negara asing (khususnya Belanda) secara mati-matian, dengan
adanya perang yang berbentuk non kekerasan dan kekerasan dengan tujuan agar
Papua tetap di NKRI. Oleh sebab itu, kita harus tetap mempertahankan Papua
secara kita sudah bersusah payah merebut serta memperjuangkan Papua, lalu
dengan gampangnya kita rela melepaskan Papua dari NKRI?
0
comments